Tebang, Hasilkan RP 28 M

Radar Jember – BONDOWOSO – KPH Perhutani Bondowoso mulai memanen ratusan pohon Jati yang sudah berusia sekitar 60 — 70 tahun yang ada di kawasan hutan di Bondowoso dan Situbondo. Diperkirakan ada tujuh ribu lebih meter kubik pohon Jati yang ditebang. Rata-rata kayu Jati di hutan milik Perhutani memiliki kualitas tinggi.

Hal itu dikatakan oleh ADM Perhutani Bondowoso Adi Winarno kepada Jawa Pos Radar Ijen, Kamis (4/6). “Saat ini memang waktunya panen atau ditebang. Karena usia pohon sudah mencapai sekitar 60 – 70 tahun,” katanya.

Sedangkan hutan Jati yang ditebang di wilayah KPH Perhutani Bondowoso adalah hutan di Grujugan, dekat Polsek Grujugan, serta beberapa hutan lainnya di wilayah Bondowoso dan Situbondo. Penebangan sejumlah pohon jati tidak hanya di kawasan KPH Perhutani Bondowoso saja. Di berbagai daerah juga ada penebangan pohon jati.

Dengan kondisi alam Bondowoso yang dengan tanah subur dan intensitas hujan cukup banyak membuat teres atau mematikan pohon jati hanya enam bulan sampai satu tahun sebelum penebangan. “Jadi pohon itu tidak mendapatkan asupan makanan. Dan, saat pohon itu mati maka akan mengering. Maka pohon itu kayunya menjadi berkualitas tinggi,” katanya.

Berbeda dengan daerah seperti Bojonegero, Ngawi dan Madiun untuk waktu teres bisa satu sampai dua tahun. “Jika pohon jati di Bondowoso, teres lebih dari satu tahun bisa pecah kayunya,” ucapnya. Dia mengakui Pohon Jati paling bagus adalah di tanah berkapur seperti Bojonegero dengan masa panen Pohon Jati sampai 80 tahun. “Kalau jati di Bondowoso, lebih 70 tahun sudah tidak produktif, artinya pertumbuhan pohon lambat,” terangnya.

Untuk kualitas Pohon Jati KPH Perhutani Bondowoso tentu tidak kalah dengan daerah lain seperti Bojonegero. Lantaran terdapat wilayah Situbondo yang sama dengan kondisi tanah berkapur juga intensitas curah hujan rendah seperti Bojonegero Tahun 2015 terdapat 300 hektar pohon jati yang ditebang, dengan tujuh ribu meter kubik kayu jati yang dihasilkan. “Kalau 300 hektar, 80 persen pohon jati yakni menghasilkan tujuh ribu meter kubik,” ucapnya.

Sementara berapa nominalnya, dia meratakan satu kubik empat juta dikali tujuh ribu, berarti hasil yang didapat adalah 28 milyar. Sementara itu dari pengamatan Jawa Pos Radar Ijen, kayu jati sangat diminati masyarakat luas. Biasanya perusahaan kayu yang membeli Jati untuk diolah menjadi daun pintu, kusen, jendela, meja, lemari dan lainnya. “Permintaan masyarakat memang masih cukup tinggi untuk kayu Jati,” kata Sis, 60, pengusaha kayu Jati di Pejaten kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Bahkan meski harga kayu Jati cukup mahal, masyarakat banyak yang membelinya.”Karena kayu Jati ini sangat bagus kokoh dan indah saat dijadikan mebeler,” katanya. (eko/dwi/wah)

Sumber : Radar Jember, hal. 3 & 4
Tanggal : 5 Juni 2015