Semula Ingin Jadi Polwan, Kini Malah Enjoy

Butuh nyali tinggi untuk menjadi petugas pemadam kebakaran. Namun, Chica mampu membuktikan diri. Padahal, dia adalah seorang perempuan.
SEKILAS, perawakan Liana Cicha tak berbeda dengan petugas pemadam kebakaran (PMK) Bojonegoro lainnya. Mengenakan seragam PMK serbabiru. Model potongannya juga menyerupai pria. Dia juga tidak memakai perhiasan sama sekali. Baik cincin, gelang, kalung, atau anting-anting.
Namun ternyata, Cicha adalah satusa tunya PMK perempuan yang dimiliki Pemkab Bojonegoro. Perempuan kelahiran Bojonegoro, 17 Maret 1996 ini bergabung dengan tim PMK pada September 2014. Sebelumnya, dia ditempatkan sebagai staf di Badan Penanggulangan Bencana Dae rah (BPBD) Bojonegoro sejak Februari 2014. Karena suka tantangan dan sering ikut terjun ke lokasi bencana, Chica kemudian ditawari pindah men jadi petugas PMK. Saat mendapat tawaran tersebut, Cicha tidak perlu berpikir panjang.

Langsung diterima tawaran tersebut dengan senang hati. Jadilah dia sebagai satu-satunya srikandi yang dimiliki PMK Kota Ledre. Chica sendiri bangga menjadi petugas PMK. Sebab, dapat membantu orang yang terkena musibah kebakaran. “Saya justru lebih senang menjadi petugas PMK, daripada berada di ruangan setiap hari,” katanya.

Namun, sampai sekarang, dia belum pernah ikut memadamkan kebakaran. Sebab, masih harus belajar dan latihan lebih banyak lagi. Sehingga, selama bergabung menjadi petugas PMK, mahasiswi jurusan ekonomi Universitas Bojonegoro (Unigoro) ini diminta membantu mengisi pelatihan cara memadamkan kebakaran
Seperti mengisi pelatihan-pelatihan yang diadakan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bojonegoro dan kegiatan pramuka. Meski demikian, Cicha mendapatkan pelajaran dan pengalaman sangat banyak

Dia mengetahui cara memadamkan kebakaran dan tidak lagi takut api. “Semula saya phobia (takut, Red) dengan api, tapi sekarang sudah tidak lagi,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Anak tunggal dari pasangan (almarhum) Nyum arno dan Warti itu memang tidak seprti perempuan lainnya. Sejak kecil dia sudah berpenampilan tomboi. Sehingga, seringkah dia bergaul dengan teman prianya.

Setelah lulus SMA, dia sebenarnya mendaftar sebagai polwan. Sayangnya, dia belum diterima. Selanjutnya, melanjutkan pendidikan di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya. Baru beberapa bulan tinggal di Surabaya, dia diminta pulang agar lebih dekat dengan
keluarga. Akhirnya, dia melanjutkan kuliah di Unigoro.

Kebetulan, saat itu ada pendaftaran petugas BPBD. Kemudian, Cicha mencoba mendaftar sebagai pengobat tidak diterima menjadi polwan. Ternyata, dia diterima. Meski, perempuan sendiri di antara petugas lainnya.Lama-kelamaan, dia enjoy menjadi petugas PMK. Sehingga, dia tidak lagi berkeinginan menjadi polwan. “Keluarga sangat mendukung dengan semua yang saya lakukan,” pungkasnya. (*/fiq)

Sumber  : Radar Bojonegoro
Tanggal  : 16 Januari 2015