Gurame Sang Guru

8-Gurame3-web

Dok.Kom.PHT@2014

Nazir duduk di tepi kolam ikannya. Hari sudah sore. Sinar matahari tampak indah menembus hutan sengon di kejauhan. Seorang lelaki datang menghampiri lalu duduk di sebelahnya. Mereka berbincang rencana panen ikan. Juga persiapan mengangkut ikan ke pasar esok hari sebelum siang beranjak pergi. Lelaki itu adalah pedagang ikan langganannya. Siapa Nazir?

Tak banyak guru menggunakan waktu senggang untuk bertani ataupun berternak. Ribet, bau amis, berbecek-becek, dan butuh ketekunan. Tak lebih bergengsi dibandingkan buka toko kelontong atau counter hape. Nazir berani beda. Guru sekolah dasar SD di daerah Gua Jatijajar, Kebumen, ini menggeluti budidaya ikan gurame (Osphronemus goramy) sejak 1995.

Awalnya hanya untuk mencukupi konsumsi keluarga kini semua berubah. Sejak bergabung dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Mulya Jati binaan Perhutani Kedu Selatan, Nazir banyak belajar kewirausahaan. Ia dipercaya sebagai ketua kelompok yang punya 150 orang anggota itu. Hutan memang sumber pangan dan pakan ternak bagi kelompoknya. Tak cukup kegiatan itu. Ia mengajak 10 anggotanya mengembangkan kolam ikan seluas 200 m2. Selain ingin meningkatkan pendapatan, ia melihat banyak tumbuhan liar bawah tegakan hutan bisa jadi pakan ikan.

Mulailah Nazir mengais modal. Sebuah proposal sederhana yang ditulis seadanya. Program Kemitraan dan Bina Lingkungan besutan BUMN menjadi pilihannya. Tahun 2008, Perhutani KPH Kedu Selatan meluluskan pinjaman Rp. 10 juta kepada kelompok, LMDH Mulya Jati. Ia mengaku, uang tersebut dibelikan bibit gurame 300 kg untuk ditebar dikolam.

Ikan gurame dipilih karena harga lebih baik disbanding budidaya lele didaerahnya. Daun talas-talasan yang tumbuh liar di hutan-hutan Perhutani bisa dimanfaatkan untuk campuran pellet pakan ikan. Harga pakan jadi murah meriah. Sebuah teknologi sederhana ala LMDH Mulya Jati. Pernah diiming-iming budidaya ikan lainnya, ia tak tergoda. Meski membesarkan gurame hasilnya baru bisa dipanen setiap 5 sampai 6 bulan sekali.

Setiap kali panen, Nazir mengaku bisa memperoleh 450 kg ikan gurame. Pemasarannya tidak repot. Pedagang ikan dari Cilacap, Kebumen, dan Banyumas datang sendiri ke kolamnya. Hasil bersih minimal mencapai Rp 5 juta setiap panen. Nilai yang lumayan sebagai usaha sampingan. Selain itu ia dan keluarganya bisa mendapatkan gizi gratis.

Risiko usaha selalu saja ada. Bila musim hujan tiba, gurame bisa terjangkit penyakit kulit. Ia dan anggotanya rajin membersihkan lumpur di kolam. Menabur kapur kapur untuk keseimbangan PH air. Kolam harus menghasilkan makanan alami ikan. Biasanya 15 hari setelah isi air, plankton-plankton muncul. Baru benih gurame dimasukkan ke kolam.

Lelaki dua putra itu snagat ingin menambah jumlah kolam-kolam ikan untuk kelompok di desanya. Bukan bermiliar modal yang dibutuhkan, bukan pidato yang berbusa-busa, tetapi perhatian nyata seperti PKBL dirasa baik untuk rakyat desa hutan sepertinya. Pinjaman yang terbayar dengan senyum kemenangan usaha kelompoknya. Pikiran cerdas.

Itulah Nazir. Lelaki yang memberikan pengetahuan dan pengalaman praktisnya pada anggota kelompok selepas mengajar disekolah. Ia betah berlama-lama di tepi kolam. Berkeliling, tangannya melambai-lambai menebar pakan ikan. Menikmati loncatan-loncatan indah gurame. Ikhlas, tekun melakukan usaha. Bahkan, ia merasakan alam semesta telah memberikan segala kebaikan ketika ia mengurus ikan-ikan guramenya.

Sumber: PKBL Action, No. 21 Tahun II Juni 2014.