Ekspedisi Pramuka di Hutan Payau

Tiga jam perjalanan yang menguras keringat di atas lautan. Terik panas sinar mentari memata-matai tepat di atas kepala sejak perahu bergerak dari dermaga Desa Cangkring Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu. Sedikitnya 45 Pramuka dan para pembinanya itu berkemah selama empat hari tiga malam di petak VIII Rutan Payau Perhutani KPR Indramayu. Keberangkatan setiap regu dari ke 26 kabupaten kota di Jawa Barat tak lepas dari bantuan KPR Perhutani di masing-masing daerah.

Suara mesin tempel meraung berlomba-lomba pada tiga perahu yang membelah perairan di muara Kedung Coet, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu. Pohon payau besar berjejer dengan cantik di hutan mangrove sepanjang muara. Biawak biawak berenang ketepian menghindari deru ombak yang terombang ambing moncong perahu kayu.

Butuh antusiasme besar untuk bertahan dalam perjalanan ekspedisi kecil mengitari hutan mangrove (bakau) itu. Dan, antusiasme besar itu tampak pada puluhan wajah muda para anggota Saka Wanabakti Jawa Barat Banten. Saat kawan kawan sebaya mereka memilih berlibur dengan bertamasya menguras uang, para anggota Pramuka itu berani memilih hal yang berbeda.

Dengan seragam Pramuka yang gagah, puluhan siswa SMA dari 26 kabupaten kota se Jawa Barat itu bergembira memulai ekspedisi di hutan payau dalam acara Kemah Konservasi Saka Wanabakti di Petak VIII Rutan Payau Perhutani 7 10 Juli 2011 di Muara Kedung Coet.

Sedikitnya 45 Pramuka dan para pembinanya itu berkemah selama empat hari tiga malam di petak VIII Rutan Payau Perhutani KPR Indramayu. Keberangkatan setiap regu dari ke 26 kabupaten kota di Jawa Barat tak lepas dari bantuan KPR Perhutani di masing-masing daerah.

Kegiatan itu dilakukan dengan pertimbangan realitas hitam yang mendera kondisi pesisir pantai, hampir di semua wilayah di Indonesia. Daerah pesisir pantai yang merupakan batas laut dan daratan kini semakin rusak terkikis abrasi akibat kerusakan hutan bakau yang berfungsi sebagai penahan dan penyangga ekosistem. Akibatnya, air tercemar, para nelayan sulit mencari ikan.

“Semua lapisan masyarakat punya tanggung jawab penuh terhadap keberlangsungan semua ekosistem, terutama ekosistem pantai,” kata Dadang Suparman, Sekretaris Saka Wanabakti Jawa barat yang menjadi pimpinan ekspedisi Kedung Coet.

Indramayu dipilih sebagai “arena” karena memiliki panjang garis pantai 114 kilometer, tetapi uga disertai kerusakan hutan mangrove secara masif. Sebagai informasi kondisi dan luas hutan mangrove (hutan bakau) di kawasan pantai utara di wilayah Kab. Indramayu semakin kritis. Dalam 20 tahun terakhir, luas hutan menyusut sampai 6 400 hektare karena pengalihan fungsi oleh masyarakat ataupun habis dikikis abrasi.

Data dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Indramayu menyebutkan, dari luas semula mencapai 8.000 hektare mangrove yang dimiliki di pesisir pantai utara kawasan Indramayu, saat ini hanya tersisa 20 persen atau sekitar 1.600 hektare mangrove yang berada dalam kondisi normal.

Aksi para Pramuka itu diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat umum untuk ikut mewujudkan zona pelindung (green belt) mangrove sepanjang 114 kilometer di garis pantai Indramayu secara khusus, dan pantai seluruh Indonesia secara umum, demi masa depan makhluk hidup tentunya.

Nama Media : PIKIRAN RAKYAT
Tanggal       : Senin, 11 Juli 2011/h. 18
Penulis        : Arif Budi K
TONE           : POSITIVE