Teknik Guludan Mampu Perbaiki Hutan Bakau

Pelita, Bogor – Institut Pertanian Bogor menggandeng Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, guna merehabilitasi hutan mangrove (bakau) di sepanjang kawasan Pantura provinsi tersebut. Guru Besar Ekologi dan Silvikultur Mangrove Fakultas Kehutanan IPB Prof Cecep Kusmana, Selasa, di Bogor menjelaskan kedua pihak memiliki pandangan sama tentang mendesaknya rehabilitasi areal hutan mangrove yang berada di sepanjang kawasan Pantura Jabar.

Kawasan itu, yakni di Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, Kabupaten Indramayu, dan Kabupaten Cirebon. “Areal hutan mangrove di sepanjang kawasan pan- tai utara Jawa Barat dalam kondisi rusak. Sebagian telah beralih fungsi menjadi lahan tambak. Rencananya, IPB dan Dinas Kehutanan Jawa Barat akan melakukan rehabilitasi hutan mangrove yang sudah rusak itu,” katanya. Menurut Cecep Kusmana, terkait hal itu pada Selasa (25/11) IPB bersama Dinas Kehutanan Jabar menggelar sosialisasi “Teknologi Inkubator Mangrove (Teknik Guludan) untuk Rehabilitasi/Restorasi Kawasan Mangrove yang Rusak” di Bandung.

Kegiatan tersebut dihadiri para pemangku kepentingan terkait, yaitu perwakilan Dinas Kehutanan Jawa Barat dan kabupaten, Dinas Perkebunan/Pertanian dan berbagai kabupaten, Dinas Kelautan dan Perikanan dari berbagai kabupaten, Perum Perhutani, dan BPDAS. IPB dan Dishut Jabar rencananya menggunakan teknologi “guludan” dalam merehabilitasi kawasan hutan mangrove yang rusak. Teknologi itu diyakini sebagai solusi yang tepat guna menghijaukan kembali mangrove di kawasan yang kini telah digenangi air pasang akibat usaha tambak.

Ia menjelaskan keberhasilan IPB merehabilitasi kawasan mangrove dengan teknologi “guludan” di sepanjang Pantai Indah Kapuk (PIK) dan pantura Jakarta, memberikan inspirasi untuk menerapkan teknik yang sama dalam merehabilitasi hutan mangrove di sepanjang pantai utara Jabar. “Kami berupaya membantu Pemprov Jabar dalam merehabilitasi kawasan hutan mangrove yang rusak di sepanjang kawasan pantura.

Inovasi `guludan’ dapat dijadikan sebagai solusi dalam menanam kembali mangrove di kawasan yang telah tergenang air dan tidak pernah surut,” katanya. Inovasi “Guludan” Teknologi “guludan” merupakan penemuan tim peneliti Fakultas Kehutanan IPB, yakni Prof Cecep Kusmana, Dr Istomo, dan Tarma Purwanegara. Tiga peneliti Fahutan IPB itu membukukan hasil penelitian mereka dengan judul “Teknik Guludan Air Tenang (TGAT) Untuk Penanaman Mangrove di Lahan Terendam Air Da:lam Berarus Tenang: Manual Teknologi Tepat Guna”, yang disponsori Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008, dan menjadi hasil penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPB.

Teknologi tersebut sejak tahun 2005 telah diujicobakan untuk merehabilitasi jalur hijau dengan tanaman bakau di sepanjang jalan tol Sedyatmo, Jakarta Utara, yang merupakan program dan Dinas Pertanian dan Kehutanan Pemerintah Provinsi DKI-Jakarta Jalur hijau tersebut membentang sepanjang 5 km dengan lebar 200 meter mulai dan pintu tol Muara Angke sampai dengan jalan layang (fly over) Cengkareng.

“Sebagian dari kawasan yang rusak tersebut berupa tapak-tapak khusus yang tidak bisa secara langsung ditanami mangrove. Dengan inovasi teknologi `guludan’ ini tapak khusus tersebut dapat ditanarni mangrove,” katanya. Teknik “guludan”, kata Cecep, cara kerjanya yakni di antara tapak-tapak khusus dimaksud adalah lahan yang terendam air yang dalam –kedalaman air antara satu meter hingga dua meter- -yang sebagian besar ditemukan sebagai hamparan lahan tambak yang terlantar ditinggal penggarapnya. (ant/zis)

Harian Pelita | 04 Desember 2013 | Hal. 9

Tags: