Jabungan Hasilkan Temulawak 600 Ton/ Tahun

Penerima Piagam Ketahanan Pangan

Suara Merdeka, Semarang – POTENSI temulawak dan kunyit di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik cukup besar dan berkualitas. Dalam kurun waktu satu tahun, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Manikmoyo, Kelurahan Jabungan mampu menghasilkan 600 ton temulawak dan 300 ton kunyit.

Seratusan orang yang tergabung dalam gapoktan itu secara turun-temurun menggantungkan hidupnya dengan menanam tanaman rempah dan obat-obatan tersebut.

Berdasarkan data Kecamatan Banyuma­nik, areal tanaman temulawak di Jabung­an seluas 17 hektare, sedangkan luasan kunyit 15 hek­tare. Sejumlah universitas di Indonesia per­nah mengakui kualitas temula­wak dan kunyit di kelurahan tersebut bagus.

Berkat eksistensinya, Gapoktan Manik­moyo pernah mendapatkan piagam keta­han­an pangan dan tali asih Rp 17 juta dari Menteri Pertanian (Mentan) Suswono di Jakarta, tepatnya 15 Desember 2009.

Ketua Gapoktan Manikmoyo, Jabungan, Sumono (70) menyatakan, lahan yang digunakan untuk menanam ini bervariasi, ada milik petani sendiri, Perum Perhutani Unit I Jateng, dan seorang pengusaha asal Bukitsari, Semarang. “Tanaman temulawak dan kunyit ini ditanam turun-temurun oleh masyarakat Jabungan, sejak zaman Kemerdekaan RI. Hasil panen temulawak pada 2012 lalu mencapai 600 ton, sedangkan kunyit 300 ton,” tandasnya.

Dalam kondisi basah, temulawak dijual Rp 2.500/ kilogram, sedangkan kunyit Rp 3.000/ kilogram. Menurut dia, hasil panen itu bisa dijual lebih mahal apabila dikemas dalam bentuk simplisia atau telah dikeringkan dan dipotong tipis-tipis. Simplisia temulawak dijual Rp 6.000/ kilogramnya, sedangkan simplisia kunyit Rp 12.500/ kilogram.

“Untuk simplisia temulawak dan kunyit, masyarakat Jabungan banyak menjualnya ke pabrik jamu di Solo dan Cilacap,” ungkapnya.

Di sisi lain, kedua simplisia ini ada yang dipasok ke Asosiasi Ngudi Waras Sejahtera Semarang untuk dibuat produk jadi berupa jamu seduh instan. “Jamu seduh ini dipasarkan di Jateng, Jatim dan sejumlah provinsi di Kalimantan,” tandasnya.

Penyuluh pertanian Kecamatan Banyumanik, Mudjiyono menyatakan, Gapoktan Manikmoyo juga pernah meraih piagam ketahanan pangan di era Gubernur Bibit Waluyo. Meski potensi sudah tergarap sejak lama, namun Manikmoyo baru tersentuh pembinaan dari pemerintah Kota Semarang pada tahun 2000.

“Pernah ada pembinaan melalui Sekolah Lapang (SL), petani diberikan pengetahuan baru, dari mulai menanam, merawat, memanen, dan pascapanen. Hasilnya luar biasa, produksi temulawak berkisar 20 ton per hektare sebelum ada SL, selanjutnya meningkat setelah ada bimbingan yaitu jadi antara 35 hingga 40 ton per hektare,” katanya.

Lurah Jabungan Edris mengaku bangga dengan hasil kerja keras masyarakatnya. Keberhasilan di bidang ketahanan pangan ini mampu mengangkat Jabungan di tingkat nasional.

Berbekal prestasi tersebut, produksi tanaman rempah dan obat di Jabungan kini sering dilirik sejumlah masyarakat luar daerah maupun provinsi. Tak jarang pula, Jabungan menjadi lokasi studi banding bagi pemerintah daerah seperti Boyolali, Riau, dan Kalimantan Barat. (Royce Wijaya SP-39)

Jurnalis : Royce Wijaya SP
Suara Merdeka | 11 Desember 2013 | Hal.21&31