Kemarau, Produksi Susu Turun 10%

Musim kemarau berimbas pada produksi susu sapi perah di Kota Batu. Akibat kekeringan yang melanda sejumlah kawasan pakan ternak di Kota Batu, produksi susu sapi perah turun hingga 10%.

Ketua KUD Batu,Ismail Hasan menjelaskan, selama musim kemarau, peternak kesulitan memberi rumput segar kepada sapi.Biasanya,mereka memberikan rumput kering dan konsentrat. ”Waktu musim penghujan, rumput mudah didapat. Ratarata produksi susu yang ditampung KUD Batu dari peternak 22 ton per hari. Kini produksinya tinggal 20 ton saja,” ungkap Ismail,kemarin. Dia menerangkan, saat musim kemarau biaya perawatan sapi perah ikut naik 10-15% per ekor sapinya. Biaya tambahan itu untuk membeli tebon/ batang pohon jagung muda.

Terus untuk biaya transportasi saat mencari rumput ke luar Kota Batu. Menurut mantan kepala Desa Pesanggrahan ini, KUD Batu sudah berusaha membantu 1.500 orang anggotanya. Caranya membuka kerja sama dengan Perum Perhutani. Di bawah tanaman pinus di kawasan hutan produksi yang dikelola Perhutani ditanami rumput gajah. Rumput gajah ini untuk pakan sapi perah. “Sekarang ini supaya mendapatkan tebon dan jerami.

Peternak harus mencarinya hingga wilayah Jombang, Kediri, Blitar bahkan Surabaya di dekat bandara ,”imbuhnya. Untuk saat ini KUD Batu membeli susu dari peternak seharga Rp3.300-3.400 per liter. Susu segar dari peternak ini lantas dikirim ke pabrik PT Nestle yang berlokasi di Pasuruan. Sisanya yang 10% dikelola sendiri oleh KUD Batu untuk dijual ke masyarakat menjadi susu pasteurisasi.

”Soal kualitas susu tergantung makanannya juga. Meski diberi makan rumput kering, tapi kalau makanan tambahannya cukup banyak,susunya semakin baik pula,” imbuhnya. Untuk diketahui,selain Kota Batu sentra peternakan sapi perah di wilayah Malang Raya juga terdapat di Kecamatan Pujon, Kecamatan Ngantang, Kecamatan Turen,Kecamatan Gondanglegi, dan Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Litbang, Kementerian Pertanian, menyarankan, petani untuk menambah makanan tambahan dari rumput kering seperti Kaliandra kering.

Hasil penelitian menyebutkan, substitusi konsentrat dengan daun Kaliandra kering (calothyrsus) tidak meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi susu sapi. Rumput ini juga tidak berpengaruh pada berat badan sapi perah,tetapi memberi tambahan pendapatan bagi peternak sapi perah.Agar produksi susu meningkat dan memberi manfaat ekonomi, petani disarankan menggunakan daun Kaliandra sebanyak 20% sebagai pengganti konsentrat.

Peternak sapi perah di Desa/ Kecamatan Junrejo, Sadikin mengatakan, sekarang ini bersama teman-temannya sering mencari jerami ke wilayah Blitar. “Caranya kita menyewa truk untuk kita bawa ke Blitar. Selama satu hari kita mencari jerami di sawah. Sore harinya kita bawa pulang.Harapan kita harga susu naik. Supaya bisa mengurangi biaya perawatan sapi perah,”jelas Sadikin. ?maman adi saputro

Sindo :: Selasa, 11 September 2012