Alasan Perhutani Bangun Pabrik Sagu di Papua Barat

VIVAnews – Perum Perhutani melirik kawasan Siak, Sorong Selatan, Papua Barat, untuk membangun pabrik sagu terbesar kedua di Asia. Hingga kini, pembangunan pabrik tersebut sudah mencapai 60 persen.

Direktur Utama Perum Perhutani, Bambang Sukmananto, mengatakan, alasan pihaknya membangun pabrik di tempat itu karena Papua merupakan penghasil sagu terbesar yang kini tidak diolah dengan baik. Selain itu, kualitas sagu di Papua ini juga terbilang terbaik jika dibandingkan dengan sagu dari Malaysia.

“Pohon sagu di sini terbaik, bisa menghasilkan 900 kilogram per batang. Kalau Malaysia, sagu maksimal 250 kg per batang,” ujar Bambang di Pabrik Sagu Perhutani, Kais, Sorong Selatan, Papua Barat, Jumat 5 September 2014.

Bambang menyebutkan, sasaran lain di membangun pabrik di pelosok Papua itu juga ingin menyejahterakan warga sekitar yang selama ini tidak mengelola sagu dengan baik.

Selain itu, kata dia, Indonesia khususnya wilayah Papua terdapat tanaman sagu seluas sekitar 4,5 juta hektar, serta berpotensi menjadi produsen sagu terbesar di dunia.

“Kami siap bermitra dengan masyarakat tempat pabrik sagu berlokasi untuk mengembangkan perekonomian di wilayah itu,” katanya.

Tidak hanya itu, ia melanjutkan, sagu adalah tanaman asli Indonesia yang menjadi sumber karbohidrat utama yang dapat digunakan untuk makanan sehat, bioethanol, gula untuk industri makanan dan minuman, pakan ternak, industri kertas dan farmasi dan lainnya.

Mulai Operasi

Bambang memprediksi, dengan proses pengerjaan yang dilakukan sekarang ini, pada bulan Maret 2015, pabrik sagu tersebut sudah mulai beroperasi.

Pada awal pembukaan nanti, Perhutani tidak bisa sekaligus berproduksi 30.000 ton per tahun. “Namun hanya 25 persen saja, kemudian di 2016 diperkirakan 50 persen, selanjutnya 2017 baru produksi penuh 30.000 ton per tahun,” kata Bambang.

Dia menerangkan, hasil produksi sagu Perhutani ini diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. “Kalau harganya bagus, ya kita ekspor juga. Jadi, sebagian domestik dan sebagian ekspor. Kita butuh devisa juga,” kata dia.

Bambang menyebutkan, negara yang sudah menyatakan minatnya untuk mengkonsumsi sagu Perhutani adalah Jepang.

Minim fasilitas

Bambang mengakui, saat ini semua hal yang menjadi standar pembuatan pabrik belum terpenuhi. Salah satunya adalah listrik. Dalam waktu dekat, dia akan berkoordinasi dengan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) agar pembangunan berjalan. Listrik tersebut bukan hanya untuk menghidupkan proses produksi tetapi bisa menerangkan rumah warga.

“Bukan hanya listrik, tapi kami juga akan berkoordinasi dengan pemerintah untuk membangun pelabuhan yang permanen. Sebab fasilitas seperti itu bukan dari kami yang menyediakan,” kata dia.

Bambang berharap, dengan telah diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2011 dan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2011, pembangunan infrastruktur pendukung dapat segera direalisasikan oleh pemerintah.

“Seharusnya pihak terkait segera membangun berbagai fasilitas pendukung untuk industri sagu. Kami tidak akan sanggup sendirian,” katanya.

VIVAnews dan beberapa wartawan berkesempatan mengunjungi pabrik sagu. Untuk menuju tempat itu, kami harus melalui perjalanan darat dari Kota Sorong menuju Teminabuan yang berada di Sorong Selatan dengan waktu tempuh selama empat jam dengan jalur yang berliku dan naik turun. Kondisi jalan juga belum sepenuhnya laik.

Setelah itu, dilanjutkan melalui jalur laut. Para peserta harus menuju dermaga milik Perhutani yang berada tidak jauh dari kantor cabang Perhutani di kota itu. Perjalanan laut menghabiskan waktu tiga jam untuk sampai Siak. Jarak antara dermaga dengan Siak diperkirakan mencapai 100 Km. Total perjalanan untuk mencapai tempat itu menghabiskan tujuh jam.
© VIVA.co.id

Sumber : www.m.news.viva.co.id
Tanggal : 5 September 2014