Pabrik Sagu Perhutani Segera Operasi, Pemerintah Belum Siapkan Infrastruktur

Bisnis.com, SORONG–Perum Perhutani menagih janji penyediaan infrastruktur dari pemerintah mengingat progres pembangunan pabrik sagu telah mencapai 50%, atau mulai efektif beroperasi Maret 2015.

Dirut Perum Perhutani Bambang Sukmananto mengatakan pabrik sagu membutuhkan setidaknya tiga infrastruktur untuk mendukung kinerja produksi pabrik secara optimal antara lain, pembangunan jalan, pelabuhan dan energi listrik.

“Secara fisik, pembangunan pabrik sudah sekitar 50%, dan akan mulai beroperasi Maret mendatang. Sekarang tinggal janji komitmen dari pemerintah untuk segera direalisasikan,” ujarnya, Jumat (5/9/2014).

Bambang mengakui Papua Barat merupakan daerah dengan hutan sagu terluas di dunia, sekitar 2 juta hektar. Apabila ditambah dengan Papua dan Papua Nuginie, luas hutan sagu diperkirakan mencapai 4,5 juta hektare.

Selain potensi sagu yang besar, kebutuhan sagu dari pasar pun masih besar. Menurutnya, kebutuhan tepung sagu dari domestik mencapai 5 juta ton per tahun, tetapi yang baru dipenuhi sekitar 3,5 juta ton.

Belum lagi permintaan dari pasar internasional, seperti Jepang dan negara tetangga yang ditaksir tak kalah besar.

“Malaysia sudah mulai duluan. Masa kita tidak bisa. Cuma memang masalahnya tidak mudah. Infrastruktur di sini sangat terbatas. Swasta juga pasti tidak tertarik investasi di sini,” katanya.

Dalam kunjungannya ke pabrik sagu di Desa Kais, Kabupaten Sorong Selatan Provinsi Papua Barat, Bambang mengaku pabrik tersebut setidaknya membutuhkan listrik sebesar 1,5 mega watt.

Untuk memperoleh listrik sebesar itu, Perhutani telah menggandeng PT Perusahaan Listrik Negara (persero). Meskipun harga jual beli belum disepakati, PLN akan menyediakan listrik hingga 2,4 mega watt.

Bambang menambahkan industri sagu sebenarnya dapat menghasilkan produk lainnya, yakni residu sagu yang diolah menjadi biomassa. Namun, pada tahun-tahun pertama pabrik berproduksi, residu sagu tidak akan banyak, sehingga belum memungkinkan untuk dijadikan energi alternatif.

Selain listrik, infrastruktur jalan dinilai menjadi kendala sendiri, baik bagi investor maupun warga setempat dalam mengembangkan kegiatan ekonomi.

Menurut Bambang, pembangunan jalan merupakan kebutuhan prioritas warga.setempat, dan sekaligus merupakan tanggung jawab pemerintah.

Berdasarkan pantauan Bisnis, pabrik sagu dapat diakses melalui jalur darat dan jalur air. Perjalanan melalui air memakan waktu sekitar tiga hingga empat jam. Sementara dari darat, membutuhkan waktu 2,5 jam hingga 3 jam dari desa terdekat, yakni Teminabuan.

Dalam menuju Teminabuan sendiri dari Sorong, ditempuh sekitar enam jam, melalui jalan darat. Kondisi jalanan sendiri belum memadai.

Selain berkelok-kelok, sebagian besar jalan tidak beraspal. Adapun, total perjalanan Kota Sorong sampai Desa Kais mencapai sekitar 12 jam.

Akibat jalan yang tidak memadainya, Bambang memperkirakan warga setempat akan kesulitan memasok sagu-sagu mereka ke pabrik sagu Perhutani untuk dijadikan tepung sagu.

Rencananya, Perhutani akan menormalisasi sungai-sungai kecil, sehingga mempermudah pengiriman sagu rakyat ke pabrik. Dengan kata lain,sagu-sagu itu bisa diantar ke pabrik dengan menggunakan rakit, atau melalui jalur air.

“Kami harap pemerintah segera membangun pelabuhan yang layak guna mempermudah distribusi produksi tepung sagu. Sementara ini, pengiriman melalui kapal kecil-kecil dengan volume yang sedikit, sehingga kurang efisien,” tuturnya.

Seperti diketahui, Perhutani memiliki izin konsesi seluas 17.000 hektare untuk penebangan sagu, termasuk lahan pabrik beserta fasilitas pendukungnya seluas 40 hektare.

Kendati demikian, dalam penebangan sagu tersebut, Perhutani akan melibatkan warga setempat. Rencananya, pabrik akan berproduksi tepung sagu sebanyak 100 ton per hari.

Editor : Hery Lazuardi

Sumber : www.industri.bisnis.com
Tanggal : 5 September 2014