Perhutani Catat Laba Rp 121 miliar Q1-2017 Pasca Rugi Di 2016

JAKARTA, PERHUTANI (21/5/2017) | Perum Perhutani mencatat laba perusahaan sebesar Rp 121 Milyar pada kuartal satu (Q1) 2017 dan memperlihatkan kinerja positif atau meningkat 138 persen dibanding 2016 Year of Year (YoY) yang merugi Rp 321 miliar.

Laporan keuangan perusahaan menunjukkan sampai akhir Maret 2016, Perhutani mengalami kerugian Rp 321 Miliar ditambah masih banyak kewajiban yang belum terpenuhi seperti kewajiban pajak, tambahan dana pensiun, peningkatan status karyawan.

Menurut Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy M Mauna, kinerja keuangan yang positif pada Q1 2017 tersebut karena upaya transformasi bisnis yang dilakukan, ditopang dengan penurunan biaya pokok penjualan dan biaya usaha. Meskipun dari sisi pendapatan juga belum sesuai harapan karena lesunya pasar dunia untuk produk kayu dan gondorukem sebagai andalan bagi Perhutani.

Perum Perhutani juga dinilai berhasil melakukan transformasi bisnis ditandai penghargaan The Most Promosing Company in Marketing 3.0 dalam ajang Marketeers Awards 2017 yang diterima Perum Perhutani beberapa waktu lalu di Jakarta (3/5). Penghargaan ini mengapresiasi kinerja Perhutani dari sisi pemasaran mulai dari tingkat strategic, taktik, hingga ke implementasi branding campaign, dimana titik berat penilaian termasuk inovasi yang dilakukan di era digitalisasi. Tantangan di Perhutani, menjual kayu dengan variasi tinggi diyakini hanya bisa dijual secara konvensional. Penjualan secara online selama ini dipersepsikan hanya untuk produk-produk yang variasinya tidak tinggi. Tetapi melalui proses ujicoba dan mekanisme ketat, Perhutani bisa mewujudkan penjualan kayu secara online melalui online Toko Perhutani. Melalui mekanisme online ini transaksi jual beli kayu menjadi transparan.

Denaldy menyatakan bahwa keberhasilan itu adalah bagian dari rangkaian transformasi bisnis yang tengah dilakukan di perusahaan pelat merah tersebut, sejak dirinya mendapat mandat sebagai Direktur Utama Perum Perhutani pada akhir bulan Agustus 2016.

Pada saat dirinya masuk ke Perhutani, kondisi perusahaan beberapa tahun terakhir menunjukan kinerja yang terus memburuk dari sisi kinerja keuangan, operasional serta kualitas sumberdaya hutannya. Data statistik lima tahun terakhir (2010–2015) menggambarkan secara objektif kondisi tersebut dan tahun 2016 merupakan tahun tersulit, yang mengharuskan perusahaan bertransformasi dengan cepat bila ingin tetap exist. Ketika perusahaan tidak sehat, menyelesaikan masalahnya tidak bisa dengan pendekatan biasa dan parsial tetapi harus dilihat pula bagaimana struktur organisasi, operasional, keuangan dan budaya kerja yang ada di perusahaan selama ini.

Transformasi Perhutani

Keputusan transformasi bisnis di Perum Perhutani ia tetapkan, dengan melakukan lima tahapan transformasi yaitu (1) Analisa Situasi/Situation Analysis (2) Manajemen Perubahan/Management Change, (3) Langkah Darurat/Emergency Actions (4) Restrukturisasi Bisnis/Business Restructuring, dan terakhir (5) Terus mendorong tercapainya kondisi normal ke pertumbuhan, fokus pada empat aspek utama finance, operation, organization dan culture people.

Selama satu bulan pertama memimpin perusahaan, Denaldy menjalankan transformasi tahap pertama yaitu melakukan asesmen singkat kinerja perusahaan dengan bertemu berbagai stakeholders internal yaitu seluruh perwakilan dari Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) unit manajemen terkecil di Perhutani dan stakeholder eksternal termasuk dengan para mitra kerja. Denaldy memutuskan untuk menempuh pembenahan komprehensif guna menghindari merosotnya kinerja perusahaan.

Perhutani harus berubah atau punah. Transformasi bisnis tahap ke dua, dilakukan minimal untuk bertahan hidup. “Must Now Change To Survive” yaitu perubahan yang memungkinkan perusahaan bisa bernafas normal. Indikasi seperti profitabilitas positif, pencapaian pendapatan sesuai rencana, sistem operasional perusahaan efisien dan efektif serta produktivitas karyawan yang tinggi adalah capaian yang mutlak harus bisa diraih oleh manajemen dan seluruh karyawan perusahaan bersama-sama.

Transformasi bisnis tahap ke tiga, fokus utama pada tiga bulan sampai akhir 2016 adalah menyelamatkan arus kas perusahaan, mendorong peningkatan penjualan produk terutama menghabiskan persediaan yang tertumpuk tiga kali dari normalnya, efisiensi biaya dan efektifitas proses, reorganisasi struktur perusahaan dengan putting the right people on the right place, konsolidasi aset dan sumberdaya yang ada, asesmen untuk restrukturisasi total dan melakukan change process melalui change agents. Demikian juga sinergi dengan anak-anak perusahaan akan diperkuat.

Tidak itu saja, Denaldy juga menerapkan program Cost Reduction Program (CRP), peningkatan penjualan dan menciptakan quick wins melalui mekanisme Problem Identification Correctives Action (PICA) dalam system Plan Do Check Action (PDCA). Semua dimonitor dan direview setiap minggu.

Berhasil drastis tentu saja belum, tetapi ada efisiensi berupa pengetatan biaya perjalanan dinas, biaya umum, dan disiplin pemakaian anggaran untuk aktivitas-aktivitas priority yang memungkinkan perusahaan terhindar dari kerugian secara terus menerus terutama pada periode tersebut.

Bahkan awal 2017, Denaldy mengajak seluruh manajemen dan karyawan untuk menjalankan komitmen besar bekerja “Back To Basic: Disciplined Execution, Efficient Thought Process, And Accountability”.

Disciplined Execution. Disiplin, kepatuhan dan ketaatan anggota organisasi perusahaan pada berbagai level jabatan dalam menjalankan keputusan manajemen. Kedisiplinan ini adalah tolok ukur kinerja yang penekanannya disiplin melakukan eksekusi kegiatan atau rencana kerja secara professional dan tuntas, tidak menunda-nunda pekerjaan serta bekerja dengan orientasi TARGET yang wajib diselesaikan sesuai dengan tata waktu yang telah ditetapkan.

Efficient Thought Process. Sebuah cara berpikir manajemen dan seluruh karyawan yang berlandaskan pada efisiensi penggunaan sumberdaya dalam bekerja, seperti sumberdaya

manusia, keuangan, sarana dan prasarana. Efisien merupakan nilai luhur dan harus menjadi budaya yang melekat bagi setiap karyawan.

Accountability. Setiap keputusan dan tindakan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan dan compliance terhadap aturan yang ada. Pelanggaran terhadap aturan yang sudah ditetapkan akan mendapatkan sanksi yang tegas, sesuai dengan peraturan disiplin perusahaan. Disamping itu, pencapaian terhadap target yang telah ditetapkan manajemen perusahaan juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari akuntabilitas setiap pejabat.

Restrukturisasi Organisasi

Pembenahan selanjutnya restrukturisasi organisasi perusahaan dengan the right people on the right place dan melakukan asesmen sumberdaya manusia. Perubahan struktur organisasi diarahkan untuk menguatkan fungsi kemandirian finansial maupun kelestarian sumberdaya hutan, meningkatkan efisiensi dan efektivitas organisasi, menguatkan lini usaha non-organik, menguatkan kapasitas organisasi melalui pengembangan usaha dan sinergi bisnis dengan anak perusahaan, serta memperkuat hubungan dengan stakeholders.

Kekuatan struktur organisasi baru Perhutani sekarang akan lebih responsive dalam kecepatan dan ketepatan pengambilan keputusan atas dinamika yang terjadi; kedua innovative dalam pengembangan nilai tambah produk kepada stakeholders; ketiga market centric pada kebutuhan pasar domestik maupun internasional; keempat eco concern business dalam memenuhi tuntutan pelestarian sumberdaya hayati untuk sasaran finansial sesuai amanat stakeholders; dan kelima cost efficient lintas fungsional dalam menjaga efisiensi perusahaan.

Jumlah Dewan Direksi Perum Perhutani berkurang dari tujuh formasi menjadi lima formasi. Formasi jabatan dibawahnya berkurang sebanyak 633 jabatan yang fokus kepada teamwork dan collaboration apabila dibandingkan formasi struktur organisasi sebelumnya. Struktur Organisasi baru dibangun sebagai upaya “Simplify With Innovation” untuk tujuan peningkatan quality, penurunan cost, dan peningkatan speed kerja. Perubahan luar biasa ini membuat organisasi semakin efektif.

Restrukturisasi Bisnis

Target jangka pendek transformasi, perusahaan dapat tumbuh secara normal ditandai dengan kemampuan pemenuhan kewajiban perusahaan dan peningkatan penjualan. Diharapkan Perhutani dapat tumbuh secara normal pada akhir 2018.
Saat ini Perhutani memasuki tahap ke empat transformasi yaitu restrukturisasi bisnis. Langkah ini dibagi dalam 2 (dua) kelompok besar yaitu revitalisasi existing business dan new business development. Untuk existing business yang dipertahankan akan dilakukan rebranding ecotourism, sedangkan bisnis yang tidak menguntungkan dikaji ulang, seperti usaha air minum dalam kemasan dan industri kayu.

Perhutani juga akan mengembangkan wisata WORLD CLASS ECOPARK bekerjasama dengan investor yang telah survei dan memberikan kepastiannya untuk bekerjasama di beberapa destinasi wisata alam salah satunya di kawasan Sentul Bogor seluas 600 Ha.

Selain itu, Perhutani akan membangun bisnis biomass karena prospek energi terbarukan ini sangat menjanjikan dan ramah lingkungan. Peluang kebutuhan energi terbarukan menggunakan woodpellet di dunia pertumbuhannya sebesar 2,7 juta ton per tahun (2010-2025). Kebutuhan woodpellet Korea Selatan sekarang banyak dipasok oleh Vietnam, sedangkan rata-rata ekspor Indonesia ke Korea Selatan baru mencapai 70 ribu ton per tahun.

Untuk itu saat ini Perhutani bekerjasama dengan Korea Western Power (KWP) membangun Power Plant berbasis biomassa untuk Pabrik Sagu Perum Perhutani, Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat. Kerjasama tersebut memungkinkan Perhutani Group mengembangkan tanaman biomass seluas 200 ribu Ha yang akan menghasilkan 3.2 juta MT woodchips. Nilai woodchips ini bisa untuk membangun pembangkit setara 800 MW listrik pertahun atau 1.6 juta MT wood pellet, artinya energi biomass dapat menghemat penggunaan energi fosil (solar) senilai Rp 2 triliun per tahun.

Demikian juga Perhutani menindaklanjuti kerjasama penanaman tanaman fast growing species (FGS) jenis sengon, Acacia mangium, Gmelinia arborea seluas 7.424,19 Ha dengan perusahaan Korean Indonesia Forestry Centre (KIFC) anak usaha National Foresty Cooperatives Federation (NFCF) dan kerjasama dengan Korean Forestry Promotion Institute (KoFPI) untuk penanaman tanaman energi.

Beberapa investor Korea Selatan lainnya juga berminat untuk kerjasama Proyek Biomassa Perhutani Group. Pihak yang berminat dan telah membahasnya dengan Perhutani adalah Hyundai Corp, Aju Corp, GS EPS, UC Plant, dan Korbi. Selain itu Perhutani juga bertemu dengan investor dari Jepang yang tertarik membeli energi woodpellet dalam jumlah besar untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap energi nuklir.

Perhutanan Sosial Sinergi BUMN

Perhutani mengembangkan pula bisnis agroforestry melalui Perhutanan Sosial yang dicanangkan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Melalui program BUMN Hadir Untuk Negeri ini, beberapa BUMN bersinergi menindaklanjuti penerapan UU No. 1 Tahun 1999 pasal 68, jo PP No 3 Tahun 2008 pasal 83, 84, 99 dan Permen LHK No P.83 Tahun 2016 tentang program Perhutanan Sosial tersebut.

Perhutani mengembangkan pilot project Perhutanan Sosial di KPH Probolinggo Jawa Timur lebih kurang seluas 1.500 Ha, didukung oleh Himpunan Bank Negara (Himbara) dengan fasilitas pendanaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Negara Indonesia (Tbk) dengan bunga 9%. Hasil produksi dari lahan hutan tersebut nantinya akan diambil oleh Perhutani, Perum Bulog, dan PTPN XI sebagai offtaker.

Pilot project ini direncanakan pula di Garut, tepatnya di wilayah hutan Perhutani Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Pameungpeuk blok Pasir Salam I seluas 2.681.9 Ha dan Pasir Salam II seluas 3.970.4 Ha. Nantinya anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dapat melakukan kerjasama penanaman pola AJALE (albizia jagung kedelai).
Selain dua lokasi tersebut, Perhutani menyiapkan lahan untuk pilot project di wilayah Banten, Bandung Selatan, Bogor, Pekalongan Timur, dan Pemalang.

Komposisi pemanfaatan lahan hutan pilot project Perhutanan Sosial adalah 50% tanaman kehutanan (sengon) dan 50% tanaman pertanian (tebu 45%; jagung 5%, tergantung hasil kajian lanjutan). Pola tanam dengan sistem alley cropping/blok.

Manfaat yang akan didapat masyarakat penggarap dari Perhutanan Sosial adalah (1) kepastian mengenai lokasi lahan garapan dengan luasan mencapai skala ekonomis tertentu (2) akses sumber pendanaan KUR perbankan (3) kepastian pasar/serapan hasil produksi (4) pembinaan intensif dari Kementerian serta BUMN terkait (5) peluang mendapatkan subsidi saprotan dan area pengelolaan lahan yang lebih ekonomis.

Baru-baru ini Denaldy M Mauna bersama BUMN lainnya juga menandatangani kerjasama dengan beberapa koperasi masyarakat terkait Perhutanan Sosial di desa Tebing Siring, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (7/5), sesaat setelah Presiden RI Jokowi menyerahkan SK tentang pengelolaan perhutanan sosial kepada masyarakat setempat.

Dengan transformasi bisnis yang dilakukannya secara konsisten, Denaldy optimis Perhutani akan menuai laba lebih besar dan kondisi perusahaan akan cepat normal kembali menjadi perusahaan kehutanan dunia yang diperhitungkan stakeholdernya. (Kom-PHT/PR/2017)

Artikel Terkait: