Perhutani Parengan Gelorakan Cinta Hutan Lewat Seni Budaya

Dok.Kom-PHT/PRG @2014

Dok.Kom-PHT/PRG @2014

PARENGAN – PERHUTANI (30/10) | Perhutani Parengan menghelat acara budaya sebagai wahana mensosialisasikan kecintaan kepada hutan. Acara bertajuk Suluk Swara Bumi itu menghadirkan budayawan Butet Kartaredjasa dan kelompok Orkes Puisi “Sampak Gus-Uran” yang dipimpin budayawan Anis Sholeh Ba’syin. Acara yang sudah kali kedua digelar ini dihadiri pula oleh Kang Yoto, Bupati Bojonegoro. Gelaran budaya tersebut juga dalam rangka merayakan hari jadi ke-337 Kabupaten Bojonegoro bertempat di halaman kantor Perhutani Parengan Kamis (23/10).

Administratur Perhutani  Parengan,  Daniel menyatakan bahwa Ada dua hal yang melatari kenapa acara gelar budaya Perhutani  Parengan tersebut diberi judul Suluk Swara Bumi.

Swara Bumi terinspirasi oleh salah satu puisi berjudul Suara Bumi, yang diciptakan oleh Kang Yoto pada awal Oktober lalu. Puisi itu menggambarkan bumi yang seolah bertutur mengeluh karena manusia mengambil segala sesuatu dari bumi lebih dari kemampuannya untuk menghasilkan secara lestari, termasuk sumberdaya hutan.

Adapun “suluk” yang sebenarnya adalah bentuk lagu tradisional Jawa dalam kosmologi Jawa dimaknai sangat dalam sebagai doa yang berwujud laku budaya. Bukan sekadar nyayian dan bukan pula sekadar doa. Diharapkan gelar budaya tersebut bisa menjadi ekspresi pengharapan dan tekat masyarakat Bojonegoro untuk makin arif memperlakukan bumi.

Pada sambutannya, Bupati Bojonegoro, Kang Yoto menekankan pentingnya manusia untuk menyadari bahwa diperlukan cara fikir dan cara bertindak bijaksana dalam memanfaatkan sumberdaya alam. Juga bagaimana agar manusia mampu “mendengar’ dan memahami suara alam. Kang Yoto juga membacakan puisinya “Suara Bumi”. Begitu besar penghayatan Kang Yoto atas filosofi suara bumi, di bagian akhir sambutannya beliau sempat meneteskan air mata ketika memaparkan betapa manusia punya kesalahan besar atas rusaknya alam, termasuk sumberdaya hutan.

Malam itu Orkes Puisi Sampak Gus-Uran menyajikan beberapa nomor puisi yang diaransemen menjadi lagu dengan iringan orkestrasi hybrid gamelan dengan musik modern. Kemudian budayawan kondang Butet Kartaredjasa membawakan orasi budaya (monolog) yang sarat makna namun tetap diwarnai canda. Acara juga diselingi dengan dialog interaktif dipandu budayawan Anis Sholeh Ba’asyin. Sebagai pembicara adalah Butet Kartaredjasa, Kang Yoto, dan Kyai Budi dari Semarang. Pada kesempatan itu Kyai Budi menjabarkan filosofi dibalik ‘caping’ (topi anyaman bambu khas petani Jawa). Filosofi yang sangat dalam yang mengingatkan kita akan keseimbangan alam yang harus selalu dijaga.

Selain disaksikan oleh masyarakat umum, acara Suluk Swara Bumi dihadiri oleh pejabat-pejabat Pemkab Bojonegoro, Kepala Biro Perlindungan dan Kepala Biro Pembinaan SDH Divre jatim, Kapusdiklat SDM Perhutani, Administratur rayon 1 dan 2. Juga dihadiri Muspika, Kepala Desa dan perwakilan LMDH se wilayah Perhutani Parengan.

Pagelaran budaya tersebut terselenggara berkat dukungan finansial dari Pertamina EP Asset 4. Selain itu juga didukung sponsorship dari Eiger produsen perlengkapan adventure, Dusun Bambu (Lembang-Jabar), Terminal Wisata Grafika (Lembang-Jabar), Resto Shaolin Mbledhos (bojonegoro), Resto Javanilla (Bojonegoro), dan Resto Ecco (Bojonegoro). (Kom-PHT/PRG/Hms).

Editor  :  Dadang K Rizal

@copyright 2014