Remajakan Tanaman Jati

Radar Jember – BONDOWOSO – Usai melakukan penebangan hutan Jati di Bondowoso dan Situbondo, KPH Perhutani Bondowoso berencana mengajak masyarakat sekitar hutan untuk menanami hutan milik Perhutani dengan palawija. Namun, dalam waktu bersamaan KPH Perhutani berencana akan menanami hutan yang sudah ditebang dengan bibit Jati.

Kepada Jawa Pos Radar Ijen, Administratur KPH Perrhutani Bondowoso Adi Winarno mengatakan saat ini KPH masih melakukan penebangan pohon di hutan Jati. “Namun setelah dilakukan penebangan, makahutan itu akan kosong alias gundul,” katanya.

Saat itulah KPH Perhutani akan menanami hutan dengan bibit kayu Jati. “Namun dalam waktu yang bersamaan, saya mengajak warga untuk menanami hutan itu dengan tanaman palawija. Namun, kami hanya memberi waktu setahun saja,” katanya.

Saat warga panen, maka hasil palawija bisa diambil oleh masyarakat sendiri. “Itu merupakan bagian dari misi sosial Perhutani kepada warga sekitar hutan,” ujarnya. Namun begitu, warga diharapkan untuk memelihara tanaman bibit Jati yang baru ditanam oleh Perhutani. “Jadi ada fungsi take and give atau memberi dan menerima,

Kami memberikan keluasaan kepada masyarakat untuk tanam palawija namun masyarakat harus membantu mengawasi tanaman bibit Jati,” katanya. Selanjutnya Adi mengatakan selama ini masyarakat sekitar hutan turut membantu Perhutani. “Mereka itu ikut menjaga kawasan hutan. Juga, mereka bisa memanen palawija,” jelasnya.

Dan yang paling penting kehidupan masyarakat sekitar hutan ikut membaik kondisi ekonominya. “Jadi ada hubungan erat antara kita dengan masyarakat,” tambahnya. Adi juga mengatakan kayu jati yang sudah ditebang akan disimpan di TPK Klabang dan TPK Tapen.

“Kayu itu disimpan disana menunggu adanya proses lelang dari Jember,” ungkapnya. Sebab, kayu kayu Jati itu akan dilelang oleh Perhutani Jember. Bahkan ada yang dijual secara langsung dan kontrak.”- Bagi warga yang ingin beli Jati bisa ke Perhutani Jember,” katanya. Dan, kualitas kayu jati itu masuk kategori A. “Kayunya bagus sekali mutunya. Biasanya yang membeli adalah pebisnis mebeler,” pungkasnya. (eko/esb)

Sumber : Radar Jember, hal. 3 & 4
Tanggal : 10 Juni 2015