Sengon Atasi Lahan Kritis

Radar Jember – BONDOWOSO – Dalam kurun beberapa tahun belakangan ini, terjadi perubahan cukup signifikan terhadap kondisi lahan di Bondowoso. Masyarakat, khususnya petani banyak yang menanami lahannya dengan pohon sengon. Mereka melakukan konservasi alam sehingga lahan menjadi subur.

Selain itu, warga mampu mendapatkan penghasilan lebih karena kayu sengon yang punya nilai ekonomis itu dijual ke pabrik triplek. Tak ayal, terjadi perubahan ekonomi yang cukup signifikan kepada petani di Bondowoso. Pengembangan tanaman sengon serta sejumlah jenis kayu lainnya juga terbukti mengurangi luas lahan kritis secara signifikan. Catatan Dishutbun Bondowoso, dari luasan lahan kritis sekitar 36.000 hektar pada tahun 2008 kini hanya menjadi sekitar 8.900 hektar pada tahun 2014.

“Itupun sebagian besar lahan kritis yang tersisa merupakan lahan kritis actual atau lahan kritis tanpa lapisan olah tanah, sehingga memang sulit bagi tanaman untuk tumbuh di atasnya,” ujar Muhammad Erfan Gani, Kepala Dishutbun Bondowoso. Dia mengungkapkan, sekitar satu dekade yang lalu, setidaknya di kabupaten Bondowoso tanaman sengon belum banyak mencuri perhatian.

Minat orang untuk menjadikan tanaman ini sebagai usaha ekonomis dan ladang bisnis masih minim. Bahkan pada tahun 1990-an bantuan bibit sengon dari pemerintah kepada masyarakat melalui program penghijauan banyak yang ditelantarkan dan tidak ditanam. “Kalaupun ditanam, sangat jarang dilakukan pemeliharaan sebagaimana yang dianjurkan,” ungkapnya.

Kendati begitu, hal itu jauh berbeda pada saat ini di mana masyarakat seolah berlomba-lomba untuk menanam sengon. Saat ini, lanjut dia, usaha yang sudah dilakukan oleh pemerintah untuk mendorong pengembangan tanaman sengon dengan memberikan bantuan bibit sengon gratis kepada masyarakat.

Setiap tahun, ratusan ribu bibit sengon diserahkan kepada masyarakat. Selain itu, ada bantuan pemberian bibit dari BP DAS Bondowoso dan KPH Perhutani Bondowoso kepada masyarakat. Pemerintah juga membentuk kelompok bibit rakyat (KBR) di setiap desa. “Setiap KBR memproduksi bibit sengon sebanyak 40 ribu bibit. Lalu, bibit itu diberikan kepada masyarakat atau petani,” katanya. (esb/wah)

Sumber : Radar Jember, hal. 4
Tanggal : 12 Juni 2015