Klaster Permudah Akses Pasar Mebel

Suara Merdeka – INDUSTRI mebel dan ukir bahkan telah menjadi urat nadi perekonomian masyarakat yang letaknya di ujung Pulau Jawa Ini. Dari 16 kecamatan yang ada di Jepara, hanya Karimunjawa yang tidak ada usaha kerajinan mebel dan ukir. Bahkan magnet mebel ukir telah membuat tumbuhnya usaha mebel nonukir. Hal ini bisa dilihat dari kontribusi mebel dan ukiran Jepara pada produk domestik regional bruto (PDRB) Jepara yang mencapai 27 persen.

Tidak hanya pasar dalam negeri, mebel ukir Jepara puluhan tahun merambah pasar ekspor di lima benua, tersebar di 106 negara. Nilai ekspor nonmigas di Jepara selama 2014 mencapai 131,1 juta dolar AS atau naik 16,48 persen dibanding 2013 (112,52 juta dolar AS). Dari nilai ekspor sebesar itu, didominasi ekspor mebel dari kayu yang mencapai 114,78 juta dolar AS. Sementara volume ekspor mebel 2014 sebanyak 31,18 juta kg yg dilakukan 223 eksportir. Meski hampir sebagian besar warga desa di Jepara menggantungkan hidupnya dari usaha mebel dan ukiran, banyak pembeli mebel dan ukiran dari luar daerah yang bingung jika membeli mebel yang dibutuhkan. Tak jarang, mereka kesasar dan harus keliling dari kampung ke kampung untuk mendapatkan barang yang diinginkan.

Akhirnya, mereka terpaksa kembali ke deretan showroom mebel yang berjajar di sepanjang Jl Soekarno Hatta Tahunan sampai kawasan kota Jepara. Kebingngan itu, salah satunya pernah dialami Heru Setyawan (41), warga Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten yang mulai merintis penjualan mebel Jepara di Klaten.

“Saat pertama ke Jepara saya bingung karena hampir semua desa ada aktivitas perajin yang memproduksi kerajinan mebel. Hanya saja, di desa-desa yang saya kunjungi tidak semua menyediakan barang yang saya butuhkan, sehingga saya harus mengelilingi Jepara terlebih dahulu. Alhamdulillah, setelah satu tahun saya semakin hafal pusat-pusat kerajinan di Jepara sehingga jika membutuhkan tinggal njujuk ke tempat yang dituju,” kata Heru. Sejak 2005 Pemkab Jepara merintis berdirinya klaster-klaster UMKM.

Difasilitasi Departemen Perindustrian RI, pemkab menggandeng Pemprov Jateng, Institut Pertanian Bogor (IPB), CIFOR, Perhutani, Asosiasi permebelan dan pengrajin membentuk Tim Kerja Klaster. Tim Kerja Klaster lantas merumuskan berdirinya Forum Rembug Klaster (FRK) yang beranggotakan perajin kecil, pengusaha besar, LSM dan pemerintah daerah.

FRK kemudian bertugas membentuk klaster, menginisiasi tindakan-tindakan kolektif antar UMKM dalam klaster sehingga diperoleh efisiensi kolektif, serta bertindak sebagai dinamisator antara pencapaian tujuan-tujuan bisnis individual UMKM dan kepentingan kolektif klaster.

Bupati Jepara Ahmad Marzuqi mengatakan, pendekatan klaster menjadi strategis karena bermanfaat baik bagi anggota klaster itu sendiri tetapi juga bagi pertumbuhan ekonomi kawasan.

Keberhasilan klaster memiliki daya ungkit tinggi bagi pembangunan daerah, membantu UMKM melalui kebersamaan, memudahkan transfer pengetahuan dan teknologi, menciptakan lingkungan yang kreatif untuk menumbuhkan inovasi dan kerja sama, serta lebih fokus dalam mendorong sinergitas UMKM di dalam klaster. “Pengembangan klaster menjadi solusi percepatan pengembangan UMKM karena klaster melibatkan pelaku dari hulu ke hilir. Melalui klaster berbagai kelemahan yang biasanya ditemui industri kecil dapat dikurangi.

Contohnya, bidang produksi dan pemasaran, kata Marzuqi, Senin (24/8). Pihaknya juga berharap pengembangan klaster berbasis masyarakat mewujudkan kemakmuran dan kestabilan ekonomi daerah karena dalam klaster tidak ada dominasi pelaku. Setiap bagian dalam klaster merupakan kesatuan unit usaha dinamis.

“Ketika klaster berkembang, tidak terjadi ada pelaku yang menang dan kalah yang dapat menimbulkan kesenjangan sosial yang memicu ketidakstabilan, imbuh Marzuqi.

Permudah Pembeli

Meski tujuan semula adalah untuk pertumbuhan ekonomi wilayah, adanya klaster justru mempermudah pembeli yang datang langsung ke Jepara. Pembeli yang baru pertama kali ke Jepara atau yang tidak mengenal Jepara secara mendalam dengan mudah akan memperoleh barang yang dibutuhkan jika mengetahui alamat masing-masing klaster.

Untuk mempermudah pemasaran produk masing-masing klaster dan memperkuat eksistensi klaster, Pemkab Jepara bersama Pusat Penelitian Pertanian Internasional Australia (Australian Centre for International Agricultural Research/ACIAR), FRK, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (Balit-banghut) Kementerian Kehutanan, dan Fakultas Kehutanan IPB, dan CIFOR sejak Juli 2012 menerbitkan peta wisata dan belanja mebel. Peta berisi informasi tentang tempat (kluster) dan namanama jalan menuju sentra-sentra kerajinan mebel di Jepara.

Peta yang dikemas dalam bentuk booklet berbahasa Inggris ini juga berisi panduan yang memberikan akses informasi langsung bagaimana wisatawan dapat memesan mebel dengan motif ukiran khas Jepara ke perajin kecil dengan harga miring dan kualitas setara galeri di toko besar.

Peta ini merupakan jembatan pembeli dan perajin. Di satu sisi pembeli dapat dengan mudah menjangkau sentra-sentra produksi mebel dan ukiran secara langsung, tidak tergantung pada showroom yang terletak di sepanjang jalan utama yang membelah kota Jepara. Di sisi lain, perajin dapat berinteraksi langsung dengan pembeli sehingga nilai tawar mereka meningkat.

(H15- 58)

Sumber : Suara Merdeka, hal. 21
Tanggal : 11 September 2015