Dorong Penggunaan Bibit Bersertifikat

Indopos, Jakarta – Kementerian Kehutanan mendorong penggunaan benih unggul bersertifikat untuk meningkatkan keberhasilan dan produktivitas pertanaman pohon. Lima jenis pohon yang benihnya wajib diambil dari sumber benih bersertifikat adalah jati, mahoni, sengon, gmelina, dan jabon.

Menurut Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, meningkatnya gairah menanam belakangan ini perlu didukung dengan penggunaan benih unggul. “Penggunaan benih unggul menjamin keberhasilan dan dan produktivitas tanajman,” katanya di Jakarta akhir pekan lalu.

Dia mencontohkan, dengan penggunaan benih bersertifikat, maka pohon sengon bisa dipanen hanya dalam waktu 5 tahun di mana per hektarenya bisa dihasilkan Rp 300 juta. Sementara tanaman jati yang berasal dari benili berkualitas bisa dipanen dalam vvaktu 10 tahun dan lalai di pasaran Rp 7 juta per m3. “Ini bukti nyata benih unggul bersertifikat bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.

Menhut sudah menerbitkah Surat Keputusan No 707/Menhut-II/2013 tentang penetapan Jenis Tanaman yang Benihnya Wajib diambil dari Sumber Benih Bersertifikat. Berdasarkan keputusan tersebut, benih pohon jati, mahoni, sengon, gmelina, dan jabon wajib diambil dari sumber benih bersertifikat.

Keputusan tersebut juga mengatur kegiatan yang berhubungan dengan penyediaan benih, pengedaran, dan penanaman untuk kepentinganpublik pada kawasan hutan yangmenggunakan lima jenis tanaman tersebut

Zulkifli mengingatkan, meski penggunaan benih bersertifikat tersebut didorong, ia berharap proses sertifikasi dan pemanfaatannya tidak menimbulkan biaya yang memberatkan bagi masyarakat. Untuk terus meningkatkan kualitas benih, Menhut juga meminta agar kegia tan pemuliaan terus dilakukan.

Dia juga meminta agar Perhutani dan BUMN Kehutanan lainnya bisa mendukung penyaluran sumberdaya genetik yang dimiliki untuk tujuan pemuliaan tanaman, khususnya jati dan pinus.

Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Kusnan Rahmin menyatakan penggunaan benih unggul sangat penting dalam pengembangan hutan tanaman industri. Penggunaan bibit unggul bisa meningkatkan produktivitas sehingga memperpendek waktu panen tanaman.

Saat ini RAPP memanfaatkan tanaman jenis akasia mangium dan akasia krasikarpa untuk dikembangkan di HTInya Memanfatkan benih imggul, RAPP bisa memanen kayu sebanyak 150200 m3 per ha dalam jangka vvaktu lima tahun. “Kami terus mengembangkan riset untuk meningkatkan produktivitas supaya panen bisa diperpendek menjadi 3.5 tahun saja,” katanya.

Dia menuturkan, menggenjot produktivitas tanaman menjadi pilihan untuk meningkatkan produksi bahan baku kayu bagi industri pulp. Apalagi, sampai saat ini RAPP juga belum memiliki rencanaUntuk mengajukan permohonan perizinan baru HTI untuk ekstensifikasi areal penanaman.

Dia menambahkan, kualitas benih yang dihasilkan RAPP sudah diakui dunia. Hal itu dibuktikan dengan diekspomya benih yang dihasilkan ke China dan Malaysia “Dengan diterimanva benih RAPP di Malaysia dan China maka kualitas benih dari Indonesia telah diakui dunia,” ujar Kusnan Saat ini RAPP menghasilkan 200 juta bibit setiap talumnya dari pusat pembibitan di Pelalawan, Pangkalan Kerinci, Baserah dan satellite nursery yang tersebar di area konsesi perusahaan. Kapasitas ini cukup menampung kebutuhan penanaman yang dilakukan perusahaan sekitar 500 ribu pohon setiap hari. (lum)

Indopos | 18 Nopember 2013 | Hal. 3