Tidak Dibuka Secara Massal Demi Menjaga Kelestarian Alam

Hutan mangrove Kaliwatu di Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, mulai marak dikunjungi pelancong. Meski memiliki potensi wisata tinggi, kawasan itu tidak untuk wisata masal. Lokasi ini tetap konsisten sebagai wisata edukasi.

PESONA keindahan Banyuwangi tidak hanya berada di kawah Ijen, Pantai Plengkung, atau pantai Pulau Merah. Potensi lain yang kini mulai menggeliat adalah kawasan wisata hutan mangrove Kaliwatu di Desa Kedungasri dan Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo.

Kawasan hutan mangrove yang dirintis Jaiman bersama warga setempat itu memang belum terkenal. Maklum, hutan mangrove itu berada di kawasan milik Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Perhutani Banyuwangi Selatan. Hutan mangrove itu berbatasan dengan tambak udang yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya.

Hutan mangrove yang kini untuk tempat wisata itu luasnya sekitar 225 hektare. Menikmati keindahan hutan tersebut bisa menyewa jukung milik nelayan setempat. Menelusuri kawasan itu harus melalui alur-alur sungai kecil dengan panorama yang cukup elok.

Menuju kawasan itu tidak terlalu susah karena bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua. Bila naik roda empat atau bus,maka kendaraannya itu harus diparkir di permukiman wargadesa terdekat. Selanjutnya, jalan kaki sejauh dua kilometer (2 Km). “Bisa naik ojek,” cetus Kepala Desa (Kades) Kedungasri, Sunaryo.

Pengunjung dapat menelusuri lorong-lorong mangrove. Itu saat air laut mulai pasang atau sekitar pukul 0930. Jukung milik nelayan, oleh warga sudah disiapkan menelusuri tebalnya hutan mangrove.

Jangan khawatir, harga sewa jukung milik nelayan itu tidak mahal, tergantung negosiasi pengunjung dan pemilik jukung. Tarif sewa jukung itu sudah termasuk biaya nelayan sebagai guidetour. Di kawasan itu juga ada yang menawarkan satu paket wisata dengan menu makan siang, yakni kuliner khas pedesaan pesisir. “Menu makanan itu ala desa,” katanya.

Perjalanan memasuki lebatnya hutan mangrove menjadi pengalaman yang menarik. Sebelum naik ke jukung, pengunjung harus menggunakan life jacket (rompi pelampung). Itu demi keamanan pengunjung. Memasuki kawasan hutan mangrove, suara burung bersahut-sahutan seolah menyambut kedatangan setiap pengunjung. Tak jarang, burung itu menjadi objek pengamatan dan sasaran fotografi.

Sekitar 30 menit menikmati perjalanan di sungai yang di sekelilingnya berupa hutan mangrove tersebut, terkadang pengunjung berpapasan dengan nelayan pencari kepiting dan kerang. Pengunjung juga bisa melihat langsung cara menangkap kepitingtradisional. “Setelah diajarkan cara menangkap kepiting, pengunjung bisa ikut mencari kepiting,” ungkapnya.

Tidak hanya mencari kepiting dan kerang penghobi memancing ikan juga bisa memancing. Karena di kawasan itu ikannya cukup banyak Selama ini pengunjung membawa pancing dan umpan sendiri.

Meski memiliki potensi yang tinggi di bidang wisata, hutan mangrove Kaliwatu masih belum dikelola dengan baik. Pihak desa berkeinginan menggandeng Perhutani untuk mengelola bareng kawasan itu menjadi wisata edukasi bukan wisata masai. “Kami khawatir jika dibuka sebagai wisata masai malah akan merusak kawasan mangrove,” dalihnya.

Selama ini kawasan hutan mangrove Kaliwatu masih di kelola secara tradisional. Warga yang mengelola membentuk kelompok masyarakat sadar wisata (pokdarwis). “Jika ada support dari pemerintah kabupaten, tentu akan lebih baik,” harap kades.

Sumber  : Radar Banyuwangi
Tanggal : 13 Desember 2015