Mitos “Punden Selentuk” Situs Budaya Perhutani Madiun

Situs Budaya Slentuk PonorogoMADIUN, PERHUTANI (15/6)| Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Madiun dalam pengelolaan dan pelestarian sumberdaya hutan juga mengelola situs budaya masyarakat seperti ‘Situs Punden Selentuk’ seluas 0,21 Ha yang lokasinya di kawasan hutan Petak 80F RPH Setonggo BKPH Pulung, Desa Tegalrejo Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo.

Menurut cerita masyarakat setempat, situs Punden Selentuk dahulu kala dipercaya sebagai tempatnya para begal (rampok: red). Setiap  orang yang lewat daerah itu konon sering dibegal (dirampok: red). Pada suatu saat ada seorang pengembara melewati wilayah ini, kemudian para begal merampas barang bawaanya dan terjadilah perkelahian satu lawan lima begal tersebut. Dalam perkelahian para begal membawa parang, sedangkan sang pengembara menghadapi dengan tangan kosong dan jari-jarinya ditonjolkan kedepan seperti orang menunjuk sesuatu. Para begal terkalahkan, dan pengembara menetap di tempat tersebut. Sejak itu daerah menjadi aman dari perampokan kemudian masyarakat menyebut dengan sebutan Mbah Selentuk.

Situs Punden Selentuk banyak dikunjungi masyarakat dari desa Gunung Tukul, Kebon, Jatirejo Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo dan sekitarnya. Tujuannya adalah untuk sedekah bumi, selamatan bersih desa dan bahkan tidak jarang ada yang melakukan ‘semedi’ atau bertapa. Situs Selentuk ini dipelihara dengan baik oleh masyarakat Desa Gunung Tukul dan Perhutani Madiun sebagai bagian dalam pengelolaan hutan lestari. ( Komp-PHT/Mdn/Yudi )

Editor : Dadang K Rizal

Copyright ©2015