Perhutani Bangun Pabrik Sagu di Papua

Koran Jakarta, Sorong Selatan | Proses pemancangan tiang pertama konstruksi pabrik sagu ini rencananya dimulai Oktober 2013.

Perum Perhutani berencana membangun pabrik sagu di Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat. Untuk rencana ekspansi tersebut, BUMN kehutanan tersebut telah siap mengucurkan dana investasi 120 miliar rupiah.

“Proses pemancangan tiang pertama konstruksi pabrik sagu ini rencananya dimulai Oktober 2013. Selanjutnya ditargetkan mulai beroperasi sekitar Oktober 2014,” kata Direktur Utama Perhutani, Bambang Sukmananto, di Jakarta, Jumat (27/9).Pada kesempatan itu, Menteri BUMN, Dahlan Iskan, melihat secara langsung persiapan pembangunan pabrik bahan makanan yang dalam bahasa Latin disebut dengan metroxylon sago itu.

Menurut Sukmananto, saat ini persiapan pembangunan pabrik sagu terbesar di Papua itu sedang dilakukan, dimulai dengan pemerataan permukaan tanah dengan peralatan berat. Saat beroperasi penuh, kapasitas produksi pabrik sagu ini mencapai 30.000 ton tepung per tahun.

Perhutani memperoleh konsesi lahan untuk tanaman pohon sagu mencapai 16.000 hektare di sekitar lokasi pabrik. “Kita sudah dapat izin areal konsesi lahan sekitar 16.000 hektare,” ujar dia.
Pembangunan pabrik sagu ini merupakan salah satu strategi BUMN menjaga ketahanan pangan nasional. Nantinya, pabrik sagu ini bakal memproduksi tepung sagu dan produk turunan, yang dipasarkan di Papua dan ke seluruh Indonesia.

“Potensi tanaman sagu di Papua mencapai sekitar 1,2 juta. Belum dimanfaatkan secara maksimal,” tutur dia.

Terkait pembiayaan, pabrik Perhutani mengucurkan dana mencapai 120 miliar rupiah. Sebesar 30 persen akan didanai dari modal sendiri, sisanya 70 persen dibiayai dari pinjaman perbankan.
“Pembangunan pabrik berkisar 120 miliar rupiah itu di luar power plant yang dibangun sendiri oleh PLN (PT Perusahaan Listrik Negara),” ujar dia.

Sinergi BUMN

Untuk pembangunan pabrik ini, Perhutani menggandeng BUMN seperti PLN dan PT Barata. PLN akan membangun power plant atau pembangkit untuk memasok listrik, sedangkan Barata menyelesaikan konstruksi bangunan pabrik sagu.

“Ini proyek Merah Putih. Karena biayanya mahal, maka BUMN turun tangan. Perusahaan tidak boleh rugi,” ucap Sukmananto.

Listrik dari pembangkit milik PLN nantinya juga dijual secara komersial. Sedangkan bahan baku power plant diambil dari kulit pohon sagu. Ant/E-11

Koran Jakarta | 30 September 2013 | Hal.10