Penjualan Benih Jagung Mosanto di Musim Hujan Capai 368 Persen

BERITAJATIM.COM (15/3/2017) | Kementerian Pertanian (Kementan) bersikukuh menetapkan swasembada jagung mampu diraih pada 2017 ini juga. Sejumlah kebijakan telah digulirkan sejak satu tahun lalu melalui kenaikkan produksi hasil tanam, pengendalian impor jagung hingga penetapan batas bawah dan batas atas harga jagung.

Berbagai instrumen kebijakan ini merangsang petani berduyun-duyun menanam jagung.Tak ayal, permintaan benih hibrida jagung di Tanah Air meningkat signifikan harus dipenuhi pasokannya oleh industri benih di Tanah Air.

Monsanto menetapkan ‘tahun fiskal’ mengacu dua musim. Paruh enam bulan pertama yakni musim hujan (September- Februari) dan musim kemarau (Maret- Agustus).

“Selama musim hujan, volume penjualan benih  jagung hibrida meningkat hingga 368 persen atau naik 2.944 ton. Angkanya (penjualan red) fantastis,”ujar Presiden Director PT Monsanto Indonesia Ganesh Pamugar Satyagraha disela acara Responsible Business Forum on Food and Agriculture di Jakarta, Selasa (14/3/2017)

Tahun sebelumnya perusahaan berhasil membubuhkan penjualan benih jagung hibrida sebesar 4.000 -5.000 ton.

Monsanto merilis benih jagung hibrida dengan merk DK 959 dan DK 771 (DEKALB). Potensi produksi kedua varietas benih jagung hibrida ini dapat diatas 10 ton per hektare (ha), lebih tinggi dari rerata produksi jagung nasional sebesar 5,2 ton/ha.

Adapun khusus benih jagung DK 771 ini memiliki keunggulan lebih tahan serangan penyakit bulai.
Ganesh mengakui besarnya penjualan benih jagung hibrida pada musim penghujan ini bukanlah hal yang lazim.

Biasanya, serapan pasar tidak lebih dari 20 % atau berkisar 800 ton-1.000 ton.”Kontribusi penjualan terbesar jatuh pada musim kering (80 persen), usai memanen padi,petani berganti menanam jagung,”kata Ganesh.

Pada musim kering, perusahaan sudah memetakan konsentrasi penjualan benih jagung hibrida merupakan petani berlahan sawah irigasi teknis.

Profil petani memiliki teknik budidaya mumpuni sehingga upaya peningkatan optimalisasi hasil tanam lebih terukur.

Namun tidak kali ini, penjualan benih jagung hibrida terbesar justru terserap di musim hujan.
Penetrasi penjualan terbesar terserap petani tradisional  di lahan khusus/ sub optimal seperti lahan tegalan, kawasan integrasi tanaman pangan-sawit dan areal tanaman pangan yang dikerjasamakan milik PT Perhutani dan Inhutani.Ganesh mengklaim perusahaan telah melakukan edukasi kepada kelompok tani mengenai teknik budidaya tanam, pemupukan hingga paska panen sejak dua tahun terakhir.

“Peningkatan penjualan di musim hujan merubah komposisi, kontribusinya  dari 20 persen naik menjadi 50-60 persen,”terang Ganesh

Produksi benih jagung monsanto tahun 2016 mendekati 5.000 ton. Namun, seiring meningkatnya permintaan pasar diproyeksikan akan habis pada Juni-Juli 2017.

Mengantisipasi hal ini, Monsanto mulai melakukan penanaman kembali guna mengisi kebutuhan Agustus-September 2017,kendati memiliki tantangan intesitas curah hujan dibeberapa wilayah yang masih tinggi.Kendati kondisi tersebut menyebabkan penaikkan biaya produksi dan beresiko potensi penurunan produksi benih jagung hingga 30 %.

Monsanto menetapkan penaikkan produksi benih jagung hibrida ‘tahun fiskal ‘ 2017 antara 6.000-8.000 ton .

Adapun , petani baru memperoleh benih sebar jagung ditahun berikutnya.Sementara kapasitas pabrik di Mojokerto, Jawa Timur mencapai 13.600 ton, diantara minimal 20 diarahkan ke pasar ekspor.

Sebagai informasi, Kementan menargetkan penaikkan progesif produksi jagung tahun 2017 hingga 30,5 juta ton, dari tahun sebelumnya sebesar 23,5 juta ton.

Kementan mengantisipasi hal ini dengan meningkatkan fasilitas sarana produksi jagung berupa benih, pupuk dan pestisida sebesar 3 juta ha, diantara 1 juta ha merupakan lahan sub optimal.

Peningkatan produktivitas hasil tanam diperoleh di lahan baru yang sebelumnya tidak ditanam jagung.

Pengendalian impor jagung untuk kebutuhan pakan ternak tahun 2016 lalu tinggal 884.679 ton dari tahun sebelumnya sebesar 3,07 juta ton. Pemerintah juga menelurkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 23 Tahun 2016 yang menetapkan harga referensi tujuh komoditas pangan strategis ,termasuk jagung diantaranya.

Permendag mematok harga batas bawah berdasarkan kadar air Rp 3.150/kg dengan kadar air 15 %.Adapun batas terbawah Rp 2.500/kg (35%).

Sementara harga batas atas jagung hanya ditentukan untuk hasil panen jagung berkadar air 15 % sebesar Rp 3.6350 sampai Rp 3.750/kg.

“Meski sekedar harga referensi, sekarang petani sudah pintar, bagaimana untuk menghasilkan produk jagung yang baik. Paling tidak ketika panen raya datang ,sejatuh-jatunya harga jagung dihargai Rp 2.800 per kilogram. Tidak seperti dua tahun sebelumnya. Kalau saya berkunjung ke Sumbawa,Nusa Tenggara Timur harga jagung hanya dihargai Rp 1.500-Rp 1.800 per kilogram,kan kasihan sekali ”kata Ganesh.[ted]

Sumber: beritajatim.com
Tanggal: 15 Maret 2017