Pabrik senilai Rp 112 miliar didirikan untuk mengolah sagu di Papua

PERUSAHAAN Hutan Negara Indonesia (Perhutani) berusaha meningkatkan ketahanan pangan masyarakat Papua. Hal tersebut dibuktikannya dengan mengolah tanaman sagu yang terdapat di pedalaman hutan daerah itu sendiri.
“Ini inisiasi negara dongan pertimbangan untuk ketahanan pangan, untuk pangan,” kata Direktur Utama Perhutani, Bambang Sukmananto kepada Jurnal Nasional saat dihubungi, Jumat, (5/9).

Dijelaskan Bambang bahwa, langkah itu tidak lepas dari kegundahan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terhadap ketersediaan bahan pangan masyarakat Papua. Sebab, harus diingat masyarakat Papua telah terbiasa dan turun-temurun menjadikan sagu sebagai makan pokok.

Rezim Orde Baru-lah yang telah merubah kebiasaan masyarakat Papua mengonsumsi beras. “Pak Presiden dan Menteri BUMN kan sedih melihat impor pangan yang terjadi saat ini,” lanjut Bambang.
Padahal, sambung Bambang, Pulau Papua memiliki hutan yang sangan luas di mana di dalamnya terdapat sangat banyak pohon penghasil sagu. Jika kondisi itu tidak dimanfaatkan, tentunya sikap tersebut bisa diartikan tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan kepada bangsa ini.

“Sekarang kami hanya mengelola 15 ribu hektare saja. Padahal tanaman penghasil sagu di Papua itu sangat banyak bertebaran di mana-mana,” kata Bambang.

Dengan tersedianya produk sagu di tanah Papua, Perhutani yakin masyarakat setempat akan lebih terjamin lagi ketersediaan bahan pangan ulamanya. Apalagi, dengan produksi dilakukan di Bumi Cendrawasih, tentu harga jual sagu tersebut bisa jauh lebih murah.

“Kalau bisa dibeli masyarakat dengan harga yang jauh lebih murah, tentunya masyarakat Papua akan terhindar dari potensi kelaparan. Karena bahan makanan pokok mereka ada di bumi mereka sendiri,” ujar Bambang.

Pembangunan pabrik pengolahan sagu di Papua itu sendiri menurut Bambang tidak membutuhkan investasi yang terlalu besar jika dibandingkan dengan dampak dominonya. Selain pembukaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal Papua, keberadan pabrik tersebut tentu akan menjadikan ekonomi masyarakat semakin bergeliat.

Untuk investasi pembangunan pabriknya sekitar Rp 112 miliar. Perhutani juga akan membangun semacam kota sendiri. Sekarang sudah 70 persen pekerjanya masyarakat lokal. Tentu ke depan akan terus ditingkatkan peran warga Papua di sana. Dan yang tidak kalah pentingnya keberadaan pabrik itu akan mendorong perekonomian Papua,” kata Bambang.

Kelak bila produksi sagu tidak lagi terserap oleh pasar Papua, Perhutani telah mempersiapkan rencana bisnis dengan matang. “Kebutuhan dalam negeri selain Papua terhadap sagu juga besar. Untuk Pulau Jawa saja sangat besar. Belum lagi untuk Sumatcra, Kalimantan, Sulawesi. Dan tidak kalah pentingnya kami harus perhitungkan pasar ekspor,” kata Bambang.

Sumber : Jurnal Nasional, Hal. 8
Tanggal : 6 September 2014