Hulu Ciliwung Muilai Digarap

Seputar Indonesia, BOGOR — Salah satu pemicu utama banjir Jakarta adalah kiriman air dari wilayah hulu Sungai Ciliwung. Karena itu, pencegahan banjir di hulu menjadi salah satu prioritas yang mulai dikerjakan Sebagai langkah awal pencegahan banjir dan longsor di kawasan Puncak, Bogor, kemarin Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) bersama Bupati Bogor H Rachmat Yasin (RY) menanam 10.000 pohon.

Penanaman pohon ini dilakukan di areal seluas 800 hektare di wilayah sekitar Situ Cisaat di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Jokowi mengatakan, penanamanpohon merupakan langkah awal untuk mengembalikan kawasan Puncak sebagai daerah resapan air.

“Ini keseriusan kita, Pemprov DKI dan Kabupaten Bogor untuk mencegah banjir di Jakarta. Penanaman pohon diharapkan bisa mengembalikan kawasan hulu Sungai Ciliwung sebagai wilayah resapan air,” ujarJokowi. Penanaman pohon ini juga melibatkan berbagai komunitas, termasuk Perhutani dan masyarakat setempat.

“Untuk perawatan pohon kedepannya, kita melibatkan komunitas dan masyarakat untuk menjaga pohon itu agar tumbuh tinggi,” katanya. Bupati Bogor RachmatYasin mengatakan, selain menanam pohon, Pemkab Bogor juga su dah melakukan upaya lain untuk mengembalikan kawasan Puncak sebagai wilayah resapan. Salah satunya pembongkaran vila dan bangunan liar.

“Kita awali dengan pembongkaran vila dan bangunan liar yang sudah dilakukan sejak November 2013 lalu. Lokasi bekas vila dan bangunan liar akan dikembalikan menjadi kawasan resapan air sehingga hujan di hulutidaklangsungmengalirke Sungai Ciliwung,” ujarnya. Menurut RY, pembongkaran vila yang dibangun di atas lahan milik negara dan kawasan konservasi ini merupakan bentuk langkah tegas Pemkab Bogor dalam menindak para pelanggar.

“Sedangkan untuk penjaga vila yang notabene warga saya, kita sudah membuat program untuk mengembalikan mereka menjadi petani sehingga mata pencahariannya tidal( terputus,” tutur RY. Selain menanam puluhan ri- bu pohon, langkah penanggulangan banjir di kawasan hulu dilakukan dengan membuat waduk raksasa di Kecamatan Megamendung, tepatnya di Desa Cipayungseluas107hektaredan di Desa Sukamahi 24,8 hektare. Menurut RY, lokasi waduk di Desa Cipayung berupa lembang, tanah pertanian dan rumah warga.

“Tidak banyak rumah warga yang terkena proyek waduk ini. Nantinya air Ciliwung dari hulu akan disodet untuk dialirkan ke waduk ini sebelum mengalir ke Jakarta sehingga debitnya bisa dikontrol,” paparnya. Dengan dibangunnya waduk, banyak manfaat yang bisa diperoleh. Pertama, sebagai lokasi penampungan air yang diperkirakan mencapai 60 juta meterkubik, dimanaketinggian bendungan mencapai 60 meter denganluas 100 hektare. Manfaat kedua, waduk ini bisa menjadi sumber energi karena akan dibangun pembangkit listrik tenaga air (P’LTA), serta menjadi penyuplai air bakuke Jakarta dan sekitarnya. Camat Megamendung Hadijana menjelaskan, di Desa Cipayung ada 147 keluargayang akan terkena gusuran proyek waduk.

Sedangkan di Desa Sukamahi ada sekitar 130 keluarga. Banten Tak Mampu Atasi Banjir Pandeglang Pemprov Banten mengaku tidak mampu mengatasi banjir -yang terjadi di Kabupaten Pandeglang akibat meluapnya Sungai Cilemer setiap tahun. Alasannya, program penanggulangan banjir yang dilakukan hanya untuk mengurangi dampakbanjir. Kasubbag Program Evaluasi dan Pelaporan Dinas Sumber Daya Air dan Permukirnan (DSDAP) Banten Isvan Taufik mengatakan, revitalisasi Sungai Cilemer yang dilakukan Pemprov Banten diprogramkansejak2011-2016.Darihasil kajian yang dilakukan, penyebab meluapnya air Sungailemer karena kondisi geometrik sungai yang berkelok.

“Sungai berkelok kecenderungannya banjir, jadi yang paling pas untuk mengatasinya membuat tanggul,” terang Isvan Taufik kemarin. Pemprov Banten juga pernah merencanakan untuk membuat waduk. Namun, program tersebut tidak bisa terlaksana karena harus membebaskan banyak lahan warga. “Jadi banjir bukan dihilangkan, tapi direduksi,” katanya. Pembuatan tanggul, menurut Isvan, tidak bisa disamaratakan, tergantung kondisi wilayak.

” Tanggul juga ada beberapa tipikal, ada yang cukup menggunakan tanah, ada yang pakai bronjong, dan ada yang harus dibeton,” tuturnya. Seharusnya program penanggulangan banjir sudah bisa selesai pada 2014 ini, namun karena sebagian anggaran digunakan untuk pembangunan gedung-gedung perkantoran, akhirnya proyek banjir belum terselesaikan. Terkait banjir di Kota Serang yang kian menjadi, menurut Isvan, pihaknya bersama satuan kerja Penyehatan Pemukiman dan Pekerjaan Umum Kota Serang sudah pernah membuat master plan untuk mengatasinya.

“Sudah ada juga program pembangunan bendungan Sindangheula. Kita akan bertemu Kementerian PU untuk mengajukan alokasi anggaran pembangunannya,” katanya. Pemprov Banten pada tahun ini telah menganggarkan Rp59 miliar untuk meminimalisasi banjir. Anggaran tersebut akan digunakan untuk normalisasi sungai dan pembebasan lahan di sekitar aliran sungai.

Kepala Bappeda Banten Widodo Hadi mengatakan, anggaran tersebut dikelola Dinas Sumber Daya Air dan Pemukiman (DSDAP). Rinciannya, untukpembebasan lahan Sungai Cilemer di Pandeglang sebesar Rp9,5 miliar dan untuk normalisasi Sungai Cilemer Rp35 miliar. “Target pembebasan lahannya 30 hektare, dan untuk target normalisasi sungai hanya enam kilometer,” terangWidodo. • haryudi/ teguh mahardika

Seputar Indonesia | 05 Februari 2014 | Hal. 12

Tags: