Efektivitas Patroli Trail

Kemerebakan penyakit masyarakat (pekat) acap mengincar wiyalah strategis, termasuk Kabupaten Kendal sebagai daerah penyangga (hinterland) Kota Semarang. Dengan pertumbuhan tinggi ekonomi, ketersediaan fasilitas seperti pelabuhan, jalan alternatif, dan kawasan ekonomi khusus (KEK) menjadikan wilayah itu rentan jadi jalur transit atau target dari kejahatan terorganisasi.

Secara geografis wilayah kabupaten itu terdiri atas pegunungan dan pesisir. Wilayah di tepi jalur pantura ini menyimpan berbagai risiko gangguan kamtibmas dengan tingkat kesulitan masingmasing, terutama menyangkut medan. Terkait upaya deteksi dan peringatan dini melalui penyelidikan, Polres Kendal terus berupaya mengatasi berbagai gangguan kamtibmas, termasuk penyakit masyarakat (pekat).

Salah satunya melalui patroli menggunakan motor trail (patrail), yang dianggap efektif untuk mencegah tindak kejahatan. Misi utamanya adalah memantau dan mengamankan situasi serta menyerap informasi dari berbagai sumber.

Efektivitas patroli trail dibuktikan ketika terjadi konflik antarwarga desa di Kecamatan Ringinarum beberapa waktu lalu. Waktu itu, sejumlah warga yang ketakutan bersembunyi di hutan jauh dari permukiman dan lokasinya sulit dijangkau kendaraan biasa. Namun patroli trail dibantu komunitas trail lokal bisa menjangkau lokasi itu dan menyelamatkan warga.

Pengalaman lain adalah ketika membantu PTP IX Kebun Merbuh dan Perhutani mengamankan wilayah hutan jati dan kebun karet yang sering disatroni penjarah getah getah dan pembalak liar. Dengan mengadakan penjelajahan hutan, patroli motor trail dapat meminimalisasi angka kejahatan di wilayah itu.

Pengalaman empiris itu membuktikan kebermanfaatan patroli trail, terutama di daerah rawan dan tak mudah dijangkau oleh patroli dengan kendaraan besar. Namun tidak mudah meningkatkan kualitas personel dalam melaksanakan patroli. Personel dituntut bisa mengenali tipe dan klasifikasi motor, serta mampu berkendara.

Penempatan personil yang kompeten, kematangan psikologis dalam bersikap dan berperilaku, penerapan komunikasi ramah sangat diperlukan untuk mendukung efektivitas patroli. Tentunya personel juga harus bisa cepat menyelesaikan perkara. Di tangan polisi yang matang secara psikologis dan bertanggung jawab mempergunakan senjata maka patroli bermotor trail akan makin efektif.

Kemitraan Masyarakat

Ke depan patroli trail akan diefektifkan untuk mengantisipasi kerawanan di daerah yang sulit dijangkau dan butuh kecepatan dalam penanganan sehingga masyarakat akan merasa aman dan nyaman beraktivitas. Tak hanya di wilayah Kendal, tapi juga wilayah lain yang memiliki kemiripan karakter geografis.

Ada berkah tersembunyi dari kegiatan patroli trail itu, yakni Polres Kendal bisa menjadi barometer secara lokal dalam hal kemitraan masyarakat. Beberapa kelompok masyarakat penghobi motor trail secara sukarela membantu tugas kepolisian, melalui Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM).

Kelompok masyarakat itu membentuk FKPM khusus otomotif atas kesadaran sendiri tanpa diminta oleh polisi. Bahkan secara berkala tiap tahun mereka mengadakan jelajah desa dengan tajuk Bhayangkara Trail Adventure. Manfaat yang bisa dipetik dari kegiatan itu adalah keterjalinan interaksi hangat antara personel Polri dan warga.

Secara tak langsung kegiatan itu telah membentuk sebuah jaring informasi. Didukung kemajuan teknologi maka komunikasi yang menginformasikan situasi terkini di wilayah anggota FKPM bisa terpantau lewat SMS gateway, yaitu program Polres Kendal yang diperuntukan sebagai wahana komunikasi dua arah antara polisi dan masyarakat.

Melihat efektivitas patroli bermotor trail, seyogianya tiap polsek yang memiliki wilayah kerja dengan medan yang sulit dijangkau, membentuk patroli trail. Pemberdayaan Forum Kemitraan Polisi Masyarakat juga akan mempercepat keterwujudan sinergitas antara personel polisi dan anggota masyarakat. (10)

— Kompol Maesa Sugriwo SIK, peserta didik Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah Polri Angkatan 53 Tahun 2013
Suara Merdeka | 22 Juli 2013 | Hal.7