Hutan Bambu Munculkan Ekonomi Kreatif

pkrnrkytPIKIRAN RAKYAT (7/11/2016) | Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Qurrota Ayun, Kecamatan Raja-mandala, Kabupaten Bandung Barat, berharap rencana pengembangan kawasan hutan produksi di Cipatat, melalui pengembangan populasi komoditas dan usaha kerajinan bambu dapat segera terwujud. Harapannya, masyarakat desa hutan setempat mampu lebih mendukung pemulihan kawasan hutan setempat, melalui pemberdayaan lingkungan dan ekonomi potensi bisnis komoditas bambu.

Sekretaris LMDH Qurrota Ayun, Yono Sutrisno, di Bandung, Minggu (6/11/2016) menyebutkan, pengembangan hutan bambu berikut usaha kecil kerajinan berbahan bambu, dinilai sangat potensial untuk optimalisasi kawasan hutan produksi di petak 77 yang lokasinya di Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Rajamandala, Resor Cipatat, KPH Bandung Selatan Perum Perhutani.

Populasi hutan bambu mampu memulihkan sejumlah titik untuk fungsi hidrolo-gis dan penahan longsor, memunculkan iklim mikro lebih baik, serta bagi pemberdayaan masyarakat pun bermanfaat Paling tidak, mengubah orientasi usaha masyarakat desa hutan setempat menjadi usaha ekonomi kreatif berbasis pelestarian lingkungan hidup.

“Kami menyambut antusias rencana Perum Perhutani Divre Jawa Barat-Banten yang bekerja sama dengan mitra dari sebuah koperasi di lingkungan Institut Teknologi Bandung, untuk pengembangan hutan bambu di Hutan Cipatat. Memang untuk menikmati hasilnya dari komoditas bambu paling cepat empat tahun lagi, tetapi kami melihat komoditas bambu sangat berperan memulihkan lingkungan hutan sambil memberdayakan pemberdayaan masyarakat karena pasarnya potensial,” ujarnya.

Ia mencontohkan, jika pengembangan populasi hutan bambu sudah dilakukan, akan mampu mengurangi populasi tanaman pisang. Secara bisnis dan pendapatan pun dinilai lebih menjanjikan, karena penebangan bambu dilakukan selektif yang ditunjang usaha kerajinan bambu dapat mendatangkan penghasilan sebulan sekali, dibandingkan pisang yang rata-rata enam bulan sekali.

Pemanfaatan mangrove

Sementara itu, Perum Perhutani bekerja sama dengan 11 kelompok LMDH sepakat mengembangkan hutan mangrove di pantai utara dan selatan Jawa. Pola diterapkan yaitu sylvofishery yaitu kombinasi mangrove dengan pembudidayaan ikan atau lainnya.

Siaran pers Perhutani di Jakarta, dilansir Antara, Minggu (6/11/2016) menyebutkan, 11 LMDH tersebut adalah Wana Sejati, Rimba Raharja, Ciptakarya Bakti, Mandiri, Karya Wanabakti, Wana Pantura, Kertaraharja, Windujaya, Winduasih, Wahanabak-ti. Wanabakti Lestari, Wana Lestari, Wana Sejati, Jaya Sakti, Greenting. Pengembangan pemanfaatan hutan mangrove tersebut ditandai dengan kunjungan kerja Dirut Perhutani Denaldy M Mauna ke RPH Ciasem, Bagian KPH Ciasem, KPH Purwakarta.

Kunjungan itu untuk memetakan potensi dan persoalan di hutan mangrove, termasuk pembudidayaan ikan empang parit, sistem kelembagaan dan aturan yang ada. Tujuannya, agar bisa dilakukan pengembangan sylvofishery dengan baik, serta fungsi lindung hutan mangrove bisa lebih dioptimalkan.

Sarjono, perwakilan LMDH Wana Sejati berharap hutan mangrove meningkatkan pendapatan mereka melalui usaha sylvofishery empang parit atau untuk wisata pantai.

 

Sumber : Pikiran Rakyat, hal. 18

Tanggal : 7 November 2016