Jalan Panjang nan Mahal Temui Sagu Papua

MENEMPUH penerbangan dari Ibu Kota ke arah timur selama 8 jam belum cukup untuk bisa mencapai lokasi proyek pabrik sagu terbesar se-Asia Tenggara, di Papua Barat. Itu baru awalnya.

Setiba di Bandara Dominicfue Edward Osok, Sorong, perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan roda empat untuk mencapai Teminabuan, Papua Barat. Waktu tempuh sekitar 5 jam. Kendaraan bisa diperoleh dengan menyewa. Kisaran harga sewa Rp 750 ribu-Rp 1,5 juta per hari.

Kondisi jalan yang dilalui relatif baik menandakan wilayah itu cukup memahami infrastruktur sebagai poin penting untuk menunjang perekonomian. Kendati begitu, ada sejumlah ruas yang belum diaspal dan berlumpur sehingga memperlambat perjalanan.

Selepas perjalanan darat, perjalanan berlanjut memakai kapal sampai ke lokasi pabrik sagu. Pabrik milik Perum Perhutani yang tengah dibangun tersebut terletak di Sungai Kais, Papua Barat.

Perjalanan dengan kapal memakan waktu sedikitnya 3 jam. Ongkos sewa kapal cukup mahal, mencapai Rp 6 juta per kapal berkapasitas hingga 10 orang untuk perjalanan pulang pergi. Mahalnya biaya sewa kapal disebabkan keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, khususnya solar. Masyarakat harus rela mengantre dua hari untuk mendapatkan BBM.

Keberangkatan menggunakan kapal juga mempertimbangkan waktu pasang dan surut agar tidak berhenti di tengah laut dan harus mendorong di tengah terik matahari.

Pabrik sagu milik Perum Perhutani tersebut bakal memiliki kapasitas produksi 30 ribu ton per tahun pada 2018. General Manager Wilayah Papua Perhutani Ronald Guido Suitela menyatakan jumlah itu jauh lebih besar ketimbang pabrik sagu di Malaysia yang berkapasitas 5 ton per hari atau sekitar 1.800 ton per tahun.

Dengan kapasitas yang besar itu, Perhutani berencana mengekspor sebagian hasil produksi, terutama ke Jepang dan Malaysia. Selain sebagai bahan pangan, sagu dimanfaatkan berbagai industri, mulai tekstil hingga bioetanol.

Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto mengatakan Indonesia amat berpotensi menjadi produsen sagu terbesar di Asia Tenggara. Bahan baku mudah didapat mengingat di Papua terhampar 4, 5 juta hektare tanaman sagu.

Syaratnya, kata Bambang, pemerintah cepat membangun infrastruktur berupa prasarana pabrik pelabuhan, hingga penyediaan energi listrik.

“Bahkan, jika fasilitas tersebut disiapkan, dengan cepat Indonesia bisa menguasai pasar sagu dunia,” cetus Bambang.

(Wibowo/E-1)

Sumber : Media Indonesia, Hal 17
Tanggal : 5 September 2014