Berkah Limbah Jati dari Hutan Ngawi

MASYARAKAT di tepi hutan Ngawi, Jawa Timur, dahulu hidup miskin. Mereka mengandalkan sawah tadah hujan dan mencari rencek atau ranting kayu jati serta menjual daun jati. Berkat limbah jati yang diolah menjadi barang-barang kerajinan, termasuk mebel, kini jalan sejahtera pun terbentang, apalagi setelah produk seni berkualitas yang mereka hasilkan tersebut menembus pasar ekspor.

Kamis (7/8), gerai-gerai penjualan suvenir kerajinan berbahan limbah kayu jati, seperti bonggol, akar, dan ranting, di sepanjang jalan nasional Ngawi menuju Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, ramai pengunjung. Di sentra industri Desa Banjarejo, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, misalnya, hilir mudik pengunjung tiada henti melihat koleksi aneka produk kerajinan yang dipamerkan di kios-kios di tepi hutan produksi milik Perum Perhutani.

Ada asbak, meja dan kursi antik, lemari antik, vas bunga, replika pohon natal, replika rusa, kuda, lumba-lumba, pigura, dan hiasan rumah lainnya. Semua terbuat dari limbah pohon jati, seperti akar, bonggol, hingga ranting pohon jati.

Perajin memanfaatkan bagian yang tak terpakai, berupa sisa tebangan pohon jati, untuk diolah menjadi produk seni bernilai jual tinggi. Biasanya kayu limbah ini tak memenuhi standar kualitas untuk dijual sebagai kayu mentah untuk industri mebel atau diekspor dalam bentuk bahan setengah jadi.

Kayu limbah yang dahulu hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar, kini setelah diolah menjadi kerajinan bernilai seni tinggi memiliki nilai tambah yang luar biasa. Bahkan, hasil kerajinan kayu limbah itu tak kalah nilainya dengan kayu jati yang diekspor.

“Harga per item bervariasi, mulai Rp 15.000 untuk produk pengganjal pintu rumah sampai jutaan rupiah. Satu set kursi dari bonggol jati harganya Rp 5 juta hingga Rp 20 juta tergantung ukuran dan bentuknya,” kata Muryani, pemilik Sugeng Craft.

Muryani mempekerjakan 40-45 perajin dengan upah Rp 50.000 per orang per hari. Para pekerja berasal dari desa-desa di sekitar hutan jati.

Pembeli produk kerajinan bonggol jati ini tidak hanya dari Ngawi, tetapi dari sejumlah daerah di Tanah Air, seperti Solo, Yogyakarta, Jakarta, Bali, dan Kalimantan. Karya kreatif perajin lokal ini bahkan kerap dikirim ke mancanegara, seperti Turki, Malaysia, dan paling sering ke Belanda.

Lokasi gerai kerajinan di pinggir jalan raya nasional mudah dijangkau oleh pembeli, termasuk pelancong dari Surabaya dan Solo. Akses pemasaran semakin terbuka lebar ketika perajin mulai mengikuti beragam pameran dan membangun jaringan melalui bisnis online.

Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian Kabupaten Ngawi mencatat, jumlah perajin limbah jati mencapai 166 unit usaha. Mereka tersebar di Kecamatan Ngawi, Kedunggalar, Bringin, dan Paron. Selain perajin limbah jati, terdapat pula perajin mebel jati dengan jumlah usaha sekitar 20 unit. Total nilai investasi Rp 2,4 miliar dengan kemampuan produksi sekitar 8.000 produk per tahun atau senilai Rp 3,1 miliar.

Dari ratusan perajin itu, baru empat yang mampu ekspor secara langsung ke luar negeri tanpa melalui perantara atau perusahaan lain. Mereka telah mengantongi sertifikat legalitas kayu (SVLK) atas usaha sendiri yang keras dan tekun, serta modal lumayan besar.

Mutiara terpendam

Ketua Asosiasi Furnitur dan Craft Kabupaten Ngawi Rupiati (40) mengatakan, setiap pekerja menghidupi keluarga dengan anggota rata-rata sekitar empat orang. Dengan bekerja di lingkungan rumah sendiri, masyarakat tak perlu urbanisasi ke kota besar apalagi ke luar negeri menjadi buruh migran. Ekonomi di desa-desa pun menggeliat karena adanya aliran uang masuk,” ujarnya.

“Industri bonggol jati tersebar hingga ke desa-desa di dalam hutan. Seperti mutiara yang terpendam, kerajinan ini telah menghidupkan ekonomi masyarakat Ngawi dan mengangkat taraf kehidupan warga pedesaan dari kemiskinan,” ujar Rupiati.

Pemilik UD Rahmat Jati ini mengatakan, skala usaha perajin sangat tergantung kemampuan modal. Ada perajin perorangan, tetapi tidak sedikit yang memiliki CV atau UD. Produk yang dihasilkan juga beragam, biasanya terkait erat dengan segmen pasar yang dikuasai.

Tak ada yang tahu pasti kapan masyarakat Ngawi mulai menggeluti usaha kerajinan bonggol Jati. Namun, industri ini berkembang pesat sekitar sepuluh tahun terakhir. Perkembangan itu ditandai dengan semakin banyaknya perajin dan makin variatifnya produk yang dihasilkan.

Perajin kebanyakan memperoleh kemampuannya melalui belajar otodidak dengan melihat produk serupa yang dihasilkan perajin di daerah lain, seperti Bojonegoro, Madiun, dan Jepara. Selanjutnya, perajin berinovasi dan berkreasi berdasarkan pengalaman, pengetahuan, dan permintaan pembeli. Kondisi bahan baku atau bentuk bonggol turut memberi warna dalam mengkreasikan kerajinan.

Riris Wiyani, pemilik UD Romansa Jati, mengatakan, walaupun industri kerajinan mebel dan limbah jati sudah berkembang dan menjadi tulang punggung ekonomi baru, selain pertanian tadah hujan, perajin masih membutuhkan bimbingan.

“Di sinilah peran yang harus diambil oleh pemerintah. Memberikan daya dorong kepada perajin supaya mampu bersaing bersama-sama menuju pasar internasional,” ujar pengusaha yang telah mengantongi sertifikat legalitas kayu ini.

Kepala Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian Kabupaten Ngawi Sofyan mengatakan, kerajinan limbah jati sudah menjadi produk kebanggaan Ngawi. Pemerintah daerah memberi dukungan penuh dengan memberikan pembinaan berupa pelatihan teknis dan manajerial.

“Pelatihan teknis diberikan mulai dari proses produksi sampai teknik pengemasan. Sementara pelatihan manajerial lebih pada bimbingan menyusun manajemen keuangan,” katanya.

Meskipun demikian, kata Sofyan, belum semua perajin atau pelaku usaha terjangkau program tersebut. Kemampuan pemerintah sangat terbatas sehingga pelatihan diberikan secara bergantian. Pihaknya terus mengupayakan supaya kegiatan dilakukan rutin setiap tahun sehingga mampu menjangkau lebih banyak perajin.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Kayu Dinas Koperasi UMKM dan Perindustrian Kabupaten Ngawi Joko Purwadi mengatakan, pemerintah juga memberikan bantuan hibah peralatan untuk meningkatkan kualitas produk dan daya saing. Nilainya hampir Rp 1 miliar setahun.

Sebenarnya, industri kerajinan kayu limbah ini masih berpotensi dikembangkan lagi. Namun, banyak perajin yang enggan diajak mengembangkan varian produk karena merasa puas dengan usahanya saat ini.

Sumber : Kompas, Hal 23
Tanggal : 1 September 2014