Teknologi Bajos untuk Tingkatkan Getah Pinus

KORAN JAKARTA, JAKARTA (28/7/2016) | Ketidakseimbangan antara produksi getah pinus dan yang dibutuhkan industri menuntut adanya terobosan cerdas untuk mengatasinya. Dunia industri sangat membutuhkan getah pinus, yang bisa diolah menjadi bahan untuk aneka produk, antara lain gondorukem, terpenuhi, pewangi lantai, dan parfum.

Kekurangan pasokan harus cepat dipenuhi. Yang terjadi selama ini, untuk memacu produksi getah pinus, para petani sering melakukan penyadapan intensif, yaitu penyadapan di area pohon yang luas agar dapat memenuhi target hasil sadapan.

Tentu saja hal itu dapat merusak pohon karena ruang sadapnya habis, menjadi minimum hasilnya, bahkan pohon tersebut menjadi kering dan kemudian mati Jika itu yang terjadi, tujuan awal tidak tercapai, malah makin membuat produksi turun.

Sedangkan cara konvensional dengan menanam pinus dari biji yang ukurannya kecil tidak mudah. Akan terjadi banyak gangguan, bisa dari cuaca, gulma, dan binatang yang ujungnya adalah kegagalan.

Penanaman dengan cara ini, hasilnya hanya sedikit tanaman yang bisa hidup hingga bisa disadap.

Melihat kondisi tersebut, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Perhutani, Dr Budi Widodo membuat terobosan cerdas dengan melahirkan teknologi bajos. Bajos adalah nama temuan. Istilah bajos tersebut berasal dari nama saya dan para pekerja yang rajin membantu penelitian saya. Budi (ADM), Ahmad (Asper), Bejo (mantri), Samo (mandor),” kata Budi kepada Koran Jakarta. baru-baru ini.

Caranya, tambah Budi, bagaimana membuat tanaman pinus dapat menghasilkan lebih banyak getah atau di jajaran Perhutani dikenal dengan istilah bocor getah. Untuk mengatasi tanaman bisa tumbuh hingga siap disadap maka ya menanam bibit dalam ukuran yang lebih tinggi sehingga aman dari aneka ancaman hama maupun cuaca.

Menurut Budi, langkah awal adalah melakukan penelitian dengan mencari dulu induk pohon yang sudah jelas merupakan pohon yang getahnya banyak. Dicari oleh para mandordari informasi para penyadap. Akhirnya ditemukan. Kemudian dilakukan uji coba pengembangan. Mengkloning atau menggandakan.

Mengelupas Kulit

Setelah melakukan berbagai cara, antara lain disetek langsung, dicangkok. ditanam bijinya, dan lain-lain, akhirnya ditemukan cara yaitu mengelupas kulit bagian luar, di bagian tanaman yang selalu tumbuh ruas-ruasnya. Pohon itu mekanismenya supply dari bawah tetap naik dan makanan dari atas yang turun dihentikan, dikelupas, dilukai. Dari luka itu akan timbul kal us, timbul semacam jendolan yang berpotensi menjadi akar.

Pengelupasan itu dilakukan tidak bisa di sembarang tempat Kalau cangkok bisa HilahiVan di mana saja, tetapi kalau teknik bajos ini harus riiiainiVan di dekat percaban-gan atau kalau tebu itu di ruas yang ada matanya. Dan tidak menggunakan pisau, tetapi dengan kuku tangan.

“Ini sedang terus diteliti penyebabnya, kenapa dengan pisau tidak bisa tumbuh kalus, dan terus dicari solusinya, ladi dalam posisinya di atas pohon.tumbuh kalus, kemudian baru dipotong dan ditanam,” tandan alumni Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada ini.

Ada syaratnya untuk membuat bibit bajos. Pohon induk adalah pohon pinus yang berusia muda, paling bagus umur tiga tahun. Pada umur ini bibit bajos yang dibuat persentase hidupnya tinggi, saat ditanam Tentu saja pohon induk yang dibuat bajos dari keturunan bocor getah. Di sini akan timbul pertanyaan, bagaimana mengetahui bocor getah atau tidak. Budi menjelaskan, ya langsung dari induk yang memang sudah terbukti bocor getah.

Ada juga teknologi yang mirip dengan bajos, yaitu bacuk. Bacuk adalah bajos yang dilakukan di paling pucuk. ladi kalau bajos itu dapat dilakukan di beberapa percabangan atau ruas, tetapi kalau bacuk hanya di percabangan atau ruas paling pucuk. Jadi dapat dilihat dari penampakannya bajos itu lebih besar dari bacuk.

Menurut Budi, kalau yang dijadikan induk itu belum besar dan belum pernah disadap maka dapat diketahui dengan melihat kehijauan daunnya, ketebalan daunnya dan kulitnya mudah dikelupas. Ketika dike-lupas langsung keluar banyak getah. Pohon induk itu setelah dua tahun dapat dibajos dan dibacuk. Turunannya jika sudah dua atau tiga tahun, sudah dapat dibajos dan dibacuk.

Memperbanyak bibit pinus dengan cara bajos dan bacuk itu efisien untuk mengangkut-nya-Dari sebongkok saja bisa dibawa banyak bibit (plances). Ngelupasnya juga nggak usah naik-naik. karena ditarik cabangnya atau diayungke bisa. Bikinnya setek gampang, tinggal ngetupas saja, tidak serumit kalau dari biji Jadi pembuatan lebih hemat, mengangkutnya lebih hemat, dan lebih aman karena saat ditanam, bibitnya sudah agak tinggi.

Atas keberhasilan ini. sekarang direksi Perhutani mewajibkan setiap Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) menanam pinus bocor getah. Para administratur yang masih terkesan kurang tertarik pada penanaman pohon pinus bocor getah, diminta mempelajari dan melihal keadaan di lapangan masing-masing mengenai kelayakannya. Dengan semua itu, revolusi produksi agar peningkatan penjualan getah pinus dapat segera diwujudkan.

SM/N-3

Tanggal : 28 Juli 2016
Sumber : Koran Jakarta, hal – 2