Panen Kopi Jadi Andalan

Pikiran Rakyat – Sejumlah pekerja lapangan perkebunan teh di Bandung selatan semakin banyak yang mencari nafkah menjadi tenaga kerja lapangan saat musim panen kopi 2015. Mereka umumnya bekerja menjadi pemetik ataupun perawat tanaman kopi sebagai tambahan peluang usaha bagi sejumlah masyarakat.

Gambaran tersebut terlihat pada Minggu (31/5/2015). Sejak Rabu (27/5/2015), sejumlah truk berisi para tenaga keija sibuk menghadapi musim panen kopi di Kecamatan Pangalengan dan Kecamatan Pasiijambu, Kabupaten Bandung. Para tenaga keija tersebut, baik yang berasal dari masyarakat setempat maupun para pekeija lapangan dari sejumlah unit perkebunan, terutama yang sebelumnya menjadi pemetik teh.

Saat ini mulai banyak tanaman kopi arabika milik masyarakat, baik yang diusahakan masyarakat desa hutan di kehutanan Perum Perhutani maupun milik masyarakat yang menerapkan pola agroforestry di hulu Daerah Aliran Sungai Citarum binaan PT Bakti Usaha Menanam Nusantara Hijau Lestari, serta yang diusahakan secara individu, meningkat produktivitasnya.

Apalagi, bisnis kopi arabika Priangan kini mulai “mengibarkan bendera” di pasar ekspor atas nama Jawa Barat sendiri, terutama memenuhi pesanan para pembeli dari Korea Selatan dan Taiwan. Soal para tenaga kerja lapangan unit perkebunan besar yang mencari nafkah di banyak kebun kopi milik masyarakat, menurut beberapa pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), umumnya mereka yang sudah tak aktif lagi. Namun, ada pula tenaga harian aktif yang mengisi kekosongan kerjanya di perkebunan untuk melanjutkan pendapatan, karena aktivitas lapangan di sejumlah unit perkebunan teh kawasan Bandung selatan sedang berkurang.

Musim panen kopi di Bandung selatan setiap tahunnya, termasuk kali ini, banyak menyerap tenaga keija masyarakat sekitar. Selain sebagai tenaga kerja perawatan tanaman secara rutin, juga tenaga musiman untuk pemetikan, penjemuran, sampai pengolahan biji kopi.

Di sisi lain, di beberapa blok di sejumlah perkebunan teh di Bandung selatan pun tampak sistem pemetikan pucuk teh kini menggunakan mesin petik yang cukup dikeijakan oleh 2-3 operator. Semula, berbagai perkebunan teh umumnya melakukan pemetikan pucuk teh secara manual oleh tangan banyak pemetik teh untuk memenuhi standar petikan berdasarkan rumus petik.

Tenaga ahli LMDH Rahayu Tani, Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Yusup Darsono membenarkan bahwa banyak tenaga perkebunan yang kini dapat menyambung pendapatannya dengan bekeija lapangan di berbagai kebun kopi rakyat. Banyak yang dapat diandalkan karena sehari-harinya memang sudah terbiasa merawat tanaman, misalnya mengendalikan gulma dll. Di sejumlah wilayah jumlahnya ratusan orang.

Fenomena tersebut, katanya, mampu menjadi tambahan kekuatan tenaga kerja lapangan di samping masyarakat setempat yang lebih dahulu menjadi tenaga keija lapangan di berbagai perkebunan kopi. Biasanya, sistem pengupahan dan besarannya sudah diatur oleh berbagai LMDH yang ada dan dilakukan secara terbuka.

Informasi dari Ketua LMDH Mulyasari, Desa Cibodas, Kecamatan Pasirjambu, Ayi Rohmat, banyaknya tenaga kerja perkebunan yang juga menyambung nafkah di sejumlah kebun kopi rakyat, juga banyak terdapat pada sejumlah LMDH lain. Rata-rata antara puluhan sampai ratusan orang, di mana jumlah LMDH yang panen kopi di Bandung selatan tahun 2015 ini sedikitnya sepuluh LMDH.

Disebutkan, harga kopi gelondongan kepada petani kopi kini berkisar Rp 6.500/kg. Pesanan terus bertambah sehingga banyak LMDH harus memenuhinya. Pada panen awal tahun ini, pesanan terus mengalir dari Taiwan dan Korea Selatan, para pembeli sudah berdatangan ke sejumlah lokasi panen kopi.

(Kodar Solihat)***

Sumber    : Pikiran Rakyat, hal. 26
Tanggal    : 01 Juni 2015