Kopi Hutan Jadi Primadona Baru

KOMPAS, BONDOWOSO (25/7/2016) | Kopi hutan kini menjadi primadona baru di pasar dunia. Kopi yang dimaksud adalah kopi rakyat yang ditanam di area hutan produksi tanpa membabat tegakan. Kopi itu dianggap unggul karena lebih ramah lingkungan dan memberikan keberlanjutan pada petani kopi.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perum Perhutani Cepu Suwarno dalam seminar bertema “Kopi Berkelanjutan”, di Festival Kopi Nusantara, di Sem-poL Bondowoso, Minggu (24/7), mengatakan, pasar utama kopi hutan dari Indonesia adalah Amerika Serikat dan Eropa Di sana menghargai kopi hutan jenis arabika senilai Rp 50000 per kilogram atau dua kali lipat dibandingkan dengan kopi dari perkebunan biasa.

Menurut dia, pasar dunia kini mencari hal-hal yang ramah lingkungan. Kopi hutan ramah karena tetap menjaga tegakan sebagai naungan sehingga konsep menjaga hutan tetap berfungsi.

“Naungan ini juga menjadikan rasa kopi berbeda. Kopi dari Brasil yang tanpa naungan hanya dihargai 10 sen dollar AS per 0,5 kg, sedangkan kopi dari Sumatera yang ditanam dengan naungan bisa dihargai 8-11 kali lebih mahal,” kata Suwarna

Di Indonesia, kopi hutan dikembangkan Perum Perhutani seluas 115.000 hektar. Sebanyak 45000 hektar ada di Jawa Timur. Namun, produksinya hanya sekitar 75 kg per hektar. Jumlah itu lebih rendah daripada kopi perkebunan yang berkisar 0,75-2 ton per hektar.

Kepala Divre Perhutani Jawa Timur Andi Purwadi akan menggunakan bibit unggul guna meng-optimalkan hasil tanaman kopi hutan. Pupuk organik juga bakal dilakukan intensif guna menjaga kualitas. Di Bondowoso, misalnya, selain kopi, petani juga diberdayakan untuk memelihara ayam dan bebek. Kotoran ternak tersebut yang digunakan untuk memupuk tanaman kopi hutan.

Menurut Senior Coffee Program Manager The Sustainable Trade Initiative (IDH) Imam Suharto, keberlanjutan kini menjadi kunci dalam pemasaran kopi dunia. Prinsip keberlanjutan itu yang akan dikembangkan di Bondowoso yang kini sedang gencar-gencarnya mempromosikan kopi lokal mereka.

Bupati Bondowoso Amin Said Husni mengatakan, kopi yang ditanam dengan prinsip berkelanjutan bisa mengangkat ekonomi petani Sebagai gambaran, kopi hutan di Bondowoso seluas 14.000 hektar. Daerah ini menjadi salah satu sentra penghasil kopi terbaik dunia. Produksi tercatat 1500 ton dan 800 ton di antaranya diekspor. (SIT)

Tanggal : 25 Juli 2016
Sumber : Kompas, hal – 23