KPH Bondowoso Terus Dongkrak Produksi Kopi Wilayah Jatim

SUARAPUBLIKNEWS.NET, BONDOWOSO (11/10/2016) | Keberadaan hutan di suatu wilayah memang sangat membawa manfaat yang cukup tinggi bagi masa depan wilayah itu sendiri. Namun faktanya, tidak banyak masyarakat yang mengetahui soal betapa pentingnya mempertahankan keberadaan hutan.

Dampaknya, masyarakat masih mengabaikan akibat yang ditimbulkan dari perilaku penebangan liar, pembakaran untuk kebutuhan lahan dan kejahatan perusakan hutan lainnya.

Oleh karenanya, Perhutani Divisi Regional Jatim terus melakukan sosialisasi. Dan kali ini menggandeng Komunitas Jurnalis Pecinta Lingkungan (KJPL) untuk menggelar acara “Journalist Trip to Forest” yang diselenggarakan di wilayah KPH Bondowoso.

Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan atau Administratur (ADM) Perhutani Bondowoso, Adi Winarno mengatakan bahwa tidak semua kebakaran hutan itu berdampak negatif. Pasalnya, akibat dan dampak kebakaran justru bisa membantu kesuburan tanaman itu sendiri dan sekitarnya.

“Kecuali hutan pinus, karena jika terjadi kebakaran memang akan menghancurkan semuanya, termasuk humus di sekitarnya,” ucapnya, Selasa (11/10/2016)

Adi juga mengatakan bahwa KPH Perhutani Bondowoso sedang mengembangkan tanaman kopi, karena jenisnya arabica dan merupakan salah satu komoditi unggulan di wilayah Jatim. Perannya, Perhutani memberikan fasilitas lahan kepada petani kopi dengan sistem sharing (pembagian keutungan)

Ditambahkan Abdul Gani Kahumas Perhutani Bondowoso, jika nilai sharingnya adalah 70% untuk petani dan 30% untuk Perhutani. Hasil yang kembali ke Perhutani digunakan untuk pembiayaan reboisasi, pembayaran pajak serta kewajiban pelestarian hutan lainnya.

“Terutama soal penyediaan lahan, karena produksi kopi membutuhkan lahan yang cukup luas, namun tetap mempertahankan fungsi kawasan hutan dan tidak merusak bentang alam,” tambahnya.

Hal senada juga dikatakan Mohammad Ajib Wakil ADM Bondowoso, Perhutani bekerja berdasarkan PP 72 tahun 2010 tentang kewenangan Perhutani, dan pihaknya berharap kepada para jurnalis untuk lebih mengenal fenomena hutan.

“Sehingga tidak hanya mengenal soal kebakaran hutan, longsor atau banjir saja, karena sebenarnya banyak yang bisa dipelajari,” tandasnya.

 

Tanggal : 11 Oktober 2016

Sumber : suarapubliknews.net