Alumni IPB Tanam Pohon di Ciwidey

KUALITAS lingkungan di sejumlah daerah terus menurun. Akibatnya, warga terus-menerus menuai bencana. Kondisi itulah yang membuat alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan ke-15, atau yang menyebut diri Ambissi IPB 1978, datang ke Kecamat an Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Tidak dengan tangan kosong, tentunya, karena mereka datang untuk menggelar sejumlah kegiatan nyata. Ada ratusan pohon dan puluhan burung yang dilepas alumni di Ranca Upas, salah satu kawasan hutan di Ciwidey. “Dari segi jumlah, kegiatan ini mungkin tidak terlalu berpengaruh langsung terhadap lingkungan. Namun, bagi kami ini upaya menggugah kesadaran untuk berbuat bagi lingkungan,” papar Ketua Ambissi Nurcahyo Adi. Kegiatan yang juga digelar dalam rangka reuni 35 tahun IPB angkatan 1978 mendapat dukungan Perhutani Jawa Barat dan PT Perkebunan Nusantara VIII.

Mereka menanam pohon jenis damar atau A gathis dammara, serta melepaskan burung cangkakak, jalak, dan koak. “Kami berharap kegiatan ini tidak hanya seremonial belaka, tapi bisa berlanjut sebagai sebuah gerakan,” papar Kepala Dinas Kehutanan Jawa Barat Budi Susatyo. Saat pemulihan lingkungan digalakkan, di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, perusakan lingkungan terus dilakukan pengusaha tambang galian C di lereng Gunung Merapi, Kecamatan Kemalang.

Penggalian tidak lagi dilakukan secara tradisional, tapi sudah menggunakan alat berat berupa backhoe. Aktivitas itu dipergoki Tim Pengendalian dan Penertiban Pertambangan Nonlogam Klaten di sekitar Kali Woro. Tim yang dipimpin Kabag Perekonomian Pri Harsanto itu menemukan tiga backhoe tengah beraksi di aliran sungai.

“Penambangan pasir di Kali Woro dilarang menggunakan alat berat. Pasir boleh diambil secara manual,” tuturnya. Kendati mendapati alat berat, tim tidak bisa berbuat banyak karena pemilik dan operator tidak ada di tempat. Mereka hanya mendapati beberapa penambang tradisional. Penambangan di Kali Woro tidak boleh dilakukan secara besar-besaran karena bisa merusak lingkungan sungai, yang menjadi saluran lahar dingin Merapi.

Sumber   :  Media Indonedia, Hal. 9
Tanggal   :  2 Desember 2013

Tags: