Yang Kedua Buat Kosasih

ANS Kosasih, Top Ten Indonesia Best CFO 2010, tahun ini berhasil menempati peringkat kedua Indonesia Best CFO.  Sebagai Direktur Keuangan Perum Perhutani, Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta serta S-2 Keuangan dan Investasi IPMI ini mampu membangun sistem keuangan terpadu yang memenuhi standar good corporate governance dari Kelas BBB (kurang sehat) pada 2007 menjadi AA (sangat sehat) pada 2008, 2009 dan 2010.  Alhasil, sejak pengelolaan keuangan dipercayakan kepadanya pada 2008, laba bersih perusahaan 2008 dan 2009 naik empat kali lipat dibanding 2007 dan pada 2010 meningkat hampir tujuh kali lipat dibanding 2007.

Bergabung dengan Perum Perhutani pada 2008, Kosasih adalah salah satu sosok dibalik keberhasilan Perhutani melakukan financial engineering.  Dari pendapatan Rp 2,16 Triliun pada 2007 dengan laba Rp 51,48 miliar dan laba bersih Rp 39 miliar, tahun 2008 terjadi perubahan signifikan.  Dari sudut income kenaikannya tak jauh, yakni dari Rp 2,16 triliun menjadi Rp 2,31 triliun.  Namun, pelolehan laba meningkat empat kali lipat, dari Rp 51,48 miliar menjadi Rp 219,29 miliar dengan laba bersih Rp 164,14 miliar.  Tahun 2010, pendapatan mencapai Rp 2,79 triliun, laba usaha sebelum padak menembus Rp 325,45 miliar dengan laba bersih Rp 275,76 miliar.  “Profitnya yang naik.  Kami hanya membetulkan valasnya, transaksi bisnisnya, membuat sistem keuangan bagus,” paparnya.

“Pencapaian profit sampai tujuh kali lipat merupakan break through yang dihasilkannya,” ungkap Sughiarto yang juga Menteri BUMN Kabinet Indonesia Bersatu 2004-07.  Menurut Hasan, Kosasih mempunyai jurus-jurus yang memang harus orang keuangan yang mengerjakannya.  “Dia orang luar Perhutani yang mampu mengubah cara berifikir dan mengubah aturan main intern di Perhutani.  Dia mampu meciptakan nila capital expenditure yang sebelumnya tidak dimiliki.  Dia menciptakan nilai keuangan dari asset yang ada,” demikian komentarnya terhadap Direktur Keuangan Perhutani ini.

“Kalau sama sekali tidak mengerti finance, kita akan menjalankan bisnis denganngawur.  Sebaliknya, mengerti finance tapi tidak jeli ke mana arah bisnis perusahaan, kita tidak bisa action atas plan, membuat rencana keuangan bisa kacau,” ungkap Kosasih.  Perlu waktu lebih dari dua dasawarsa untuk mencapai pada pergulatannya hari ini. Pasalnya, sepanjang kariernya, ia lebih banyak berkutat di bidang penjualan.  Jejak karier pria kelahiran Jakarta 12 Juli 1070 ini bisa dilihat di PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia, Citibank NA, PT Nestle Indonesia, Group Orang Tua, serta PT Procter & Gamble Indonesia.  “Di tahun pertama, saya seperti juru kampaye mensosialisasikan kodnisi keuangan perusahaan bahwa kalau kami tidak melakukan apa-apa Perhutani bisa tutup,” ungkap Kosasih.

Sumber: Majalah SWA No. 13/XXVII/23 Juni – 6 Juli 2011, hal 90