Pengabdian “Sang Kartini” Di Perbatasan

20150821pos1Sebatik (Antara News Kaltara) – Kegiatan “BUMN Hadir Untuk Negeri” pada HUT RI ke-70 di perbatasan, Kalimantan Utara oleh tiga perusahaan plat merah, yakni Perum Perhutani, PT. Pos Indonesia dan PT Secofindo sudah berakhir.

Namun, bagi warga Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara –pulau terluar yang sebagian daerahnya miliki Indonesia dan sebagian teritori Malaysia– banyak menyisakan kenangan khusus.

Pasalnya, untuk pertama kali kegiatan HUT RI berlangsung begitu meriah. Momen HUT RI kali ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan HUT RI genap berusia 70 tahun serta hadirnya pejabat teras perusahaan BUMN tersebut untuk bergabung dengan warga perbatasan merayakan hari sakral bagi bangsa Indonesia.

Ternyata, bukan hanya warga setempat yang merasakan momen istimewa yang banyak meninggalkan kenangan, tetapi bagi para pejabat dari BUMN yang hadir di Pulau Sebatik, di antaranya Direktur Utama Perum Perhutani Mustoha Iskandar dan Kepala Biro Komunikasi Perusahaan Perhutani Susetiyaningsih.

Mustoha mengaku terharu sekaligus bangga ketika Bupati Nunukan H. Basri yang saat pengibaran bendera Merah Putih menjadi inspektur upacara 17 Agustus 2015 namun memberi amanah agar dirinya yang memimpin penurunan Sang Saka Merah Putih.

Orang nomor satu di Perum Perhutani itu tampaknya merasakan sekali suasana detik-detik kemerdekaan saat menjadi bagian dari warga yang bermukim di ujung negeri –berhadapan langsung dengan warga Negeri Jiran yang sementara ini kondisi perekonomian serta infrastruktur lebih baik dari Indonesia.

Bagi Susetiyaningsih banyak kenangan yang tak terlupakan saat menjadi bagian dalam perayaan HUT RI ke-70 di Sebatik.

Di antara pengalaman itu adalah saat penyaluran Sembako murah bagi warga perbatasan yang digelar oleh perusahaan BUMN tersebut. Ternyata saat pendistribusian mereka menghadapi kendala dengan keterbatasan personil, maklum saja sebagian jadi panitia penyelenggara puncak perayaan HUT serta berbagai lomba tradisional yang digelar.

Selain itu, sebagian warga terlibat aktif dalam berbagai acara termasuk lomba tradisional 17-an agustus. Namun, kondisi kritis yang berpacu dengan waktu bagi pendistribusi terbantu ketika seorang wanita cantik tanpa sukan ikut berkeringat menyusun dan mengatur paket sembilan bahan pokok masing-masing dalam sebuah kantong ke dalam mobil.

Ternyata wanita yang sangat membantu kerja panitia pendistribusian paket Sembako itu adalah Kepala Kantor Pos Sebatik di Sungai Nyamuk Dewinta Ayu Prihartini “Semua paket sembako dari Nunukan di drop di Kantor Pos Sebatik hingga ke halaman untuk selanjutnya didistribusikan ke masing masing desa di empat kecamatan,” ujar Susetiyaningsih.

“Kami sangat terbantu oleh dia. Karena truk pengangkut hanya satu dan harus kembali maka panitia memutuskan untuk mengangkut dengan mobil pickup kecil. Masalah lain, kuli pengangkut sulit dicari karena semua ikut lomba-lomba di lapangan Sungai Nyamuk”.

Ia melihat bahwa kehadiran PT. Pos diperbatasan sangat strategis serta memiliki nilai besar bagi keberadaan Pulau Sebatik yang menjadi berada negara karena berhadapan langsung baik darat dan laut dengan Tawau, Sabah, Malaysia bagian timur.

Kehadiran lembaga strategis bagi kehidupan sosial, ekonomi dan politik warga perbatasan itu, ujarnya kian bermakna saat diisi oleh petugas yang memiliki integritas serta pengadian besar seperti Ibu Dewi. “Mungkin terlalu berlebihan jika saya sebut sebagai pahlawan, namun apapun profesi kita jika benar-benar kita memandang dan memanfaatkan bagi kepentingan lebih besar, khususnya untuk negara tercinta ini, meskipun itu hal kecil namun sudah berbuat sesuatu bagi Indonesia, itulah pengabdian dan tidakan heroik untuk mengisi kemerdekaan seperti ditunjukan oleh Kartini (Ibu Dewi),” tuturnya.

“Ini demi suksesnya BUMN Hadir Untuk Negeri, saya bagi tugas dengan ibu Soesi Perhutani meskipun saya belum pernah bertemu hanya telpon telponan yang penting kerjaan beres” ujar Dewinta yang baru tugas di Sungai Nyamuk beberapa bulan.

Tampaknya, dalam memaknai kemerdekaan ini maka bisa dimulai dengan hal-hal kecil namun bermanfaat bagi orang lain, hkan bisa dimulai dalam lingkungan terbatas karena hakikatnya kemerdekaan tanpa makna jika kita tidak memberi sesuatu yang bernilai bagi orang lain.

Seperti ungkapan John F Kennedy, presiden AS ke-35, 20 Januari 1961: “Jangan tanyakan apa yang Negara dapat perbuat untuk Anda, tetapi tanyakanlah apa yang dapat Anda perbuat untuk Negara!”.

Ditulis Oleh Susetiyaningsih

Editor:iskandar zulkarnaen

Sumber : kaltara.antaranews.com
Tanggal : 21 Agustus 2015