Perhutani Tagih Janji Pemerintah

SORONG—Perum Perhutani menagih janji penyediaan infrastruktur oleh pemerintah mengingat progres pembangunan pabrik sagu yang dibangunnya telah mencapai 50%, dan siap efektif beroperasi mulai Maret 2015.

Dirut Perum Perhutani Bambang Sukmananto mengatakan pabrik sagu membutuhkan setidaknya tiga infrastruktur untuk mendukung kinerja produksi pabrik secara optimal antara lain, pembangunan jalan, pelabuhan dan energi listrik.

“Secara fisik, pembangunan pabrik sudah sekitar 50%, dan akan mulai beroperasi Maret mendatang. Sekarang tinggal janji komitmen dari pemerintah untuk segera direalisasikan,” ujarnya di Sorong, Kamis (4/9).

Bambang mengakui Papua Barat merupakan daerah dengan hutan sagu terluas di dunia, sekitar 2 juta hektar. Apabila ditambah dengan Papua dan Papua Nuginie, luas hutan sagu diperkirakan mencapai 4,5 juta hektare. Selain potensi sagu yang besar, kebutuhan sagu dari pasar pun masih besar.

Menurutnya, kebutuhan tepung sagu dari domestik mencapai 5 juta ton per tahun, tetapi yang baru sanggup di pe – nu hi sekitar 3,5 juta ton. Belum lagi permintaan dari pasar internasional, seperti Jepang dan negara tetangga. “Malaysia sudah mulai duluan. Masa kita tidak bisa. Cuma memang ma salahnya tidak mudah. Infrastruktur di sini sangat terbatas.

Swasta juga pasti enggak tertarik investasi disini,” katanya. Dalam kunjungannya ke pabrik sagu di Desa Kais, Kabupaten Sorong Selatan Provinsi Papua Barat, Bambang mengaku pabrik tersebut setidaknya membutuhkan listrik 1,5 mega watt. Untuk memperoleh listrik itu, Perhutani telah menggandeng PLN yang akan menyediakan listrik hingga 2,4 mega watt.

Bambang menambahkan industri sagu sebenarnya dapat menghasilkan produk lainnya, yakni residu sagu yang diolah menjadi biomassa. Namun, pada tahun-tahun pertama pabrik berproduksi, residu sagu tidak akan banyak, sehingga belum memungkinkan untuk di jadikan energi alternatif.

Selain listrik, infrastruktur jalan dinilai menjadi kendala sendiri, baik bagi investor maupun warga setempat dalam mengembangkan kegiatan ekonomi. Menurut Bambang, pembangunan jalan merupakan kebutuhan prioritas warga.setempat, dan sekaligus merupakan tanggung jawab pemerintah.

Dengan infrastruktur jalan yang tidak memadai, Bambang memperkirakan warga setempat akan kesulitan memasok sagu-sagu mereka ke pabrik. Rencananya, Perhutani akan menormalisasi sungai-sungai kecil, sehingga mempermudah pengiriman sagu.”Kami harap pemerintah segera membangun pelabuhan yang layak guna mempermudah distribusi produksi tepung sagu,” tuturnya.

(Ringkang Gumiwang)

Sumber : Bisnis Indonesia, Hal 3
Tanggal : 6 September 2014