Menggenjot Produksi Melalui SL-PTT dan Benih Unggul Kedelai

Kebutuhan kedelai terus meningkat, Sebagian besar kebutuhan lokal harus dipasok dari impor. Paradigma ini harus diubah. Pemerintah canangkan program peningkatan produksi kedelai nasional dan menjadikan 2014 tahun swasembada kedelai. .

Badan Litbang Kementerian Pertanian gigih menghadirkan Varietas Unggulan Baru (VUB) kedelai yang berpotensi hasilkan panen lebih dari 3 ton/ha. Menteri Suswono mengajak para pelaku pertanian melirik potensi pasar yang masih sangat terbuka.

Angka Ramalan (ARAM) III BPS memperkirakan produksi kedelai tahun 2011 sebesar 870,07 ribu ton biji kering. Ini menunjukkan bahwa produksi tahun ini menurun sebanyak 36,96 ribu ton (4,08%) dibandingkan tahun 2010. Penurunan produksi kedelai diperkirakan terjadi karena turunnya luas panen seluas 29,40 ribu hektar (4,45%), sedangkan produktivitas diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 0,05 kuintal/hektar (0,36%).

Kebutuhan kedelai nasional memang terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan berkembangnya industri pangan dan pakan. Data BPS menunjukkan kebutuhan kedelai di Indonesia pada 2010 te1ah mencapai 2,3 juta ton sehingga sebagian besamya harus dicukupi dari impor. Maka upaya peningkatan produksi inilah yang menjadi perhatian pemerintah.

Menteri Pertanian Suswono mengimbau agar petani lebih mengoptimalkan penggunaan bibit kedelai varietas unggul.

Guna mengurangi ketergantungan impor, pemerintah mencanangkan program peningkatan produksi kedelai nasional dan menjadikan tahun 2014 sebagai tahun swasembada kedelai.

Upaya menggenjot produksi kedelai selama ini terkendala oleh keterbatasan lahan serta rendahnya motivasi menanam karena harga kurang menarik bagi petani. Karena lahan . terbatas, terjadi persaingan antar komoditas. Dan masuk akal jika petani akan memilih komoditas yang lebih menguntungkan secara ekonomis.

Menteri Suswono mengatakan, Kementan melalui Badan Litbang Pertanian senantiasa terus meningkatkan upaya untuk menghasilkan dan menyebarluaskan inovasi teknologi dan Varietas Unggul Baru (VUB), khususnya tanaman pangan, termasuk kedelai.

Hasil penelitian Badan Litbang Pertanian di beberapa lokasi menunjukkan bahwa teknologi varietas unggul kedelai yang dibudidayakan dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) mampu meningkatkan produkti vitas dan efisiensi biaya. Komponen teknologi unggulan PTT kedelai meliputi komponen teknologi dasar yaitu varietas unggul baru, benih bermutu dan berlabel, pengaturan populasi tanaman, pemupukan, pengendalian OPT dan komponen teknologi pilihan yang meliputi pengolahan tanah, pupuk hayati, pemberian pupuk organic ameliorant pada lahan masam, pengairan, panen dan pasca panen.

Sebagaimana diketahui, VUB memiliki peran strategis sebagai sarana pembawa teknologi baru, berupa keunggulan varietas dengan berbagai spesifikasi seperti produktifitas tanaman tinggi, tahan terhadap hama penyakit, umur tanaman lebih singkat serta keunggulan mutu hasil panen sesuai dengan selera konsumen.

Beberapa VUB diantaranya memiliki potensi produksi lebih dari 3 ton/ha dengan umur 76 – 93 hari seperti halnya VUB Grobogan, Anjasmoro, Argopuro, Argomulyo, Baluran, Detam 1, dan Wilis. Varietas tersebut diciptakan dengan mempertimbangkan potensi produktivitas juga adaptasinya terhadap cekaman lingkungan dan perubahan iklim serta preferensi petani. Ka Balitbang Haryono optimis produktivitas kedelai bisa ditingkatkan sampai mendekati target 2-3,2 ton per hektar. Perluasan tanaman dikejar dengan memanfaatkan lahan terlantar dan meningkatkan kerjasama dengan Perhutani melalui pola Pengelolaan Rutan Bersama Masyarakat (PHBM). Di bawah tegakan hutan jati, misalnya, petani Banyuwangi dapat merawat kedelai dengan produktivitas 1,7-2,0 ton per ha.

Melalui kerjasama pusat dan daerah, serta kemitraan dengan swasta, didukung kemauan konsumen dan pengrajinlindustri untuk menggunakan kedelai domestik, Mentan percaya produksi kedelai bisa ditingkatkan. “Apalagi jika petani mendapat insentif harga yang menarik,” tegasnya. Harga kedelai yang kompetitif adalah setara 1,5 kali harga gabah atau 2,5 kali harga jagung. (A-yd/dj) (INFORIAL)

Nama Media : SINDO / SEPUTAR INDONESIA, KORAN TEMPO, RAKYAT MERDEKA, SUARA PEMBARUAN
Tanggal         : Kamis, 10 November 2011
TONE             : POSITIVE

Tags: , ,