Program pangan korporasi belum tuntas

Prediksi produksi padi tahun ini yang sulit digapai justru memberi hikmah. Kini, secara keroyokan, banyak pihak ingin terlibat. Tekadnya, Indonesia tidak kekurangan pangan utama, beras.

Beberapa waktu lalu, misalnya, ada Gerakan Peningkatan Produktivitas Pangan berbasis Korporasi (GP3K). Program ini mulai Juni 2011 melibatkan sejumlah BUMN di antaranya PT Sang Hyang Seri, PT Pupuk Sri widjaja (holding), PT Pertani, Perum Perhutani, PT Inhutani, Perum Bulog, Perum Jasa Tirta I dan II. Sang Hyang Seri menyiapkan bibit unggul padi hibrida maupun non hibrida, bibit jagung, dan kedelai non hi brida bekerja sama dengan petani. Tidak tanggung-tanggung, target penanaman tahun ini 570.000 ha. 

Deputi Usaha Industri Primer Kementerian BUMN, Megananda Daryono mengatakan BUMN pangan dapat memberikan sumbangan terhadap produksi gabah 5,14% atau 3,63 juta ton gabah kering giling (GKG) dari target produksi nasional tahun ini berjumlah 70,6 juta ton GKG. Kontribusi BUMN ini setara dengan produksi beras 2 juta ton.

Menurutnya, program ini berjalan di 28 provinsi yang diperkirakan melibatkan 1,5 juta petani untuk bekerjasama dalam penyediaan lahan dengan BUMN terkait. Dana GP3K bersumber dari anggaran corporate social responsibility dan program kemitraan serta bina lingkungan BUMN. Termasuk target jumlah produksi 238.512 ton jagung dan produktivitas 4,56 ton per ha.

Eddy Budiono, Direktur Utama PT Sang Hyang Seri, mengatakan target produksi beras yang dihasilkan perseroan dari program GP3K mencapai 750.000 ton atau setara 1,5 juta ton gabah kering giling. Produksi ini dihasilkan dari luas lahan tertanam 221.316 hektare dengan produktivitas gabah 7 ton per hektare. Total produksi gabah yang dihasilkan 513.165 ton. Namun, melalui program GP3K, pengembangan benih hibrida baru 1% dari total luas areal tanam 13 juta ha.

Megananda mengatakan pola kerja sama BUMN dengan petani memakai skema bayar panen di mana seluruh kebutuhan dana produksi petani dibantu dalam bentuk pinjaman natura dan innatura, kemudian dikembalikan atau dibayar oleh petani setelah panen. Tahun depan, BUMN merencanakan perluas lahan dengan target lahan 100.000 ha yang terdiri dari PT Sang Hyang Seri 40.000 ha, PT Pertani mencapai 30.000 ha, dan Pusri Holding 30.000 ha.

Menampung Hasil
Sejauh ini, upaya itu berjalan aman-aman saja. Tidak ada hal yang perlu diragukan hasilnya. Jika boleh dikatakan masalah itu lantaran Perum Bulog enggan menampung hasil GP3K itu. Direktur Operasional PT Sang Hyang Seri (Persero) Maryadi mengatakan program peningkatan produktivitas pangan yang menjadi kewenangan perseroan itu sudah panen 22.168 hektare. Produktivitas rata-rata mencapai 5,6 ton per ha.

Produksi gabah kering giling yang dihasilkan dari panen 22.168 ha sekitar 125.000 ton. Menurut Maryadi, tidak semua hasil panen 125.000 ton itu diserap oleh Bulog. Padahal, sebelumnya, Perum Bulog telah melakukan kesepakatan untuk menyerap beras dan gabah dari program peningkatan produktivitas pangan berbasis korporasi itu.

Boleh jadi, ini karena Bulog tidak boleh membeli di luar HPP. Sebab, kalau mengacu pada pernyataan Mar yadi, gabah dan beras yang di beli oleh Bulog menggunakan harga pasar tidak berdasarkan harga pembelian pemerintah (HPP). Padahal, kata Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso, Bulog melakukan pengadaan beras dan gabah sesuai dengan Inpres No. 7/2009 melalui harga pembelian pemerintah. “Waktu itu kami mengacu Inpres No. 7/2009 dengan HPP beras Rp5.060 per kg dengan posisi broken 20%.” Namun, setelah keluarnya Inpres No. 8/2011 tentang Pangan, maka Bulog telah meningkatkan harga menjadi Rp6.500 per kg.

Pengadaan Bulog ini mengacu Inpres No. 7/2009 dan Inpres No. 8/2011 dengan 5 kali menaikkan harga beli gabah dan beras petani. Jadi, GP3K kini berjalan relatif mulus. Namun, kemulusan progam ini harus dituntaskan. Pasalnya, realisasi program GP3K ini sampai November 2011 baru 95,11% atau 542.126 hektare dari target penanaman tahun ini 570.000 ha.

Sementara itu, realisasi panen baru sekitar 159.010 ha dengan produksi gabah 1,03 juta ton dan produktivitas 6,54 ton per ha. Untuk lahan jagung, realisasi tanam 155.820 ha dari target seluas 174.00 ha, sedangkan realisasi lahan panen ba ru 33,6% atau 52.348 ha dari lahan tertanam. Adapun, target luas lahan program GP3K sampai September 2011 mencapai 585.217 ha dengan target produksi padi 3,68 juta ton.

Penuntasan ini menjadi penting. Lantaran, Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan pun menginformasikan produksi beras pada 2011 diperkirakan maksimal hanya 66 juta ton atau meleset 4 juta ton dari target 70 juta ton. “Angka ramalan tiga kemarin kan 65-an juta ton. Kalaupun dipaksakan selama 2 bulan—November s.d. Desember—bisa 66 juta ton,” katanya. Jauh sebelum itu, Badan Pusat Statistik mengumumkan produksi pangan seperti padi, kedelai, dan jagung pada tahun ini turun yang disebabkan penurunan luas panen. Produksi padi tahun ini berdasarkan angka ramalan III BPS, diperkirakan 65,39 juta ton gabah kering giling turun 1,08 juta ton atau 1,63% dibandingkan dengan 2010.

Nama Media  : BISNIS INDONESIA
Tanggal          : Senin, 28 November 2011, Hal. i2
Penulis            : SEPUDIN ZUHRI & MARTIN SIHOMBING
TONE               : POSITIVE

Tags: