Antisipasi Kebakaran Hutan, Perhutani Bentuk Satgas

BLORA, suaramerdeka.com – Perhutani KPH Randublatung Blora membentuk satuan tugas (satgas) untuk mengantisipasi kebakaran hutan jati. Satgas tersebut ditempatkan di 12 bagian kesatuan pemangkuan hutan (BKPH) di wilayah Perhutani Randublatung.

“Posko satgas antisipasi kebakaran ada di setiap BKPH. Sedangkan posko induk berada di Mako Polhutmob KPH Perhutani Randublatung,” ujar Humas Perhutani Randublatung Andan Subiyantoro, Sabtu (12/7).Saat musim kemarau seperti sekarang ini kawasan hutan jati di Blora rawan terjadi kebakaran. Hal itu seiring dengan banyaknya dedaunan pohon jati yang mulai mengering, serta rumput semak  belukar yang tumbuh di bawah tegakan pohon jati. Disulut api sedikit saja, kebarakan bakal terjadi dan meluas di kawasan hutan.

“Kami optimalkan pegawai Perhutani untuk pengamanan kawasan hutan terutama sebagai antisipasi kebakaran. Semua personil di BKPH disiapkan sebagai anggota satgas kebakaran hutan,” tandas Andan Subiyantoro.

Namun karena hutan jati di wilayah Perhutani Randublatung sangat luas dan jumlah petugas Perhutani sangat terbatas, Andan menyatakan pihaknya mengharapkan peran serta masyarakat dalam pengamanan hutan dari bahaya kebakaran.

Menurutnya, keberadaan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dalam program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) diyakini sangat efektif.

Melalui LMDH tersebut warga turut serta berpartisipasi aktif dalam pengelolalan kawasan hutan sekaligus dalam pengamanan termasuk dari bahaya kebakaran. “Petugas Perhutani di lapangan bersama masyarakat itulah yang menjadi garda depan pengamanan kawasan hutan,” tuturnya.

Andan menyatakan antisipasi bahaya kebakaran hutan sudah menjadi pekerjaan rutin setiap tahun. “Petugas kami cukup terlatih. Warga juga paham apa yang harus dilakukan guna mencegah kebakaran hutan,” tandasnya.

Hanya saja selama ini pemadaman api yang muncul di kawasan hutan lebih sering menggunakan peralatan seadanya. Misalnya dengan memukul-mukulkan dedaunan ke semak belukar atau rerumputan yang terbakar. Itu karena wilayah hutan sangat luas dan hanya sedikit yang bisa diakses mobil pemadam kebakaran.
( Abdul Muiz / CN33 / SMNetwor)

Sumber  :  www.suaramerdeka.com
Tanggal  :  12 Juli 2014