Batu Panjang, Situs Budaya Perhutani Ciamis Peninggalan Peradaban Purba

BATU PANJANGCIAMIS, PERHUTANI (22/10) |  Batu Panjang Jahim adalah situ budaya yang terletak di wilayah Dusun Cimara Desa Cibeureum Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis.  Termasuk kabuyutan yang letakannya berada paling utara Kabupaten Ciamis  karena sudah berdekatan dengan tapal batas kabupaten Ciamis dan Kabupaten Majalengka.

Saat ini musim kemarau panjang masih terasa, udara kering  bercampur debu dan rumput mulai terlihat meranggas. Namun,  jauh di puncak pegunungan Madati, kesejukan alam masih terjaga dalam kerimbunannya. Pepohonan  tetap menghijau dan gemercik air masih terdengar.  Itu yang terasa saat kita menyambangi situs budaya Batu Panjang yang berada di kawasan hutan pinus gunung Madati wilayah Jahim yang dikelola oleh Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ciamis.  Sebagian besar masyarakat di wilayah jahim tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sukamantri dengan mata pencaharian sebagai penyadap pinus dan sebagian lagi melakukan kegiatan Pengelolaan Lahan di bawah Tegakan (PLDT) dengan jenis tanaman kopi.

Yang menjadi juru kuncinya saat ini adalah Ki Idi Shahidin. Kabuyutan yang berada di ketinggian sekitar 1100 mdpl ini berada tepat dipinggir jalan lintas desa yang cukup ramai dilalui kendaraan bermotor karena merupakan jalur alternatif yang menghubungkan kedua kabupaten.  Ciri kabuyutannya dapat dilihat dari rimbunan pepohonan hutan yang masih tersisa diantara dominasi pohon-pohon pinus, sehingga mudah untuk mengenalinya. Keindahan alam sudah terasa manakala akan memasuki kawasan hutan pinus.  Baik dari arah Majalengka maupun dari Ciamis panorama luas akan terhampar.  Di Sebelah utara, ngemplang  (membentang) daerah Sawah Lega Cikijing dan sekitarnya, dari arah selatan membentang hamparan pesawahan Sukamantri dan sebagian Panjalu.

Keberadaan Situs Batu Panjang sudah dikenal sejak lama dikalangan masyarakat sekitarnya. Luasnya sekitar 1000 meter persegi. Bagi sebagian masyarakat,  pegunungan ini juga disebut Gunung Bitung  karena terkait dengan  keberadaan Situs Gunung Bitung yang berjarak beberapa kilometer ke arah timur, yaitu di Desa Wangkelang, Kampung Pawijen, Kecamatan Cingambul, Majalengka. Gunung Bitung  sudah dikenal sebagai situs sejarah peninggalan masa klasik terkait dengan Kerajaan Sunda Galuh Kawali.  Beberapa literatur menyebutkan bahwa  Gunung Bitung merupakan cikal bakal KerajaanTalaga.

Secara fisik, apa yang dapat dilihat di kabuyutan ini berupa kumpulan batu andesit berukuran besar dengan bentuk dominan  panjang. Posisinya ada yang berdiri memancang dan rebah melintang, nyaris tak beraturan. Batu-batu panjang inilah yang melatar belakangi penamaan kabuyutan.

Gugusan bebatuan utama dari situs ini ini berada di cekungan lereng  bukit dengan arah memanjang timur laut– barat daya.  Lebar cekungan itu sekitar 8 meter dan panjangnya menanjak sekitar 30 meter. Ujung bukit yang mengarah ketimur  merupakan bagian  yang menurun, sekaligus sebagai gerbangnya, berhadapan tepat dengan jalan aspal. Sedangkan bagian baratnya merupakan lereng menuju puncak bukit.  Di jalan masuk situs terdapat sekelompok batu panjang yang bertumpangan. Batu ini disebut masyarakat sebagai Batu Kendang, karena mirip alat musik kendang. Sesungguhnya sebaran batu berukuran panjang dan besar  terlihat cukup banyak di wilayah sekitarnya.  Sepertinya, jika lereng bukit itu dikupas akan tersusun dari bebatuan seperti itu.

Menurut keterangan Ki Idi Shahidin, juru kunci yang sudah bertugas selama 20 tahun,  wilayah sakralnya berada di sebelah selatan ditandai dengan kelompok batu yang berciri khusus.  Ciri khusus ini berupa batu yang berdiri tegak setinggi kurang lebih 1,7 meter. Batu ini dikelilingi batu-batu panjang lainnya dengan posisi rebah maupun berdiri dengan psosisi lebih rendah. Didekatnya tumbuh Pohon Tanjung. Tidak Jauh dari kedua batu itu, terdapat sebuah batu  yang juga dikeramatkan karena di dindingnya ada cekung-cekung kecil berjumlah 5 buah yang dianggap masyarakat setempat merupakan jejak kaki maung. Batu Tapak Maung ini tingginya sekitar 80 cm dan berdiameter 50cm. Bentuknya seperti batang pohon yang terpotong.

Sementara sebaran batu lainnya yang terhampar menurun ke arah timur laut  juga seperti terkondisi membentuk semacam tatanan. Walau terkesan acak-acakan, namun beberapa susunan batu menyiratkan adanya pesan tertentu. Seperti misalnya batu besar yang berdiri tegak di disisi kiri dan kanan Seolah-olah merupakan lawang masuk ke area utama. Terdapat juga batu tegak yang dikelilingi kumpulan batu yang lebih kecil serta batu pasangan yang berdiri miring dan ujungnya saling tertaut membentuk bangun segitiga.

Teori Ketika Magma Membeku Dan Tradisi Megalitikum

Apa yang terlihat di Situs Batu Panjang Jahim, merupakan ciri penting  tinggalan budaya  dari masa megalitikum (megas berati besar, lithos berarti batu). Dalam tradisi megalitikum,  batu yang digunakan dapat berupa satu batu tunggal (monolit), tumpukan batu besar maupun kecil, atau susunan batu yang diatur dalam bentuk tertentu. Megalit seringkali dipotong atau dipahat terlebih dahulu dan dibuat terkait dengan ritual religius atau upacara-upacara tertentu seperti kematian atau masa tanam.

Beberapa ciri budaya megalitikum diantaranya menhir, dolmen, kubur batu, sarkofagus. Selain itu, batu dakon, batu kenong,waruga, batu lumpang pun termasuk ciri Megalitikum. Tidak semua mesti berciri primer batu saja, struktur ruangpun dapat menjadi ciri jaman mgelaitikum seperti punden berundak misalnya. Budaya Megalitikum berkembang antara 2500-1500 SM.  Masa yang lebih muda disebut neolitikum (1000-100 SM) ditandai dengan batu-batu yang sudah mengalami proses penghalusan. Di tatar sunda, punden berundak,  batu lumpang, batu dakon dan menhir termasuk paling banyak ditemukan tersebar di berbagai tempat.

Dari gambaran diatas, maka Kabuyutan batu panjang Jahim memenuhi unsur tradisi megalitik. Adanya menhir dari  batu yang masih utuh tegak berdiri, dan mungkin dolmen dari susunan batu yang rebah atau bertumpuk,memberi gambaran bahwa pada jamannya tempat ini merupakan wilayah sakral  terutama pemujaan terhadap Hyang (sembah-hyang) dan unsur lainnya yang berhubungan dengan kesuburan.

Kenapa bebatuan seperti itu berada di Gunung Madati?  Dari beberapa sumber lisan, menyebutkan bahwa batu-batu panjang tersebut merupakan reruntuhan bangunan kuno.  Bisa saja hal itu benar,  bahwa jaman baheula (dahulu) ada bangunan sederhana yang terbentuk dari tatanan batu sebagai pusat ritual, atau memang kabuyutan ini  adalah punden berundak.

Analisa sementara menurut abah Idi Sahidin, dugaan adanya basalt yang muncul di wilayah Jahim bisa dikaitkan dengan pristiwa meletusnya Gunung Gegerhalang (Gunung Candradimuka) 7000 tahun SM. Gunung ini merupakan priode kedua setelah Gunung Plistosen yang meletus sebelumnya. Dari kaldera di sisi utara Gunung Gegerhalang ini lahirlah Gunung Ciremai yang dikenal saat ini. Ada juga yang menyebutkan bahwa Sawah Lega (hamparan sawah) yang terdapat di Wilayah Cikijing merupakan danau purba yang terbentuk berbarengan dengan lahirnya Gunung Api Gegerhalang.

Namun ketika Gegerhalang meletus dan melahirkan Gunung Ceremai, danau itu mungkin terkubur material letusan Gegerhalang sehingga terjadi pendangkalan dan berubah menjadi rawa. Danau Purba Cikijingini membentang dari timur hingga ke barat, di ujung barat dari danau ini mengalir sungai Cilutung dan sebelah selatan mengalir pula sebuah sungai ke arah Ciamis. Sungai-sungai ini berfungsi sebagai tempat buangan air dari danau purba tersebut.

Selain Gunung Gegerhalang yang berada di arah timur laut, maka di arah lainnya  berdiri Gunung Sawal, Gunung Cakrabuana dan Gunung Galunggung yang juga pernah meletus pada masanya.  Jadi masuk akal jika akhirnya tersingkap batuan tihang kekar di Jahim karena lokasi ini memang berada di tengah dua gunung api purba yang sudah tidak aktip dan dua gunug api lainnya  yang masih aktif dan juga pernah meletus pada masanya. (Kom-PHT/Cms/Aan).

Editor : Dadang K Rizal

Copyright ©2015