Pelestari Hutan Muria Peroleh Kalpataru

SUARAMERDEKA.COM, KUDUS (19/7/2016) | Mochammad Sokib Garno Sunarno mendapat penghargaan Kalpataru dari pemerintah pusat kategori pembina lingkungan. Presiden Jokowi direncanakan akan menyerahkan penghargaan tersebut pada acara yang akan digelar di Istana Siak, Riau 22 Juli.

Menurut Garno Sunarno yang juga dikenal sebagai juru kunci Makam dan Masjid Sunan Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe, lereng pegunungan Muria, pelestarian hutan Muria diharapkan dapat menjadi penekanan dan prioritas semua pihak.

Hal itu terkait fungsi kawasan tersebut yang menjadi sumber air baku bagi wilayah di bawahnya. ”Hutan Muria berada di tiga kabupaten yakni Kudus, Pati dan Jepara,” katanya.

Pihaknya berharap tiga petinggi kabupaten dapat duduk dan membicarakan soal Muria secara komprehensif. Pasalnya, kondisi yang terjadi di pegunungan tersebut akan secara langsung dan tidak langsung mengimbas ke tiga kabupaten itu.

”Kondisi hutan di gunung Muria yang dapat mempengaruhi sederet kejadian alam di lingkungan bawah (lereng pegunungan- red), juga menjadi pertimbangan utama lainnya,” katanya. Dengan kondisi seperti itu, pelestarian hutan Muria menjadi sebuah keharusan dan perlu didukung semua komponen.

Garno yang juga Ketua Paguyuban Masyarakat Pelestari Hutan (PMPH) Muria, menyebut kelompoknya sudah merintis peletarian kawasan hutan sejak tahun 1998. ”Hingga saat ini, kami mempunyai 45 anggota dari berbagai kalangan,” jelasnya.

Pantau

Kegiatan yang dilakukan, secara periodik melakukan pantauan terhadap kawasan hutan. Bila ditemukan kerusakan atau pelaku kerusakan hutan, pihaknya akan menyikapinya sesuai aturan main yang ada.

Paskakebakaran hutan beberapa waktu yang lalu, pihaknya juga mendaki di kawasan terjal untuk menanam bibit pohon. ”Sedangkan untuk pelaku perusakan hutan, hingga saat sekarang tercatat satu orang yang tertangkap dan diserahkan ke Perhutani,” ujarnya.

Ditambahkannya, pihaknya hingga saat masih terus melakukan berbagai antisipasi dan upaya untuk melestarikan hutan Muria. Hal serupa juga dilakukan oleh pihak lain yang juga peduli terhadap hutan Muria. ”Yang jelas, perlu dilakukan semua pihak,” jelasnya.

Selain faktor alam, hal yang perlu diwaspadai terkait ancaman kelestarian hutan Muria yakni perambahan hutan. Perambahan yang dilakukan dimaksudkan untuk alih fungsi lahan.

Pengertiannya, pohon primer yang ada ditebang dan selanjutkan lahan yang ada digunakan untuk bercocok tanam. Padahal, hal itu dilakukan di kawasan lindung.

Salah seorang yang dimintai testimoni oleh tim penilai Kalpataru, Mochammad Widjanarko yang juga Direktur Muria Research Center (MRC) Indonesia, menyatakan apa yang dilakukan Garno patut diapresiasi.

Langkah pelestarian dan antisipasi kerusakan hutan perlu terus dilanjutkan. ”Kawasan hutan pegunungan Muria sangat penting bagi wilayah di sekitarnya,” ujarnya. (H8-24).

Sumber : suaramerdeka.com
Tanggal : 19 Juli 2016
Penulis : (H8-24)