Berharap Petani Hutan Tak Lagi Termarjinalkan

PENGELOLAAN hutan yang melibatkan petani adalah sebuah simbiosis yang saling menguntungkan. Itu pula yang dilakukan Perhutani Unit III. Satu sisi, lahan dan tanaman hutan ikut terjaga, pada sisi lain, petani ikut menikmati keuntungan berupa nilai tambah. Mista adalah salah seorang petani yang memperoleh nilai tambah dari pengelolaan di lahan hutan kayu putih di Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Cikawung, Kab. Indramayu. Pendapatannya pada tahun 2010 malahan mengalami peningkatan, setelah pihak pengelola hutan KPH Indramayu melakukan penertiban.

Para petani yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), tak lagi dikenai sistem bagi hasil, tetapi cukup diwajibkan mengikuti instruksi teknis penanaman yang aman bagi tegakan-tegakan kawi putih. Bahkan, petani memperoleh penghasilan dari upah harian memetik daun kayu putih.

KPH Indramayu merupakan hutan sentra produksi kayu putih di samping kayu jati, dengan luas sekitar 40.000 hektare. Dari jumlah tersebut, 10400 ha dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk tanaman pangan, terutama padi.

Menurut Administratur KPH Indramayu, Budi Shohibuddin, penertiban cara bertani tersebut terbukti membawa banyak kemajuan tak saja bagi pengelola hutan, tetapi juga bagi petani. Selama setahun 2010 saja, total hasil penjualan padi yang dinikmati petani sebesar Rp 43 miliar atau kalau dirata-ratakan Rp 4 juta/hektare, walaupun penanamannya masih setahun sekali.

Wakil Administratur, Isnin Muharom menambahkan, KPH Indramayu saat ini tengah menunggu para petani pengelola lahan hutan ini masuk ke dalam daftar untuk mendapat alokasi bantuan dari pemerintah.

“Jika bimbingan teknis dan berbagai bantuan dari pemerintah semakin intensif, diharapkan para petani desa hutan semakin termotivasi berusaha tani dengan benar di kawasan hutan. Paling tidak, diharapkan petani desa hutan tak lagi merasa termarginalkan,” kata Budi senada Isnin.

Nama Media : PIKIRAN RAKYAT
Tanggal : Selasa, 28 Desember 2010/h. 24
Penulis : Kodar