Butet Ikrarkan Hutan Tetap Lestari

2014-10-23-Div2-Suluk

Dok.Kom-PHT/ktr Div Jateng @2014

BOJONEGORO, PERHUTANI  (27/10) – Perum Perhutani KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan) Parengan menggelar acara seni dan budaya dengan tajuk Suluk Swara Bumi dengan menghadirkan budayawan kondang Butet Kertarajasa Kamis (23/10).

Administratur Perhutani Parengan,  Daniel menyatakan bahwa  kegiatan tersebut dalam rangka menyambut hari jadi Kota Bojonegoro ke-337 dan didukung oleh Pertamina EP, Shaolin Bledos, Wisata Dusun Bambu, Javanilla Resto & Bakery, Wisata Grafika Cikole, Warung Ecco serta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro.

Suluk sendiri dalam Sastra Jawa dimaknai sebagai kesadaran jiwa yang terdalam dari seorang anak manusia yang diekspresikan melalui nyanyian/tembang-tembang yang diiringi dengan gamelan (musik khas Jawa) sebagai sebuah pengharapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kabupaten Bojonegoro boleh jadi bangga dengan potensi sumber daya alam minyak yang dimilikinya mungkin dalam kurun waktu 30 hingga 40 tahun ke depan minyak masih menjadi andalan utama Pemkab Bojonegoro. Namun yang perlu diingat potensi tersebut tentu ada batas masanya, suatu saat pasti akan habis bila dieksploitasi terus-menerus .

Berpaling dari hal itulah Daniel menggelar acara tersebut, dia pun mengungkapkan, “sumber daya alam yang masanya ditentukan oleh manusia sendiri adalah hutan, contoh paling kongkrit adalah jika manusia mengabaikan sumber daya hutan hal yang paling sederhana tentu potensi air itu pasti akan menjadi sangat terbatas dan suatu ketika akan menjadi pembatas dalam kehidupan manusia,” terangnya ketika itu.

Seolah mendukung apa yang sudah diutarakan Daniel. Kang Nyoto,  Bupati Bojonegoro begitu biasa ia dipanggil menjelaskan, bagaimana cara kita memperlakukan bumi sebagai patner dalam kehidupan, agar kehidupan di planet ini berjalan langgeng normal apa adanya, termasuk bagaimana cara melestarikan hutan sebagai salah satu instrumen pendukung kehidupan di dalamnya. Itu semua dapat terwujud bila pendekatannya dilakukan melalui pendekatan spiritual dan budaya.

Senada dengan yang disampaikan Kang Nyoto kala itu, Butet dalam orasi monolognya menyatakan” sebagai makhluk hidup kita membutuhkan hutan. Hutan yang dijaga dengan baik maka kandungan air tanahnya akan cukup, oleh karena itu bisa digunakan untuk meningkatkan pertanian. Jadi Saudara-Saudaraku betapa beruntungnya Bojonegoro, kalau Bojonegoro mencanangkan sebagai daerah lumbung pangan, lumbung energi maka rakyat Bojonegoro pantang merusak hutan”. Ujarnya yang diikuti applous. Seraya untuk menguatkan pernyataannya itu Butet pun mengajak audiens berikrar “Meskipun kami mengolah energi bumi, kami tetap menjaga hutan tetap lestari”. (Kom-PHT/Divre Jatim/Patuh)

Editor  :  Dadang  K Rizal

@copyright 2014