Kuota impor beras 1,6 juta ton

Pemerintah menetapkan kuota impor beras mencapai 1,6 juta ton guna memenuhi stok bahan pangan utama itu di gudang Perum Bulog. “Pemerintah telah memberikan kuota impor itu kepada Bulog,“ ujar Menteri BUMN Mustafa Abubakar saat memberikan sambutan pencanangan program gerakan peningkatan produktivitas pangan berbasis korporasi (GP3K) di Desa Mandalawangi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, kemarin.

Saat ini, katanya, Perum Bulog sudah menandatangani kontrak pembelian beras dengan Vietnam sebanyak 500.000 ton. “Namun, kami berharap, tidak semua kuota itu direalisasikan. Apalagi ada program GP3K,“ tuturnya.

GP3K merupakan bentuk dukungan BUMN dalam rangka menggenjot produksi beras dalam bingkai program ketahanan pangan nasional. Targetnya dalam kurun waktu 2011-2015, surplus beras mencapai 10 juta ton.

Program ini melibatkan Perum Perhutani, PT Sang Hyang Seri, PT Pusri (Holding)–termasuk anak perusahaannya PT Pupuk Kaltim, PT Pupuk Kujang, PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Iskandar Muda–PT Inhutani, Perum Jasa Tirta I dan II serta PT Perkebunan Nusantara yang antara lain menyiapkan lahan baru untuk budi daya pangan secara tumpang sari berkerja sama dengan masyarakat.

Pada sinergi ini, petani, selain menyediakan lahan, juga menggarap, sedangkan BUMN melakukan pengawalan dan menyediakan modal pengolahan lahan, benih, pupuk dan pestisida.

Bayar panen Sementara itu, sumber pembiayaan direncanakan dari dana program kemitraan Rp 1,1 triliun, bina lingkungan Rp420 miliar, dan Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) yang totalnya mencapai Rp747,73 miliar.

Dalam program GP3K ini disiapkan lahan seluas 580.000 hektare secara nasional. Pemerintah akan memberikan dana kepada petani Rp3,7 juta per ha.

Pola kerja sama antara BUMN dan petani adalah bayar panen. Di mana seluruh kebutuhan sarana produksi petani dibantu dalam bentuk pinjaman natura dan innatura, dikembalikan atau dibayar petani setelah panen.

Menteri BUMN Mustafa Abu bakar mengatakan program GP3K diharapkan dapat menghasilkan 3,67 juta ton gabah kering giling atau setara dengan 2 juta ton beras.

“Sekitar 2 juta ton beras ini akan masuk ke gudang Bulog, Kalau gudang Bulog diisi 2 juta ton, impor yang seharusnya 1,6 juta ton dapat dikurangi 50%.”

Mustafa menjelaskan pada tahun ini program GP3K hanya dilakukan untuk satu kali musim tanam. “Pada akhir tahun ini, bisa panen 2 juta ton beras.”

Dia menegaskan beras program GP3K ini akan dibeli dengan harga pasar yang berlaku di pasar dan masuk ke Bulog.

Sementara itu, Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan Bulog akan menyerap beras dari program GP3K mengikuti kewajaran harga di pasar.

Menurut dia, kendala dalam penyerapan beras dari program GP3K adalah menghadapi kebiasaan tani yang lebih memilih menjual beras ke pasar dengan harga lebih tinggi.

Menjawab pertanyaan wartawan terkait dengan impor beras, dia mengatakan, pihaknya akan terus mengevaluasi kondisi dan stok beras di gudang Bulog bersama pemerintah. Karena harus menyesuaikan dengan penyerapan beras oleh Bulog yang masih berlangsung saat ini.

Oleh karena itu, Bulog baru melakukan kontrak impor beras dengan Vietnam sebanyak 500.000 ton, kendati kuota impor 1,6 juta ton.

“Ini (impor beras) dilakukan bertahap, kami sudah menyepakati impor beras dari Vietnam 500.000 ton. Ke depan kami akan melakukan evaluasi terus termasuk perkembangan pengadaan beras dari dalam negeri,“ jelasnya.(sepudin.zuhri@bisnis.co.id)

Nama Media : BISNIS INDONESIA
Tanggal       : Kamis, 28 Juli 2011, Hal. i2
Penulis        : SEPUDIN ZUHRI
TONE           : NETRAL