Jalur Alternatif Persingkat Waktu Tempuh Kota Batu-Purboyo

RADARMALANG.CO.ID, MALANG (7/7/2016) | MENCARI JALUR ALTERNATIF: Tim Jawa Pos Radar Malang membelah hutan di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, 18 Juni lalu.
Bandara Internasional Purboyo, Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, memang masih dalam angan-angan. Namun jika itu terwujud, akan ada banyak perubahan di Malang Raya. D antaranya bakal dibuka jalur alternatif langsung dari Kota Batu ke Purboyo. Tim Jawa Pos Radar Malang pada 18 Juni lalu menyusuri calon jalur alternatif itu.

Dengan menunggangi motor trail, tim Jawa Pos Radar Malang yang terdiri dari Doli Siregar, Ahmad Yahya, Bayu Mulya dan Andi Wira melintasi jalan terjal bebatuan dan berlumpur. Terkadang, harus membelah hutan belantara dari Kota Batu menuju jalibar Oro-Oro Ombo berlanjut ke Tlekung, Petung Sewu, Selorejo, Desa Dalisodo Wagir, hingga Jalibar Kepanjen. Karena jalan makadam, kendaraan roda empat belum bisa melintas. Jarak dari Kota Batu hingga Purboyo lewat jalur alternatif ini sekitar 75 kilometer.

Jarak ini lebih jauh dari jalan normal dari Kota Batu menuju Kota Malang lalu ke arah Kepanjen sampai Purboyo. Jalur normal hanya 69 kilometer. Namun waktu tempuh tentu lebih cepat lewat jalur alternatif, jika jalan mulus. Kurang dari 2 jam. Sebaliknya jika lewat jalan normal, bisa sekitar 3 jam karena terjebak kemacetan seperti di Jalan Soekarno-Hatta, Sukun, maupun di Kebonagung.

Saat ini, calon jalur alternatif dari Kota Batu ke Purboyo memang sangat tidak layak. Karena sebagian besar jalan makadam itu tertutup oleh rerumputan liar. Ketinggian rumput selutut orang dewasa. Sebagian lainnya bahkan ada yang tertutup rumput ilalang setinggi orang dewasa.
Selain banyak tertutupi rumput ilalang, jalan alternatif itu kondisinya juga sudah tidak normal. Ada yang sempit karena tertutupi pepohonan dan sebagian lainnya tertimbun material longsoran tanah.

Jalan makadam di dalam kawasan hutan milik Perum Perhutani KPH Malang itu berada di wilayah Dau. Panjang jalan sekitar 5 kilometer. Dari Dau, bisa menembus Desa Dalisodo, Kecamatan Wagir. Selanjutnya, dari Wagir bisa diteruskan ke beberapa jalan alternatif lainnya. Seperti ke Permanu Pakisaji atau diteruskan ke Kepanjen melintasi jalibar Kepanjen.

Jalan makadam di kawawan hutan itu sebenarnya cukup bagus untuk dihidupkan lagi dan ditingkatkan kualitas jalannya. Apalagi, sepanjang jalan makadam ini, pengguna jalan tidak hanya bisa merasakan kesejukan alam, tapi juga bisa menikmati keindahan kawasan hutan dengan rerimbunan pohon. Jalanan yang terbentuk melintasi kawasan hutan pinus.

Sayangnya, kondisi jalan itu sekarang tidak terurus. Sebagian besar jalur tersebut tetutup rerimbunan rumput. Bahkan, ada juga jalur yang hanya bisa dilalui satu kendaraan roda dua. Padahal, sebelumnya jalur tersebut bisa dipakai kendaraan roda empat untuk bersimpangan.

Administratur Perum Perhutani KPH Malang Arief Herlambang mengakui saat ini jalan makadam di dalam kawasan hutan itu sudah jarang dipakai. ”Dulunya dipakai untuk angkutan kayu dan getah tanaman,” kata Arief.

Menurutnya jika jalan makadam tersebut bakal dimanfaatkan tinggal dilakukan peningkatan saja. Karena fondasi jalannya sudah ada. Bahkan, dia juga sangat mendukung jika jalan tersebut bakal dimanfaatkan untuk jalan alternatif. ”No problem. Kami sangat setuju kalau (jalan makadam kawasan hutan, Red) mau dijadikan jalan alternatif,” kata dia.

Masih, menurut Arief, pembuatan jalan alternatif termasuk harus melintasi kawasan hutan itu sudah seharusnya dilakukan. Jalan baru sudah menjadi kebutuhan untuk menjawab perkembangan Malang Raya dengan segala aspeknya. Khususnya pada perkembangan pariwisata. ”Jalanan di Malang sudah demikian padat, biar tidak macet-macet terus sudah harus ada jalan baru,” kata dia.

Untuk diketahui, rencana pembangunan bandara baru di wilayah Malang Selatan bukan sekadar wacana. Tak lama lagi, bandara berlevel internasional itu mulai dibangun di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Ini dibuktikan dengan telah dilakukannya kesepakatan tertulis antara Pemprov Jatim dengan marinir. Bahkan, Kementerian Perhubungan maupun KSAL (Kepala Staf Angkatan Laut) juga sudah mendukung. (c2/yak)

Tanggal : 7 Juli 2016
Sumber : radarmalang.co.id