Perhutani Sasar Industri Nonkayu

Suara Merdeka, GROBOGAN – Perum Perhutani Jateng akan fokus mengembangkan industri nonkayu pada tahun 2014. Hal itu sesuai dengan potensi yang dimiliki dan banyaknya pasar penerima hasil produksi.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Biro Perencanaan dan Pengembangan Perusahaan Perum Perhutani Divisi Regional Jateng, Widianto seusai menghadiri sertijab tiga administratur Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) perhutani di Pendopo Pemkab Grobogan, Kamis (13/2). Widianto menjelaskan fokus pengembangan akan dimulai dengan pemisahan struktur organisasi dalam waktu dekat.

Unit pengelolaan akan diganti dengan divisi regional untuk pengembangan usaha. ”Kalau Jawa Barat memang fokus ke pengembangan tempat wisata di daerah milik Perhutani. Mereka memiliki kondisi alam yang mendukung. Tapi kalau Jateng tidak. Kami fokus ke industri nonkayu,” tutur Widianto. Industri yang ia maksud adalah olahan hasil produksi pohon yang ada di lahan milik Perhutani di Jateng. Diantaranya getah pinus, minyak kayu putih sampai produksi cat. “Untuk itu Perhutani Jateng menargetkan memiliki 20 rbu hektare lahan pinus produktif,” kata dia.

Keuntungan Untuk pengelolaan, selain menyiapkan teknologi pihaknya tetap bekerjasama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Kemitraan dengan LMDH merupakan prinsip. “Jadi Perhutani dan masyarakat sama-sama memperoleh keuntungan,” imbuh Widodo.

Masyarakat sekitar hutan bisa ikut memanfaatkan sela-sela pepohonan untuk tanaman palawija atau empon-empon. Di Grobogan, pada 2012 ada 4.000 hektare lahan dengan hasil Rp 40 miliar dan tahun 2013 ada 2.500 hektare dengan hasil Rp 22 miliar. Dalam sertijab tersebut, Administratur (Adm) KPH Pati Prihono Mardi kini menjabat sebagai Adm KPH Purwodadi.

Pejabat lama, Gunawan Catur, kini menjadi Adm KPH Gundih. Sementara Roberto P Esdyanto yang sebelumnya menjabat Adm Gundih kini menjadi Kepala Biro Analisa Kebijakan dan Penggunaan Kawasan Kantor Pusat. Bupati Bambang Pudjiono mengatakan peran perhutani sangat signifikan pada pembangunan daerah.

Salah satunya melalui pembayaran Provisi Sumber Daya Hutan Rp 3,8 miliar pada dua tahun terakhir. ”Perum Perhutani KPH Gundih dan Purwodadi juga memberikan sharing produksi pada LMDH Rp 980 juta pada tahun 2012 dan 2013,” kata Bambang. (H81-91)

Suara Merdeka | 14 Februari 2014 | Hal. 31