Slamet Dan Inovasi Warna Ukiran Madura

Suara gergaji dan palu bukan hal yang asing bagi penduduk Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep. Dikenal sebagai desa ukir karena sebagian besar warganya berprofesi sebagai pengrajin kayu dan masyarakatnya percaya hal itu merupakan warisan turun temurun.

Ukiran pada kursi, meja, hiasan dinding yang berwarna-warni khas Sumenep tersebut salah satunya dihasilkan oleh Slamet Riyadi pemilik usaha kerajinan kayu di desa Karduluk.

Awalnya Slamet bekerja sebagai buruh pengrajin selama lima tahun dengan hasil karya yang terkenal unik dan rapi. Hingga tahun 1987 ia memberanian diri membuka usaha pembuatan furnitur dan handycraft dengan modal  Rp 40 juta dengan Rp 2 juta per bulan. Pesanan seringkali tidak dapat dipenuhi karena kurangnya modal untuk membeli bahan baku dari luar kota dan tenaga kerjanya kurang. Tantangan lain pesaing usaha ukiran sangat banyak di daerahnya.

Ditengah keputus-asaan itu, Slamet mendapat informasi bahwa Perhutani menyediakan pinjaman melalui Program  Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang saat itu bernama  Program Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK).  Pada tahun 1995 ia mendapat pinjaman modal Rp 5 juta melalui Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Madura dengan bunga yang relatif kecil. Dari modal tersebut Slamet semakin mengembangkan usaha dan termotivasi membuka lapangan kerja bagi warga Desa Karduluk.

Upayanya membuahkan hasil, tahun 2002 usahanya mendapat penghargaan Mitra Binaan Teladan dari Kemeterian Kehutanan. Tidak itu saja, inovasi-inovasi mulai dilakukan dan ia kerap mengikuti pameran tingkat nasional.

Atas upayanya yang gigih dan disiplin mengembalikan pinjaman, Perhutani memberikan kembali pinjaman PKBL  sebesar Rp 20 juta tahun 2003 dan Rp. 25 juta pada tahun 2011.  Omset penjualannya kini mencapai Rp 410 juta dengan keuntungan bersih rata-rata Rp 55 juta per tahun.

Slamet mengakui bahwa bantuan modal dari PKBL Perhutani sangat bermanfaat bagi usahanya.  Selain menuai keuntungan, ia juga bisa menciptakan lapangan kerja bagi warga di desanya sebagai pengrajin ukiran kayu.

” Usaha apa saja selalu ada pasang surutnya. Intinya harus banyak bersabar dan bertawakal, selain harus penuh inovasi dan selalu memastikan kualitas produk kita agar tidak kehilangan kepercayaan konsumen,” demikian Slamet menyampaikan resep suksesnya. (Kom-PHT/2017.9.2/Insp/Adl)