Pemuda Purbalingga Sulap Hutan Jadi Wisata Alam

salah-satu-pengunjung-yang-sedang-berfoto-foto-di-loka-wisata-kampung-kurcacix8scxTIMESINDONESIA.CO.ID (28/11/2016) | Sejumlah pemuda yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Jawa Tengah, berhasil menginovasi hutan pohon Damar tanpa harus merusak menjadi wisata alam yang terkenal dengan nama Kampung Kurcaci.

Salah satu pengurus LMDH sekaligus Ketua Pengelola Wisata Alam Kampung Kurcaci, Hendi menjelaskan, area wisata alam yang memiliki luas sekitar 3,5 hektar, milik Perhutani Banyumas Timur ini, telah dirintis satu tahun, dan resmi dibuka pada bulan September 2016 lalu.

“Melihat tempatnya yang menarik, pemandangannya asri, berhawa sejuk dan lokasinya dekat pemukiman warga, serta sering pula dipakai untuk wahana bermain oleh warga terutama anak-anak. Maka munculah ide untuk mengadakan kegiatan belajar di luar ruangan atau kami menyebutnya ‘sinau neng alas’, sebagai kegiatan yang positiv dan bermanfaat bagi masyarakat,” ucap Hendi, Senin (28/11/2016).

Menurut Hendi, seiring berjalannya waktu, ternyata aktivitas di hutan pohon damar yang besar-besar itu makin ramai oleh anak-anak yang belajar di alam, mulai dari Pramuka sampai para pecinta alam.

Sejak itu, pihaknya mulai mencoba mempublikasikan di media sosial, sekalipun belum di kelola dengan maksimal.

“Setelah kami berembug dengan teman-teman dan mensosialisasikan rencana dan konsep pengembangan tempat tersebut, ternyata memiliki semangat dan niat yang sama untuk mengembangkan wisata alam. Maka, selanjutnya kami terus berkoordinasi dan berkonsultasi dengan pihak Perhutani,” terang Hendi.

Setelah itu, kami bersama-sama dengan para remaja dan pemuda Desa Serang, sepakat membuat branding yang unik dan menarik yaitu Wisata Alam Kampung Kurcaci, karena di lokasi wisata alam itu, pohon damarnya besar-besar, dan kalau kita masuk ke area itu, seolah-olah kita menjadi kecil, seperti kurcaci.

“Di Kampung Kurcaci sementara baru ada dua rumah kurcaci, empat rumah pohon, high crup atau jembatan titian dan hammock susun, Camping ground, perpustakaan kurcaci, area permainan tradisional, seperti, congklak, egrang dan sunda manda, serta ayunan raksasa atau giant swing,” kata Hendi.

Kedepan, direncanakan akan dibuat lagi rumah kurcaci agar tampak seperti layaknya kampung kurcaci, dan kita-pun bisa masuk rumah yang dilengkapi dengan segala perabotanya. Selain itu juga pengembangan rumah pohon dan area parker.

Sementara itu, loka wisata alam yang buka mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, dikelola oleh delapan belas orang yang terdiri dari para remaja dan pemuda, dengan tiket masuk Rp 5 ribu.

Adapun pengunjung, untuk hari biasa mencapai 100 hingga 150 orang, dan untuk hari Sabtu dan Minggu, pengunjung bisa mencapai 700 sampai 1500 orang.

Selain itu, di area tersebut juga tersedia minuman dan makanan khas, yakni wedang wijun dan tahu cocol, dan digelar pula acara edukatif, pada setiap dua minggu sekali, seperti mendongeng, menanam pohon dan lain lain.

“Dan untuk memaksimalkan Perpustakaan Kampung Kurcaci, kami selaku pengelola menerima sumbangan dari masyarakat berupa buku-buku umum, terutama buku bagi anak-anak,” kata Hendi.(*)

Sementara itu, sejumlah pengunjung yang ditemui Purbalingga TIMES, umumnya merasa penasaran dengan rumah-rumah kurcaci dan ingin mencari suasana yang baru, terutama pohon-pohon yang besar dan suasana pegunungan yang sejuk.

“Saya datang karena penasaran saja. Ternyata memang luar biasa,” aku Wendi dan Selfi, seorang pengunjung dari Pemalang. Hal yang sama juga diakui pengunjung dari Kota Purwokerto, Yuyun dan Testi.(*)

 

Sumber : timesindonesia.co.id

Tanggal : 28 November 2016