Bank Perkuat Modal Petani Lewat GP3K

Perbankan mulai terlibat dalam pengucuran kredit bagi para petani padi melalui Gerakan Peningkatan Produktivitas Padi Berbasis Korporasi (GP3K) pada tahun 2012. Hal ini dilakukan untuk memperkuat modal para petani masyarakat desa hutan, untuk meningkatkan produksi aneka jenis padi di kawasan hutan Perum Perhutani Unit III.

Kepala Biro Rehabilitasi Pengembangan Hutan Rakyat (RUPHR), Dadang Pratikto, di Bandung, Senin (4/6) mengatakan, bank yang terlibat dalam GP3K itu adalah BNI, dengan mengucurkan kredit bagi petani anggota Lembaga Desa Masyarakat Hutan (LMDH) sebesar Rp 6,5 miliar untuk tahun ini.

Dengan masuknya perbankan kepada GP3K, menurut dia, sekaligus menjadi sumber dana pinjaman bagi petani, yang semula tahun 2011 lalu masih dilakukan Perhutani. Bank tertarik membiayai GP3K karena LMDH dinilai cukup berdisiplin dalam mengembalikan kredit serta atas instruksi Kementerian BUMN.

la menjelaskan, tahun 2012 GP3K di kawasan hutan Perhutani Unit III ditargetkan 29.000an hektare dengan hasil panen 145.473 ton gabah kering pungut (GKP), di mana realisasi tahun 2011 133.883 ton GKP. Tahun ini, dikembangkan pemasaran hasil panen padi GP3K. Petani ditawarkan menjual ke Perhutani untuk dijual lagi sebagai produk beras huma. Selain itu, mereka bebas menjual ke Perum Bulog atau pasar bebas.

“Tujuannya agar para petani tak terjebak sistem ijon. Karena GP3K selain dimaksudkan mendukung cadangan pangan nasional, juga harus mampu meningkatkan penghasilan bagi petani,” ujar Dadang, senada Sekretaris Agus Dwi Nurjanto.

Dadang juga berharap, pelaksanaan GP3K memperoleh dukungan optimal dari instansi pemerintah daerah dan kabupaten, untuk bimbingan teknis bagi para petani. GP3K sendiri saat ini mulai dimasukkan ke dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) pupuk, bimbingan penyuluh lapangan, pengembangan dan uji coba benih baru, dll.

Sementara Kepala Biro Kelola Sumber Daya Hutan, Bambang Wuryanto, mengatakan, kepercayaan bank juga muncul di mana Perhutani berperan sebagai avalis atau penjamin. Walaupun, dalam GP3K lebih berperan sebagai penyedialahan, sedangkan sarana produksi pertanian, bimbingan teknis, dan lain, dilakukan oleh pihak terkait.

Kepala Seksi Trading (Perdagangan), Loedy, mengatakan produksi padi dalam GP3K juga dapat dikembangkan segmen pasarnya secara terencana. “Ada baiknya, pemerintah daerah melalui dinas kesehatan ikut terlibat membantu GP3K. Soalnya mereka berkompeten meraberikan edukasi atas manfaat berbagai jenis beras, baik untuk makanan umum, kualitas beras, segmentasi produksi, dan lain-lain,” ujarnya. (A81)***

PIKIRAN RAKYAT :: 5 JUNI 2012, Hal. 28