Pesona Si Kembar Bondowoso

Air Terjun Tancak Kembar

Air Terjun Tancak Kembar

BONDOWOSO, PERHUTANI (22/6) |  Alam selalu menyimpan pesona keindahannya seperti halnya dengan yang bisa kita nikmati dari panorama air terjun Tancak Kembar Andungsari. Secara administratif, wana wisata ini terletak di Desa Andungsari Kecamatan Pakem Kabupaten Bondowoso dan berada di kawasan hutan lindung RPH Wringin BKPH Besuki KPH Bondowoso.

Air terjun berketinggian 77 meter ini tergolong unik. Pasalnya, terdiri atas dua aliran air terjun yang berjajar satu sama lain terpisah sekitar 20 meter.

Kedua air terjun tersebut memiliki ketinggian yang sama. Oleh karena itu, kedua air terjun itu lantas disebut dengan tancak (air terjun, bahasa Madura) kembar.

Kubangan yang dihasilkan air terjun kembar itu juga tidak menyatu, sehingga menambah kuat julukan “Tancak Kembar”. Selain memiliki keunikan tersendiri, aura keindahan Tancak Kembar semakin terpancar dengan bertebarnya aneka bebatuan yang dilapisi lumut tebal. Kejernihan dan kesejukan airnya juga memperkuat nilai keunikan objek wisata alam ini. Berada di tebing alam dan kawasan hutan lindung dengan ketinggian 900 m dpl, lokasi obyek ini juga didukung oleh panorama alam yang indah dan menawan untuk dinikmati.

Bagi masyarakat setempat, Air Terjun Tancak Kembar yang berada di lereng timur Pegunungan Argopuro ini dinilai bernuansa mistis. Berdasarkan mitos yang berkembang di masyarakat setempat, air terjun ini merupakan tempat pemandian Dewi Rengganis dengan sisi kiri air terjun dijaga oleh lelaki dan bagian kanan adalah para wanita.

Konon, Dewi Rengganis merupakan seorang puteri dari Majapahit yang melarikan diri akibat terjadinya peperangan. Dalam pelariannya, puteri yang kesohor karena kecantikannya itu kemudian mendirikan kerajaan kecil di puncak Gunung Argopuro. Berdasarkan legenda ini kemudian diyakini bahwa air terjun ini mengandung khasiat khusus yaitu jika pengunjung mencuci muka disana maka kulitnya akan awet muda.

Untuk menikmati keindahan dan keunikan Si Kembar ini, relatif tidak mudah. Dari pusat kota Bondowoso, rute yang harus dilalui penuh dengan tantangan dan siap menguji mental wisatawan. Bila berangkat dari kawasan kota, akan melewati jalan raya beraspal mulus menuju ke arah Besuki, sekitar 9 km. Selanjutnya melintasi jalan desa (beraspal) sejauh 12,5 km. Di sanalah tantangan dimulai. Badan jalan sempit, berkelok-kelok dan menanjak tajam karena kemiringannya sekitar 80 derajat.

Sampai di ujung jalan desa beraspal masih dilanjutkan dengan jalan setapak sejauh 2 km yang hanya cukup dilalui untuk satu sepeda motor saja bahkan jika musim penghujan untuk menuju ke lokasi air terjun hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Apabila jalan kaki membutuhkan waktu sekitar satu jam.

Hanya saja, begitu sampai di lokasi rasa penat itu dipastikan sirna. Betapa tidak, di balik rerimbunan pohon rimba tersebut terpampang sebuah tebing batu beraliran air putih jernih yang jatuh bak kapas. Sesampai di lokasi, rasa capek akan disapu hawa sejuk dari percikan air terjun kembar itu. Keindahannya spontan melahirkan ketakjuban bagi siapa pun yang menikmatinya. Anda tertarik mengunjungi? (Kom-PHT/Bdo/Veni)

Editor : Dadang K Rizal

Copyright ©2015

Artikel Terkait: