Kerja Sama Indonesia-Korea Bangun Eco Education Forest

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan bersama Duta Besar Korea melakukan penanaman pohon di hutan Hambalang sekaligus peletakan batu pertama pembangunan eco education pada Kamis (8/12).

Selain itu, untuk memberi nilai manfaat pengelolaan hutan, akan dilakukan pelatihan sumber daya manusia terutama para mahasiswa dari kedua negara ini. Menurut Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan di Hutan Hambalang akan dibangun dan dikembangkan model pengelolaan dan pemanfaatan hutan berbasis “Eco-Edu Forest”.

Model pengelolaan dan pemanfaatan seperti ini merupakan jawaban atas kompleksitas permasalahan kehutanan yang dihadapi Indonesia saat ini. “Untuk itu saya menyambut baik penekanan pengembangan model Eco-Edu Forest ini yaitu pentingnya pengetahuan knowledge tentang hutan tropis melalui pelatihan sumber daya manusia terutama para mahasiswa dari kedua negara,” terang Zulkifli Hasan.

Menteri Zulkifli Hasan mengungkapkan, yang menjadi pemikiran Pemerintah saat ini adalah bagaimana seharusnya memformulasikan kebijakan pengelolaan sumber daya hutan untuk kepentingan ekonomi, kelestarian lingkungan, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim global. Peran hutan tropika tidak hanya menyerap dan menyimpan karbon,akan tetapi juga sebagai penyangga kehidupan manusia untuk menambah daya tahan terhadap resiko perubahan iklim saat ini dan yang akan datang. Oleh karena itu pihaknya sangat mengapresiasi adanya penyelenggaraan “Eco-Edu Forest”.

Sementara itu, dalam penyelenggaraan “Eco-Edu Forest” tersebut melibatkan berbagai pihak. Diantaranya Perum Perhutani, Fakultas Kehutanan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang terhimpun dalam wadah FORETIKA dan Association of College of Agriculture and Life Sciences Korea/Seoul National University.

Selain itu, Hambalang ini juga akan diarahkan sebagai laboratorium lapangan (field lab) untuk pengembangan International School Tropical Forest dalam rangka mendukung program AFOCO yang baru saja ditandangani oleh negara anggota ASEAN di Bali.

Dengan pemanfaatan yang demikian, Menteri Zulkifli Hasan optimis bahwa masa depan Hambalang akan sangat baik dan cerah. Karena selain aksesibilitas yang sangat baik, juga didukung oleh perguruan tinggi yang mempunyai reputasi dan integritas yang tinggi di setiap negara. “Oleh arena itu saya minta agat Hambalang ini dikelola dengan bijak dan profesional dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan terurtama masyarakat yang ada di sekitar kawasan Hambalang ini,” harapnya.

Selain itu, pohon yang akan ditanam, dijadikan sebagai pohon asuh sehingga keberhasilannya lebih terjamin dan dapat mengetahui perkembangannya, Oleh karena diharapkan pada semua pihak untuk menjadi pengasuh pohon demi kepentingan masa depan.

Menteri Zulkifli Hasan juga mengingatkan agar masyarakat sekitar mendapatkan manfaat langsung dari pohon asuh tersebut. “Masyarakat juga selayaknya mendapat manfaat dari pengembangan model EcoEdu Forest karena keberadaan hutan harus mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa mengganggu kelestarian hutan dan keseimbangan ekosistem,” tegas Menteri.

Sementara itu kerja sama Pemerintah Republik Korea dan Republik Indonesia di bidang kehutanan telah terjalin selama 32 tahun. Dimulai sejak tahun 1979 kerja sama ini diawali dengan pembangunan HPH, Industri Pengolahan Kayu dan pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI).

Kerja sama antar negara selama lebih dari 3 (tiga) dasa warsa tersebut, bukanlah waktu yang singkat. Di samping itu, kerja sama tersebut telah mencapai kemajuan yang signifikan. “Dalam cacatan selama kurun waktu ini, kerjasama kedua negara berjalan sangat baik, saling mengisi dan memperlihatkan kemajuan yang sangat berarti khususnya di bidang kehutanan,” ungkap Menteri.

Kemajuan tersebut terlihat dari semakin meningkatnya bentuk-bentuk kegiatan seperti meningkatnya kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, perbenihan tanaman hutan serta aktifnya pemerintah Korea memfasilitasi pihak swasta Korea untuk membangun hutan tanaman, dan industri energi biomassa.

Dalam kaitannya dengan budaya menanam pohon, Indonesia juga dapat belajar dari Korea yang begitu gigih melakukan penanam pohon secara masal. Dan sekarang, upaya itu telah tumbuh menjadi budaya menanam dan memelihara pohon. “Saya pribadi telah menyaksikan bahwa saat ini di Korea Selatan tidak ada lagi tanah kosong atau gundul. Ini adalah suatu keberhasilan yang harus dapat dijadikan contoh apabila kita ingin berhasil melaksanakan program rehabilltasi hutan dan laban,” jelas Menteri.

Dan, nampaknya success story tersebut sedikit demi sedikit telah menular ke Indonesia. Menteri menyontohkan di Pacitan tepatnya di Gunung Kidul masyarakat dapat menikmati keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan, “Di Gunung Kidul yang tadinya gersang sekarang hijau menghutan,” terangnya dengan bangga.

Namun Menteri Zulkifli Hasan mengakui bahwa budaya menanam ini belum terbentuk secara menyeluruh di Indonesia sehingga masih memerlukan upaya-upaya yang terus menerus oleh semua pihak.

Untuk itu Kementerian Kehutanan terus menerus melakukan gerakan menanam dan memelihara pohon. Sejumlah gerakan gerakan tersebut diantaranya Penanaman Pohon Serentak Indonesia, Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon, Kecil Menanam Dewasa Memanen (GPTPP), One Man One Tree, sampai Gerakan Satu Milyar Pohon (One Billion Indonesian Tress, OBIT).

Namun demikian, gerakan-gerakan tersebut dapat berhasil jika ada komitmen dari semua pihak. “Saya ingin mengingatkan kembali bahwa semua gerakan yang telah dicanangkan tersebut akan berhasil kalau kita mempunyai komitmen yang tinggi untuk menjadikan masa depan Indonesia yang lebih baik dan cerah,” kata Menteri Zulkifli Hasan.

SEPUTAR INDONESIA:: 9 Desember 2011, Hal. 23

Tags: