Persiapan Akhir Beroperasinya Pabrik Sagu Perhutani Di Sorong Selatan

IMG_5750 copyJAKARTA – PERHUTANI (14/10) | Direktur Utama Perum Perhutani, Mustoha Iskandar, melakukan kunjungan kerja untuk pengecekan fisik kesiapan pabrik sagu yang dibangun Perum Perhutani di Distrik Kais, Sorong Selatan, Papua Barat (12/10) dan rencananya akan dioperasikan pada awal 2016 mendatang.

Kendati belum didukung power plants dan depo BBM yang diharapkan bisa didukung BUMN lain, tetapi Direktur Utama Perum Perhutani Mustoha Iskandar menyatakan bahwa pabrik harus tetap berjalan. Secara fisik bangunan fisik pabrik dan mesin-mesin produksi sudah dinyatakan selesai dan hanya tinggal pembenahan kolam limbah sekitar pabrik.

“Awal tahun 2016 tanpa menunggu power plants dan depo, ini harus jalan”, kata Dirut Perhutani, Mustoha Iskandar ketika berada di Kais Sorong Selatan, Selasa (13/10). Menurut Mustoha Iskandar, pabrik belum dapat beroperasi secara maksimal karena pasti masih dalam tahap penyesuaian.

Sagu (Metroxylon Sp) adalah tanaman asli Indonesia yang menjadi sumber karbohidrat utama yang dapat digunakan untuk makanan sehat, bioethanol, gula untuk industri makanan dan minuman, pakan ternak, industri kertas, farmasi dan lainnya. Potensi Indonesia menjadi produsen sagu terbesar didunia dapat segera diwujudkan karena data menunjukkan bahwa tanaman sagu terluas ada di Papua dengan hamparan lebih kurang 4,5 juta hektare.

Kualitas pohon sagu Raja asal Papua bisa menghasilkan sagu rata-rata 900 kilogram per batang, beda dengan pohon sagu Malaysia yang rata-rata menghasilkan tepung sagu maksimal 250 kg perbatang. Petani sagu di Papua Barat seperti di Sorong Selatan ini secara tradisional hanya sanggup mengolah satu batang sagu selama dua minggu karena belum adanya industry pengolah.

Dengan adanya pabrik sagu yang dibangun Perum Perhutani atas penugasan pemerintah melalui Kementerian BUMN tersebut, tanaman sagu penduduk sekitar nantinya bisa langsung diolah dalam waktu singkat. Perhutani direncanakan akan membeli batang sagu yang ditebang oleh warga pertualnya seharga Rp 10.000 hingga Rp 15.000 atau berdasarkan kesepakatan kerjasama melalui kelembagaan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Bosiro yang sebelumnya telah dibangun bersama antara masyarakat Kais dan Perhutani. Lembaga ini kedepan diharapkan akan mewadahi proses-proses bisnis ekonomi dan social antara warga dan pabrik sagu.

Perum Perhutani menerima konsesi lahan hutan sagu di Sorong Selatan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan seluas lebih kurang 15.000 hektare dan produksi tepung sagu ditargetkan bisa mencapai 100 ton perhari untuk mendukung program kedaulatan pangan nasional.

Dari total investasi sebesar Rp. 112 miliar dan tenaga kerja lebih kurang 40 orang di pabrik dan 400 orang di lahan-lahan hutan sagu, maka pabrik sagu Perhutani ditargetkan akan memberikan sumbangsih pendapatan ke perusahaan mencapai Rp 100 miliar per tahun, dan juga akan menjadi pemacu penggerak perekonomian Sorong Selatan. Pabrik Sagu di Distrik Kais Sorong Selatan dibangun akhir tahun 2012 oleh kontraktor PT Bharata dengan pendamping PT Indah Karya, direncanakan telah berproduksi 50 persen pada tahun 2016 dan direncanakan berproduksi kapasitas pebuh pada tahun 2017.

Pada saat awal pembangunan tahun 2012, aksesibilitas ke lokasi distrik Kais masih menggunakan jalan air melalui sungai dan laut dari pelabuhan sungai Teminabuan, tetapi saat Direktur Utama Perum Perhutani Mustoha Iskandar berkunjung pada hari Senin dan Selasa (12-13/10), langsung menggunakan jalan darat Teminabuan ke desa Kais sepanjang delapan setengah kilometer karena akses jalan telah terbuka berkat dukungan Kementerian Pekerjaan Umum.

“Sekarang dari Teminabuan ke Kais tidak perlu naik speedboad lagi, cukup melalui jalan darat karena jalan sudah tembus. Saya yakin Pabrik Sagu Perhutani di Kais ini kedepan dapat menjadi pusat penggerak perekonomian wilayah Sorong Selatan” demikian Mustoha Iskandar.

Ikutserta dalam kunjungan kerja Direktur Utama Perum Perhutani adalah Ketua kelompok kerja (POKJA) Papua, Judith N Dipodiputro yang konsen kepada pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa di Distrik Kais yaitu kampung Taburi dan Kais. Judith yakin bahwa pabrik Sagu Perhutani tersebut akan menstimulir perubahan social ekonomi masyarakat dua kampong yang berpenduduk lebih kurang 300 KK tersebut serta desa-desa lainnya. Selain itu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kais dapat dikembangkan jurusan Kehutanannya khususnya untuk industri sagu.

Sementara salah satu Direktur PT Energy Management Indonesia (Persero) atau PT EMI, Ganesha Tri Chandrasa yang ikut rombongan melihat adanya peluang pengembangan energy terbarukan dari proses industri sagu papua tersebut untuk powerplant.

Pabrik Sagu Perum Perhutani yang dapat ditempuh jalan darat dari kota Sorong kurang lebih tujuh jam tersebut akan segera diresmikan dan dipastikan bakal berproduksi pada tahun 2016. (Kom-PHT)

Copyright ©2015

Artikel Terkait: