Pasar Kopi Jabar Melebar

PIKIRAN RAKYAT, BANDUNG (12/7/2016) | Pangsa pasar komoditas kopi jenis arabika dan robusta asal Jawa Barat melebar sejak setahun terakhir se-iring dengan meningkatnya peminat dari sektor industri farmasi dan kosmetik serta industri pangan lain­nya. Fenomena ini dinilai menjadi pe­luang untuk mengoptimalkan pemasaran dan perdagangan aneka produk kopi asal Jawa Barat.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat Arief Santosa, di Ban­dung, Senin (11/7/2016), men­gatakan, melebarnya pemasaran pro­duk kopi Jawa Barat sangat terlihat dari bermunculannya aneka produk industri farmasi dan kosmetik serta industri pangan dan minuman yang menggunakan bahan baku kopi ara­bika. Produk kopi jenis arabika Pri­angan asal Jawa Barat termasuk yang paling diminati sejumlah industri di­maksud, di mana sejumlah pebisnis kopi menginformasikan kepada Di­nas Perkebunan Jawa Barat.

Soal volumenya, menurut Arief, belum diketahui pasti tetapi kecen­derungannya terus naik sejak se­tahun terakhir. Apalagi setelah se-jumlah kopi asal Jawa Barat dike­tahui terus menambah ekspor ke Tai­wan, Korea, Eropa, dll. serta menang pada festival kopi di Amerika Serikat baru-baru ini.

Gambaran demikian, katanya, juga terjadi saat musim panen kopi di Jawa Barat saat ini, baik arabika maupun robusta. Segmen pemasaran tak lagi hanya kepada usaha pengolahan kopi secara curah, tetapi serapan dari industri produk jadi pun bermunculan, misalnya sebagai pelindung wajah, membuka sel kulit mati, menyegarkan wajah, industri minuman siap konsumsi, industri kue, perajin makanan, dll.

“Mudah-mudahan perkembangan ini membuat usaha perkebunan kopi di Jawa Barat mampu menjadi keku­atan ekonomi yang sangat besar bagi daerah ini. Untuk memperoleh peningkatan kepercayaan dan minat pasar, aspek kualitas sudah terus di­genjot sejak beberapa waktu lalu dan terus dikembangkan pada berbagai sentra produksi,” ujar Arief di­dampingi Kabid Produksi Yayan Cahyana Permana dan Kepala Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Dede Wahyu.

Menurut dia, berkembangnya seg­men pasar kopi bisa membuat stok yang ada pun menjadi cepat terser­ap. Selama ini, dari 750.000 ton pro­duksi kopi Indonesia per tahun,

400.000 ton diekspor sedangkan 350.000 ton yang dipasarkan di dalam negeri kemungkinan menjadi lebih cepat terserap di pasar Indone­sia sendiri.

Untuk meningkatkan daya saing pasar, baik ekspor maupun domestik, menurut Arief, Dinas Perkebunan Jawa Barat terus menyosialisasikan dan melakukan pelatihan cara pem­budidayaan tanaman yang baik dan ramah lingkungan, misalnya melalui sekolah lapang baik untuk kopi jenis arabika maupun robusta. Bahkan su­dah ada beberapa binaan, yang kare­na memiliki ikon produk aman pa­ngan, misalnya di Garut dan Kabu­paten Bandung, menjadi memiliki citra produk sendiri di pasar ekspor.

Kebangkitan robusta

Sementara itu, produk kopi jenis robusta Jawa Barat dikabarkan siap menguntit jenis arabika yang kini su­dah kembali mendunia. Segmen pasar kopi robusta asal Jawa Barat diam-diam mulai kembali bangkit walaupun produksinya kini tak begi­tu banyak lagi.

Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Jawa Barat Iyus Supriatna menyebutkan, pangsa pasar kopi ro­busta Jawa Barat cukup bagus. Para pemesan kopi robusta Jawa Barat kembali banyak karena memiliki rasa dan aroma yang unik.

Disebutkan, para pengusaha kafe dan para peracik kopi sebenarnya banyak yang menggunakan kopi ro­busta Jawa Barat. Ini digunakan se­bagai campuran/6/endmg dengan kopi arabika Java Preanger alias kopi arabika Priangan. Disebutkan, luas tanaman kopi robusta di Jawa Barat sekitar 15.000 hektare dengan pro­duksi rata-rata 12.000 ton green-bean/tahun.

Diakui, memang ada juga beberapa peracik/pacfcer/produsen kopi Jawa Barat yang menggunakan kopi robus­ta asal Lampung. “Namun, jika pro­duksi dari Jawa Barat sedang tersedia lebih menjadi pilihan, alasannya ra­sanya lebih nendang, itu kata para kawula muda pencinta kopi,” ujar Iyus.

Pada sisi lain, katanya, belakangan ini juga belum terdengar lagi ada pengusaha kopi Jawa Barat yang im­por langsung dari Vietnam. Walaupun harga kopi robusta Viet­nam umumnya lebih murah, tetapi pilihan lebih ditujukan kepada kopi robusta Jawa Barat

Sementara itu, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan Ban­dung Selatan, menurut Kaur Humas Kusnadi, juga sedang membangun kembali kebun kopi robusta. Polanya sama dengan jenis arabika, yaitu melalui pengelolaan hutan bersama masyarakat (Kodar Solihat)***

Tanggal : 12 Juli 2016, hal – 9
Sumber : Pikiran Rakyat